YOGYAKARTA — Prabowo dan Modi Kagumi Keindahan Candi Prambanan
Senja perlahan menyelimuti langit Yogyakarta ketika iring-iringan mobil terlihat memasuki area Candi Prambanan pada Rabu (8/7/2026). Debu merah yang biasa
Senja perlahan menyelimuti langit Yogyakarta ketika iring-iringan mobil terlihat memasuki area Candi Prambanan pada Rabu (8/7/2026). Debu merah yang biasa menari di pelataran candi sore itu seolah berhenti sejenak, memberi ruang bagi langkah dua pria yang berjalan berdampingan. Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri India Narendra Modi bukan hadir sebagai kepala negara yang kaku dalam protokol, melainkan sebagai dua sahabat yang tenggelam dalam kekaguman pada kemegahan bisu yang telah berdiri selama lebih dari seribu tahun. Kunjungan yang tidak direncanakan secara bombastis ini menjadi penutup lembut dari rangkaian pertemuan bilateral yang padat.
Saat keduanya melangkah masuk ke kompleks candi utama, sekitar 30 orang pengunjung lain yang tidak sengaja berada di lokasi hanya bisa terpaku. Beberapa dari mereka spontan melepas alas kaki, bukan karena aturan, melainkan karena rasa hormat yang tiba-tiba muncul menyaksikan kehadiran dua tokoh dunia di tempat yang begitu sakral. Seorang petugas kebersihan yang enggan disebut namanya berbisik pelan, suaranya bergetar, "Saya 27 tahun kerja di sini, baru kali ini rasanya candi ini hidup kembali."
Narasi yang Terukir dalam Batu
Di depan panel relief Ramayana yang terkenal, PM Modi tampak berhenti paling lama. Bukan Prabowo yang memberi penjelasan, melainkan seorang pemandu wisata senior bernama Suryo Hadi Nugroho (61) yang tiba-tiba dipanggil oleh ajudan. Dengan bahasa Inggris yang sederhana namun fasih, Suryo menjelaskan adegan penculikan Sita oleh Rahwana. Modi sesekali mengangguk, sementara Prabowo menyimak dengan tangan terlipat di dada.
"Saya grogi sekali. Saya hanya pemandu biasa, tiba-tiba diminta menjelaskan ke Perdana Menteri India. Tapi Pak Modi terus tersenyum, dan Pak Prabowo bilang, 'Santai saja, Pak Suryo.' Saya merasa seperti sedang bercerita ke teman, bukan ke VIP,"
kenang Suryo dengan mata masih berbinar. Adegan itu bukan sekadar tur budaya. Di hadapan batu andesit yang menceritakan epos India kuno, dua pemimpin menyaksikan bukti bahwa benang merah peradaban yang mengikat kedua negara bukanlah ciptaan politik modern, melainkan warisan leluhur yang tak terhapuskan oleh batas geografis.
Simbolisasi di Antara Gapura Raksasa
Setelah meninggalkan Candi Siwa, keduanya berjalan tanpa pengawalan ketat menuju Candi Brahma. Menurut seorang staf protokoler yang menyaksikan dari kejauhan, Prabowo menggandeng lengan Modi saat melintasi tangga batu yang curam. Isyarat kecil itu seperti merepresentasikan posisi Indonesia sebagai tuan rumah yang melindungi, namun sekaligus sebagai mitra setara yang saling menjaga. Modi, yang dikenal dengan gestur diplomatiknya yang personal, membalas dengan menepuk pundak Prabowo ringan.
"Mereka terlihat seperti dua sahabat lama yang baru bertemu lagi. Pak Prabowo bahkan sesekali tertawa lepas saat PM Modi mencoba mengucapkan beberapa kata dalam bahasa Jawa,"
ungkap Retno, seorang mahasiswi jurusan Hubungan Internasional yang kebetulan sedang melakukan riset di sana.
Yang menarik, di bawah gapura setinggi 47 meter itu, tidak ada pernyataan politik. Tidak ada sautan soal kerja sama strategis atau ancaman geopolitik. Hanya ada dua pria yang merunduk sejenak, barangkali memanjatkan sesuatu dalam hati. Seorang biksu yang sedang bermeditasi di sudut candi mengatakan, ia merasakan getaran harmoni yang jarang terjadi. "Energi para pemimpin itu tenang, seperti baru saja menuntaskan perjalanan panjang dan sampai di tempat yang tepat," ucapnya lirih.
Warisan yang Melekat di Hati Warga
Kehadiran Prabowo dan Modi tidak hanya menyisakan jejak di pasir candi. Bagi masyarakat sekitar, ini adalah legitimasi. Bagi pedagang sate klathak di parkiran, ini adalah rezeki tak terduga. Bagi para pemuda Karang Taruna Tlogo, ini adalah suntikan semangat untuk terus menjaga situs leluhur. Kunjungan ini terjadi tepat sehari setelah penandatanganan kerja sama konservasi candi antara Indonesia dan India.
Saat iring-iringan meninggalkan kompleks, senja sudah berubah menjadi gelap. Namun, sorot lampu yang tiba-tiba dinyalakan untuk menerangi perjalanan pulang mereka seakan menjadi metafora visual yang sempurna: bahwa di tengah dunia yang kian kompleks, cahaya peradaban yang dipancarkan Prambanan tetap menerangi jalur persahabatan dua negara. Dan di kursi belakang mobil yang melaju perlahan meninggalkan Sleman, Jenderal yang kini Presiden itu, konon, hanya terdiam. Matanya menerawang jauh ke hamparan batu candi yang kian mengecil di kaca spion.
Comments (0)