Warga Iran Tetap Ramai Hadiri Pemakaman Khamenei Saat Cuaca Super Panas
Teheran – Prosesi pemakaman mendiang Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, terus berlangsung di tengah teriknya musim panas. Memasuki hari kedua pada Minggu (5/7/2026), ribuan warga Iran
Teheran – Prosesi pemakaman mendiang Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, terus berlangsung di tengah teriknya musim panas. Memasuki hari kedua pada Minggu (5/7/2026), ribuan warga Iran tetap membanjiri jalan-jalan di ibu kota untuk memberikan penghormatan terakhir, meskipun suhu udara melampaui 42 derajat Celsius. Semangat yang berkobar di hati para pelayat seakan mengalahkan sengatan matahari yang menyelimuti Teheran.
Berdasarkan laporan media kami di lapangan, lautan manusia mulai berkumpul sejak subuh di sekitar area Masjid Agung Teheran, tempat jenazah Khamenei disemayamkan. Banyak di antara mereka membawa bendera Iran dan potret sang pemimpin, sembari melantunkan syair-syair duka. Petugas medis dilaporkan telah menangani puluhan warga yang pingsan akibat udara yang terlalu panas, namun arus kedatangan pelayat tak kunjung surut.
“Ini adalah tugas kami sebagai rakyat Iran. Panas bukanlah penghalang. Kami tumbuh dalam ajaran beliau tentang ketabahan, dan hari ini kami buktikan bahwa kami tidak akan meninggalkan pemimpin kami meski dalam kematian,” ujar Mohammad Reza, seorang guru berusia 52 tahun yang datang bersama keluarganya dari kota Qom.
Khamenei, yang memimpin Republik Islam Iran selama lebih dari tiga dekade, tewas dalam serangan rudal gabungan Amerika Serikat dan Israel yang menghantam kompleks kediaman sekaligus kantornya di pusat Teheran pada 28 Februari lalu. Insiden yang mengguncang dunia itu juga merenggut nyawa beberapa anggota keluarganya. Jenazah Khamenei kemudian disemayamkan selama berbulan-bulan untuk persiapan pemakaman kenegaraan yang melibatkan protokol adat dan keagamaan yang ketat. Prosesi ini awalnya dijadwalkan lebih awal, namun tertunda karena proses investigasi dan ketegangan keamanan pascaserangan.
Pemerintah Iran mengerahkan ribuan personel keamanan dan relawan untuk mengatur lalu lintas dan memastikan keamanan selama prosesi berlangsung. Meski demikian, suasana haru tetap terasa kental. Banyak pelayat yang menangis tersedu-sedu saat iring-iringan pembawa jenazah melintas. Mereka menaburkan bunga mawar dan air mawar di sepanjang jalan, tradisi yang biasa dilakukan untuk menghormati tokoh yang dianggap mulia.
Pantauan Beritaseputar.com juga mencatat bahwa sejumlah tokoh politik dan militer senior turut hadir di barisan terdepan prosesi. Presiden Iran, jajaran perwira Garda Revolusi, serta perwakilan dari kelompok sekutu di kawasan Timur Tengah terlihat mengenakan pakaian serba hitam sebagai simbol duka mendalam. Kehadiran mereka menambah bobot prosesi ini sebagai salah satu momen bersejarah bagi bangsa Persia.
Prosesi yang dimulai pada Sabtu (4/7/2026) pagi itu dijadwalkan akan berlangsung selama beberapa hari dengan rute yang melewati titik-titik penting di Teheran sebelum jenazah dimakamkan di kompleks makam yang telah disiapkan di dekat kota suci Qom. Panitia pemakaman menyatakan bahwa seluruh rangkaian upacara dirancang untuk mencerminkan kedudukan Khamenei sebagai “Bapak Revolusi” dan simbol perlawanan terhadap dominasi asing.
Meski suhu udara ekstrem menjadi tantangan, warga terus berdatangan. Banyak dari mereka membawa payung, air minum, dan kipas tangan untuk melawan cuaca. Rasa hormat dan kecintaan kepada sang pemimpin tampaknya menjadi kekuatan yang mengalahkan kondisi alam yang keras, memperlihatkan betapa kuatnya ikatan antara rakyat dan pemimpin yang telah tiada.
Comments (0)