Welcome!

Unlock your personalized experience.
Sign Up

Warung di Solo Hadirkan Menu Kondangan Tanpa Amplop

Bagi sebagian orang, undangan pernikahan atau hajatan keluarga tak sekadar ajang silaturahmi, melainkan juga momen yang dinanti karena suguhan khasnya—dari

Jul 09, 2026 - 00:29
0 0
Warung di Solo Hadirkan Menu Kondangan Tanpa Amplop
Bagi sebagian orang, undangan pernikahan atau hajatan keluarga tak sekadar ajang silaturahmi, melainkan juga momen yang dinanti karena suguhan khasnya—dari sup manten hangat, aneka lauk berbalut bumbu rempah, hingga es buah jadul penutup yang manis. Namun, bagaimana jika pengalaman serupa bisa dinikmati kapan saja, tanpa harus menunggu undangan dan tanpa perlu menyiapkan amplop? Sebuah warung makan sederhana di Solo, Jawa Tengah, kini menawarkan jawabannya. Keberadaan warung ini mencuat setelah seorang food vlogger kenamaan asal akun Instagram @mantan.chef mengunggah video kunjungannya pada 2 Juli silam. Dalam rekaman yang kemudian viral itu, ia menunjukkan deretan menu khas kondangan yang disajikan dengan konsep “piring terbang”—sebutan lokal untuk sajian prasmanan yang diletakkan di atas meja panjang dan diambil sendiri oleh tamu, persis seperti di pesta perkawinan. Tak butuh waktu lama, warung yang belum banyak diketahui namanya ini ramai diperbincangkan warganet yang rindu cita rasa hajatan.

Temuan Tak Sengaja yang Jadi Buah Bibir

Pagi itu, sang food vlogger tidak memiliki rencana khusus. Ia hanya menyusuri jalanan Solo untuk mencari sarapan yang berbeda. Matanya lalu menangkap papan nama kecil bertuliskan menu-menu yang mengingatkannya pada masa kecil: sup manten, sambal goreng krecek, ayam panggang bumbu rujak, hingga es buah koktail. Penasaran, ia pun melangkah masuk. “Saya kira sedang ada acara nikahan,” ujar Rizky, nama yang kami sematkan pada kreator tersebut, dalam wawancara rekaan via telepon. “Tapi ternyata ini warung biasa. Saya langsung teringat kampung halaman, di mana setiap hajatan selalu menyajikan menu serupa. Suasananya langsung bikin nostalgia.” Rizky memutuskan untuk memesan satu set lengkap yang disajikan di atas piring anyaman bambu—sekali lagi, mirip piring terbang yang lazim dipakai di kondangan tradisional Jawa. Momen mencicipinya ia abadikan dalam video, dan reaksi spontannya: mata membelalak, senyum merekah, serta gumaman puas ketika menyantap sup manten gurih. Video itu kini telah ditonton lebih dari 1,2 juta kali.

Rangkaian Rasa yang Menghidupkan Memori

  1. Kedatangan: Rizky tiba sekitar pukul 08.00 WIB. Warung masih sepi, namun aroma rempah sudah menguar dari dapur semi-terbuka di bagian belakang.
  2. Pemesanan: Ia meminta paket “komplit” seharga Rp35.000—terdiri dari nasi putih, sup manten, sambal goreng kentang-hati, ayam bacem, dan kerupuk udang. Untuk minuman, ia memilih es buah jadul yang disajikan dalam gelas plastik besar dengan isian potongan pepaya, nanas, dan mutiara.
  3. Pencicipan: Di hadapan kamera, ia menyuap sesendok sup manten. “Kuahnya gurih, rempahnya terasa, mirip buatan mbok-Mbok di kampung,” ujarnya. Giliran sambal goreng krecek, ia menilai sambalnya tidak terlalu pedas namun kaya santan—cocok di lidah berbagai kalangan.
  4. Reaksi pengunjung lain: Seorang ibu paruh baya yang duduk di meja sebelah, sebut saja Bu Yanti, mengaku sengaja datang setelah menonton video yang sama. “Saya rindu masakan hajatan, tapi nggak ada tetangga yang nikah. Begitu lihat di Instagram, saya ajak suami ke sini,” tuturnya sambil tersenyum.
Pemilik warung, Pak Slamet (50), yang kami temui melalui sambungan telepon rekaan, mengaku tidak menyangka sajian rumahan yang ia geluti sejak awal 2024 ini akan viral. “Saya cuma pengin ngobati kangen orang sama rasa kondangan,” katanya lirih. “Dulu ibu saya sering diminta bantu masak di hajatan, makanya saya hafal resep-resepnya. Saya tidak menyangka anak muda sekarang juga suka.” Kini, warungnya tak pernah sepi pelanggan. Banyak yang datang dari luar kota, sekadar ingin merasakan kembali pengalaman menyantap hidangan khas pesta tanpa harus membawa amplop. “Setiap hari bisa habis 200 porsi lebih,” tambah Slamet. “Alhamdulillah, rezeki dari rasa kangen orang-orang.”

Menjaga Tradisi Lewat Piring Terbang

Fenomena warung “kondangan tanpa amplop” ini bukan sekadar tren sesaat. Di baliknya, ada upaya menjaga warisan kuliner hajatan yang mulai tergerus zaman. Dulu, hampir setiap acara perkawinan di kampung-kampung Jawa selalu menyajikan sup manten dan sambal goreng krecek sebagai simbol kemakmuran. Kini, sajian tersebut lebih banyak dijumpai di katering mahal atau hajatan kelas menengah ke atas. Kehadiran warung seperti milik Pak Slamet membuka akses lebih luas bagi siapa pun yang ingin bernostalgia. Tak heran, kolom komentar video @mantan.chef dipenuhi kisah personal warganet. Ada yang terkenang almarhumah neneknya, ada yang teringat pertama kali bertemu pasangan di sebuah kondangan, hingga ada yang sekadar menulis, “Aku nangis nonton ini, rasanya seperti pulang.” Itulah kekuatan kuliner: menghidupkan kembali memori dan emosi yang terpendam. Bagi Anda yang penasaran, tak perlu menunggu hari Sabtu atau Minggu. Warung ini buka setiap hari mulai pukul 07.00 hingga 15.00 WIB, dan tidak menerima “amplop”—cukup bayar sesuai harga yang tertera di papan menu. Siapa tahu, dengan setiap suapan, ingatan tentang pesta-pesta masa kecil yang meriah akan kembali hadir, membawa kehangatan di tengah rutinitas yang kadang terlalu dingin.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User