Waka MPR Eddy Soeparno Bawa Potensi Proyek EBT Indonesia ke Lembaga Keuangan Internasional
Jakarta — Wakil Ketua MPR RI dari Fraksi PAN, Eddy Soeparno, melakukan serangkaian pertemuan strategis dengan sejumlah lembaga keuangan global yang tergabung dalam Glasgow Financial Alliance for
Jakarta — Wakil Ketua MPR RI dari Fraksi PAN, Eddy Soeparno, melakukan serangkaian pertemuan strategis dengan sejumlah lembaga keuangan global yang tergabung dalam Glasgow Financial Alliance for Net Zero (GFANZ). Agenda tersebut merupakan bagian dari rangkaian kegiatan London Climate Action Week yang berlangsung di ibu kota Inggris.
Dalam pertemuan tersebut, Eddy Soeparno secara langsung memaparkan komitmen pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dalam mempercepat transisi energi dan memperkuat aksi pengendalian perubahan iklim. Langkah ini dinilai krusial mengingat Indonesia memiliki potensi besar di sektor Energi Baru Terbarukan (EBT) yang belum sepenuhnya tergarap secara optimal.
"Saya menyampaikan potensi proyek Energi Baru Terbarukan dan peluang pembiayaan bagi bank-bank yang memiliki kepedulian tinggi terhadap green financing," ujar Eddy dalam keterangan tertulis, Minggu (28/6/2026).
Berdasarkan laporan yang diterima media kami, lembaga keuangan internasional yang hadir dalam pertemuan tersebut mencakup jajaran bank-bank besar dunia, antara lain Deutsche Bank, Citi, Standard Chartered, HSBC, MUFG, dan Bank of America. Keenam institusi finansial ini dikenal memiliki portofolio signifikan dalam pendanaan proyek-proyek berkelanjutan dan ramah lingkungan.
Eddy menekankan bahwa Indonesia memiliki posisi tawar yang kuat dalam menarik investasi hijau global. Dengan sumber daya alam yang melimpah, mulai dari potensi panas bumi, tenaga surya, hidro, hingga bioenergi, Indonesia dipandang sebagai pasar yang menjanjikan bagi para investor yang ingin berkontribusi dalam penurunan emisi karbon dunia.
Pertemuan ini juga menjadi ajang untuk memperkenalkan peta jalan transisi energi nasional yang tengah disusun pemerintah. Diharapkan, dengan terbukanya akses pendanaan dari lembaga-lembaga keuangan kelas dunia, proyek-proyek EBT di Tanah Air dapat dipercepat realisasinya tanpa bergantung sepenuhnya pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Lebih lanjut, Eddy menjelaskan bahwa GFANZ sendiri merupakan aliansi global yang beranggotakan lebih dari 550 institusi keuangan dari 50 negara, dengan total aset yang dikelola mencapai triliunan dolar AS. Aliansi ini memiliki misi mempercepat transisi menuju ekonomi nol emisi karbon melalui mobilisasi pendanaan hijau.
Partisipasi aktif Indonesia dalam forum-forum internasional seperti London Climate Action Week dinilai sebagai langkah diplomasi ekonomi yang tepat sasaran. Selain memperkuat citra Indonesia sebagai negara yang serius menangani isu perubahan iklim, kehadiran langsung para pemangku kepentingan nasional di hadapan investor global juga membuka peluang konkret bagi masuknya modal asing ke sektor-sektor prioritas pembangunan berkelanjutan.
Eddy berharap, respons positif yang ditunjukkan oleh perwakilan bank-bank besar tersebut dapat segera ditindaklanjuti dengan komitmen pendanaan riil. Hal ini akan menjadi katalisator penting dalam merealisasikan target bauran energi nasional yang menempatkan porsi EBT sebesar 23 persen pada beberapa tahun mendatang.
Comments (0)