Baghdad — Jenazah Ali Khamenei Tiba di Irak, Prosesi Khidmat di Tengah Serangan AS
Peti mati yang diselimuti kain hitam bertuliskan ayat suci itu perlahan diturunkan dari pesawat kargo militer Iran di Bandara Internasional Baghdad. Ratusa
Peti mati yang diselimuti kain hitam bertuliskan ayat suci itu perlahan diturunkan dari pesawat kargo militer Iran di Bandara Internasional Baghdad. Ratusan pelayat yang telah menunggu sejak subuh langsung menundukkan kepala, sebagian tak kuasa menahan isak. Di saat yang sama, di tanah air mereka, langit malam diwarnai ledakan dan kilatan rudal—Amerika Serikat menggempur 80 titik strategis di Iran, menjadikan malam duka ini semakin kelam.
Prosesi pemindahan jenazah ini sejatinya direncanakan sebagai perjalanan suci sang Pemimpin Tertinggi menuju tempat peristirahatan terakhirnya di Karbala, Irak—sesuai wasiat pribadi yang ia titipkan bertahun-tahun lalu. Namun, deru pesawat tempur dan rentetan serangan yang terjadi bersamaan mengubah ziarah agung itu menjadi perjalanan yang diiringi debu perang.
“Ayah saya mungkin bukan siapa-siapa, tetapi beliau adalah pilar hidup saya. Dia adalah guru yang mengajarkan untuk tidak pernah takut pada apa pun, termasuk bom yang jatuh dari langit,” tutur seorang perempuan paruh baya berpakaian abaya hitam yang mengaku bernama Zainab Al-Hakim, warga Isfahan yang ikut serta dalam rombongan pengiring. Suaranya lirih, terbata, namun sorot matanya memancarkan keteguhan yang lahir dari keyakinan mendalam.
Prosesi berlangsung dengan pengamanan super ketat. Jalan-jalan menuju pusat kota Baghdad dipadati lautan manusia yang mengusung bendera hitam dan gambar sang tokoh. Mereka berjalan kaki, beberapa tanpa alas kaki, sambil melantunkan doa dan syair ratapan. Pemandangan yang kontras: di layar-layar ponsel mereka, notifikasi berita terus masuk—serangan ke fasilitas nuklir Natanz, rudal menghantam pangkalan Garda Revolusi, dan kepulan asap hitam membubung dari kilang minyak Abadan.
Ali Khamenei bukan sekadar pemimpin politik; ia adalah simbol, ayah spiritual bagi jutaan pengikutnya. Kepergiannya di tengah eskalasi militer ini menimbulkan luka ganda: rasa kehilangan figur sentral sekaligus kegelisahan eksistensial mengenai masa depan negeri yang telah lama ia pimpin.
Duka yang Berjalan Bersama Ketakutan
Di antara kerumunan, seorang pemuda bernama Amir Hossein (25) berdiri memegang kompas kecil di satu tangan dan Al-Quran di tangan lainnya. “Serangan ini bukan soal target militer. Mereka mengebom rumah-rumah kami, mimpi-mimpi kami. Tapi justru saat seperti inilah kami paling setia pada nilai-nilai yang beliau ajarkan: bersabar, tetapi pantang menyerah,” ujarnya dengan suara bergetar. Amir menambahkan, ayahnya adalah salah satu korban luka dalam serangan malam itu di Tehran. Ia memilih tetap bertahan di Baghdad untuk menghormati wasiat terakhir pemimpin yang dicintainya, baru kemudian pulang ke rumah sakit tempat ayahnya dirawat.
Para peziarah yang hadir bukan hanya dari kalangan tua. Banyak anak muda, perempuan, bahkan ibu-ibu yang menggendong bayi turut hadir. Mereka datang dengan bus, truk, hingga berjalan kaki bermil-mil dari Najaf untuk memberikan penghormatan terakhir. Bagi mereka, kehadiran fisik di prosesi ini adalah bentuk ibadah, sekaligus protes sunyi terhadap “ketidakadilan dunia” yang mengebom tanah air mereka tanpa henti.
Diplomasi Jenazah: Irak sebagai Saksi
Pemerintah Irak, melalui pernyataan resmi, mengonfirmasi bahwa jenazah akan disemayamkan sebentar di kompleks kuil suci Imam Husein di Karbala sebelum dimakamkan. Pemilihan Irak sebagai lokasi pemakaman sangat simbolis. Negeri seribu menara itu kini memainkan peran sebagai penengah, menjembatani duka rakyat Iran yang tengah terluka oleh bombardir. Namun, netralitas Baghdad juga diuji: bagaimana mungkin menggelar pemakaman kenegaraan sementara tetangga dekatnya dihujani rudal Tomahawk?
“Kami tidak punya pilihan lain. Ini adalah amanah yang diberikan pemimpin mereka, dan kami akan menunaikannya dengan penuh hormat, tak peduli seberapa panas situasi geopolitik saat ini,” ujar seorang pejabat Kementerian Luar Negeri Irak yang enggan disebut namanya.
Harapan di Tengah Reruntuhan
Meski perang dan duka berbaur, ada benang merah yang menyatukan para pelayat: keyakinan bahwa pengorbanan tidak akan sia-sia. Di salah satu sudut kerumunan, seorang nenek renta membentangkan sajadah kecil dan mulai salat dengan tenang. Di tengah hingar-bingar sirene dan pengumuman berulang dari pengeras suara masjid, pemandangan itu seolah menjadi oase kecil—pengingat bahwa spiritualitas tak bisa dikalahkan oleh kekuatan militer mana pun.
Saat malam semakin larut di Baghdad, ribuan lilin dinyalakan oleh para pelayat di sepanjang rute perjalanan jenazah. Cahaya-cahaya itu membentuk sungai kecil yang berkelok di antara reruntuhan sejarah. Entah esok apa yang akan terjadi pada Iran, tetapi malam ini, seluruh mata tertuju pada peti kayu sederhana yang membawa impian terakhir seorang pemimpin: dimakamkan di tanah yang damai, meskipun damai itu tampak begitu jauh dari jangkauan.
Comments (0)