Warga Cikampek Itikaf di Masjid Sambut Malam Lailatul Qadar
Karawang — Ratusan warga Muslim di wilayah Cikampek, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, memenuhi Masjid Asy-Syuhada pada Jumat (29/4/2022) malam untuk melakuk
Karawang — Ratusan warga Muslim di wilayah Cikampek, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, memenuhi Masjid Asy-Syuhada pada Jumat (29/4/2022) malam untuk melakukan ibadah itikaf pada malam ke-27 bulan suci Ramadhan 1443 Hijriah. Momen sakral ini menjadi puncak pencarian Malam Lailatul Qadar yang dipercaya turun pada sepuluh hari terakhir bulan puasa.
Suasana Itikaf di Masjid Asy-Syuhada
Sejak ba'da salat Isya, halaman dan ruangan utama masjid mulai dipadati jemaah. Mereka membawa sajadah, Alquran, dan dzikir masing-masing. Kegiatan itikaf berlangsung khusyuk dengan nuansa religius yang kental. Lampu-lampu masjid dinyalakan temaram, menciptakan atmosfer tenang yang mendukung konsentrasi spiritual.
Menurut salah seorang panitia, antusiasme warga tahun ini meningkat dibandingkan Ramadhan sebelumnya. "Alhamdulillah, jemaah yang ikut itikaf mencapai ratusan orang. Mereka datang dari berbagai penjuru Cikampek, mulai dari kalangan pemuda hingga orang tua," ujar panitia yang enggan disebutkan namanya saat ditemui di lokasi.
Amalan yang Dilakukan Selama Itikaf
Itikaf merupakan ibadah berdiam diri di masjid dengan niat mengabdi kepada Allah SWT. Pada momen ini, jemaah melakukan berbagai amalan utama sebagai berikut:
- Membaca Alquran — Banyak jemaah yang mengkhatamkan Alquran secara bertahap selama sepuluh hari terakhir Ramadhan.
- Berdzikir — Zikir pagi dan petang dilakukan secara berjamaah maupun individual.
- Ber selawat — Shalawat kepada Nabi Muhammad SAW dilantunkan untuk meraih ridha Allah.
- Salat malam — Salat tahajud dan witir menjadi rutinitas utama jemaah.
- Berdoa khusyuk — Doa-doa pribadi dipanjatkan dengan harapan mendapat keistimewaan Lailatul Qadar.
Signifikansi Malam ke-27 Ramadhan
Malam ke-27 Ramadhan menjadi salah satu waktu yang paling dinantikan umat Islam karena diyakini sebagai salah satu malam turunnya Lailatul Qadar. Malam yang lebih baik dari seribu bulan ini dipercaya membawa keberkahan, ampunan dosa, dan ketenangan batin.
"Malam ini adalah kesempatan emas. Kami mengajak seluruh jemaah untuk memperbanyak doa, membaca Alquran, dan memohon ampunan. Semoga kita semua meraih predikat orang-orang yang beruntung," kata seorang tokoh agama setempat.
Protokol Kesehatan Tetap Dijaga
Meskipun pandemi Covid-19 telah melandai, panitia tetap menerapkan protokol kesehatan dasar. Jamaah diwajibkan mengenakan masker, membawa sajadah sendiri, dan menjaga jarak saat salat berjamaah. Fasilitas cuci tangan dan hand sanitizer disediakan di beberapa titik masjid.
Pengurus masjid juga mengatur sesi itikaf secara bergantian untuk menghindari kepadatan berlebihan. "Kami membatasi jumlah jemaah di dalam masjid utama dan menyediakan Ruang serbaguna sebagai alternatif," jelas panitia.
Dampak Positif bagi Komunitas
Kegiatan itikaf tidak hanya bernilai ibadah individual, tetapi juga mempererat tali silaturahmi antarwarga. Banyak jemaah yang saling berbagi makanan untuk sahur dan berbuka bersama. Suasana kekeluargaan terasa kental sepanjang malam.
Acara ini juga menjadi momentum pendidikan karakter bagi generasi muda. Remaja-remaja setempat dilibatkan sebagai panitia, membantu persiapan logistik, dan mengkoordinasikan jemaah. Hal ini diharapkan dapat meneruskan tradisi ibadah yang sudah berlangsung turun-temurun.
Harapan dan Doa Bersama
Menjelang tengah malam, seluruh jemaah mengangkat tangan bersama-sama untuk memanjatkan doa. Suara tangisan haru terdengar di antara mereka yang berharap mendapat ampunan dan keberkahan di malam penuh kemuliaan tersebut.
Acara itikaf di Masjid Asy-Syuhada Cikampek menjadi bukti nyata semangat beragama masyarakat Jawa Barat yang tetap terjaga di tengah modernisasi. Tradisi ini diharapkan terus lestari dan menjadi inspirasi bagi generasi mendatang.
Comments (0)