Pramono Anung Resmikan Halte Transjakarta Jaga Jakarta di Senen
Lampu-lampu halte yang baru dicat putih bersih menyala terang saat Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menggunting pita merah, Senin (8/9/2025) pagi. Suara
Lampu-lampu halte yang baru dicat putih bersih menyala terang saat Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menggunting pita merah, Senin (8/9/2025) pagi. Suara tepuk tangan warga dan pengemudi Transjakarta yang melintas mengiringi momen itu. Di tengah hiruk-pikuk kawasan Senen, Jakarta Pusat, yang tak pernah tidur, berdiri kini sebuah ruang tunggu yang bukan sekadar tempat menanti bus. Ia adalah pernyataan: bahwa setiap warga berhak merasa aman di transportasi publik.
Halte Transjakarta Jaga Jakarta namanya. Nama itu bukan sekadar label, melainkan janji. Janji untuk mengembalikan rasa tenteram yang sempat terenggut dari trotoar dan halte-halte tua di jantung ibu kota. Pramono, dengan jaket khasnya yang sederhana, menyempatkan diri menyapa seorang ibu yang tengah menggendong anaknya di dekat pintu masuk halte. Senyumnya merekah, namun ada ketegasan di balik kacamata itu.
Mimpi di Balik Nama 'Jaga Jakarta'
Bagi banyak warga, halte adalah ruang transisi yang sering kali bercerita tentang kecemasan. Pelecehan verbal di sudut tangga, copet yang mengintai di keramaian, hingga rasa was-was saat malam tiba. Halte Jaga Jakarta hadir untuk menulis ulang cerita itu.
“Saya tidak ingin warga Jakarta, terutama perempuan dan anak-anak, merasa was-was saat menunggu bus. Transportasi publik harus jadi ruang yang manusiawi dan melindungi,” ujar Pramono, suaranya lirih namun berwibawa, saat berbincang dengan Liputan6.com usai peresmian.
Di lantai dua halte, terpasang poster besar bertuliskan “Ruang Aman untuk Semua”. Di sana terdapat CCTV 360 derajat yang terhubung langsung ke Pusat Komando Dinas Perhubungan, tombol darurat (panic button) yang tersebar di empat titik, serta kursi prioritas yang lebih lebar dan rendah untuk lansia dan penumpang dengan disabilitas. Bahkan, sudut halte yang dulu kerap dijadikan tempat mangkal kini disulap menjadi ruang cerah dengan tanaman gantung dan lampu LED yang menyala sepanjang malam.
Ruang yang Mendengarkan
Sri Wahyuni (42), seorang pedagang kantin yang sehari-hari menggunakan Transjakarta dari Senen ke Blok M, tak bisa menyembunyikan kelegaannya. Ia ingat betul, dua tahun lalu, dompetnya raib di halte tua yang kini telah bertransformasi. “Dulu seram kalau malam. Sekarang, saya lihat ada petugas yang stand by terus. Tadi saya coba tombol daruratnya—cuma beberapa detik, suara langsung terdengar dari speaker,” katanya sambil menunjuk ke arah tiang berlogo “Jaga Jakarta”.
“Rasanya seperti di-bilangin, ‘Bu, tenang aja. Ada yang jagain.’ Itu aja udah bikin adem,” tambah Sri, matanya berkaca-kaca.
Tak hanya keamanan fisik, halte ini juga dilengkapi dengan layar informasi yang menampilkan posisi bus secara real-time. Data keterlambatan dan estimasi waktu tunggu yang akurat diharapkan mampu mengurangi kecemasan penumpang—terutama mereka yang mengejar jam kerja atau menjemput anak sekolah. Semua dirancang agar pengalaman menunggu tak lagi menjadi beban mental.
Lokasi Senen dipilih bukan tanpa alasan. Kawasan ini adalah simpul pergerakan manusia dari berbagai penjuru: pekerja informal, mahasiswa, hingga pejalan kaki yang menyeberang dari Pasar Senen. Tingginya volume mobilitas kerap berbanding lurus dengan kerentanan. Halte Jaga Jakarta, dengan konsep human-centric design-nya, menjadi prototipe yang akan direplikasi di 12 titik strategis lain pada akhir tahun 2025.
Saat mentari pagi meninggi, Pramono meninggalkan halte dengan satu pesan yang mungkin akan diingat lebih lama dari sekadar sambutan pejabat: “Jaga Jakarta bukan cuma nama halte. Ini gerakan. Setiap warga yang menunggu di sini harus pulang dengan selamat dan cerita yang baik.”
Comments (0)