Antasari — Kantin Putih Melati Sajikan Bebek Lado Ijo di Suasana Resort
Di tengah padatnya lalu lintas Antasari, Jakarta Selatan, terselip sepetak ruang yang seakan menolak hiruk-pikuk kota. Namanya Kantin Putih Melati. Begitu
Di tengah padatnya lalu lintas Antasari, Jakarta Selatan, terselip sepetak ruang yang seakan menolak hiruk-pikuk kota. Namanya Kantin Putih Melati. Begitu kaki melangkah masuk, hawa panas berganti semilir angin yang membelai dedaunan. Suara klakson berganti gemericik air kolam kecil. Bangunan serba kayu dengan atap tinggi menyambut seperti rumah masa kecil di desa—homey, hangat, dan memeluk erat siapa pun yang datang. Tempat ini bukan sekadar restoran. Ia adalah persembunyian, sebuah hidden gem yang diam-diam dirancang untuk mengobati kerinduan akan suasana resort tanpa harus meninggalkan Jakarta.
Hari masih pagi ketika saya duduk di salah satu sudut dengan pemandangan taman kecil penuh tanaman monstera dan sirih gading. Meja kayu panjang di depan saya masih kosong, tapi aroma rempah yang menguar dari dapur sudah lebih dulu membangunkan selera. Beberapa pengunjung tampak memilih lesehan di saung beratap ilalang. Yang lain lebih suka bersantai di area semi-outdoor dengan sofa anyaman rotan. Semua tampak enggan buru-buru.
Lebih dari Sekadar Tempat Makan, Ini soal Kenyamanan
Pemilik Kantin Putih Melati, sebut saja Mbak Rani, tidak sengaja menciptakan tempat ini dari rasa rindu akan kampung halaman. “Dulu saya cuma mau bikin tempat ngumpul yang rasanya kayak di rumah sendiri. Nggak ada yang formal, tamu bebas lepas sandal, duduk selonjoran juga nggak apa-apa,” katanya sambil terkekeh. Konsep tanpa sekat antara alam dan ruang makan inilah yang menjadi pembeda. Tanaman menjalar dari langit-langit, lampu gantung dari anyaman bambu, hingga ubin bermotif klasik membuat setiap sudut terasa instagrammable tanpa kesan dibuat-buat. Namun jangan salah, kesederhanaan suasana tidak mengorbankan kualitas menu. Dapur kecil di belakang justru menjadi jantung tempat ini, dengan puluhan pilihan yang lahir dari eksperimen-eksperimen personal.Perjalanan Pedas Bebek Lado Ijo yang Bikin Kangen
“Ini resep turunan dari nenek saya di Padang, tapi saya sesuaikan supaya lebih ramah untuk yang nggak tahan pedas ekstrem. Yang penting rasa segar cabai hijaunya tetap dominan,” ujar Mbak Rani saat saya bertanya tentang menu andalan mereka.Sepiring Bebek Lado Ijo akhirnya sampai di meja. Potongan bebek goreng yang renyah di luar namun lembut di dalam, tenggelam dalam genangan sambal lado ijo berwarna hijau cerah. Sambal itu tidak sekadar pedas; ada rasa asam segar dari tomat hijau, aroma jeruk nipis, dan sentuhan kemangi yang menari di lidah. Saya menikmatinya dengan nasi hangat dan lalapan segar dari kebun belakang. Setiap suapan membawa perjalanan rasa yang rumit: pedas, gurih, segar, dan sedikit manis. Ini bukan sekadar makan siang. Ini adalah pelukan hangat di tengah hari yang melelahkan. Di meja sebelah, sepasang kekasih berbagi seporsi Ayam Bakar Taliwang dan sepiring Tahu Telur Surabaya. “Kami sengaja datang dari BSD. Tahu dari TikTok, penasaran dengan tempatnya yang katanya bikin betah. Ternyata beneran nyaman banget, dan makanannya juga seenak itu,” cerita Dina, salah satu dari mereka. Menu-menu seperti nasi goreng kampung, sop buntut, hingga iga penyet juga tersedia, menjadikan tempat ini semacam posko kuliner Nusantara yang merangkul semua selera.
Comments (0)