Sutradara Gonjiam Buka Peluang Syuting Horor di Indonesia, Ada Syarat Istimewa

Di sudut kafe kecil di bilangan Mapo-gu, Seoul, seorang pria paruh baya menyeruput kopinya perlahan. Matanya menerawang, seakan tengah menyusuri kembali lorong-lorong gelap yang pernah ia ciptakan dal...

Jul 12, 2026 - 19:04
0 0
Sutradara Gonjiam Buka Peluang Syuting Horor di Indonesia, Ada Syarat Istimewa

Di sudut kafe kecil di bilangan Mapo-gu, Seoul, seorang pria paruh baya menyeruput kopinya perlahan. Matanya menerawang, seakan tengah menyusuri kembali lorong-lorong gelap yang pernah ia ciptakan dalam film Gonjiam: Haunted Asylum. Dialah Jeong Beom-sik, sutradara yang berhasil mengubah rumah sakit terbengkalai di Gwangju menjadi fenomena horor global. Namun kali ini, tatapannya tidak tertuju pada bangunan tua di negerinya sendiri. Pikirannya melayang jauh, melintasi lautan, hinggap pada gedung-gedung angker di Indonesia.

Jeong mengaku, setelah kesuksesan Gonjiam yang meraup lebih dari 2,5 juta penonton di Korea Selatan, ia kerap menerima tawaran untuk kembali menyutradarai film horor berlatar rumah sakit. Tapi ia menginginkan sesuatu yang berbeda. "Saya ingin menjelajah horor yang tumbuh dari akar budaya lain," ujarnya lirih, mempermainkan gagang cangkir di jemarinya. Pilihannya jatuh pada Indonesia, negeri dengan segudang cerita mistis yang masih begitu kuat mendarah daging dalam keseharian masyarakatnya.

Ketika Rumah Sakit Angker Korea Menginspirasi Langkah Baru

Rumah Sakit Jiwa Gonjiam, yang menjadi lokasi asli sebelum film diproduksi, menyimpan kisah pilu. Bangunan itu pernah menjadi saksi bisu dari praktik perawatan yang tak manusiawi terhadap pasien jiwa. Energi kelam yang tertinggal di sana, menurut Jeong, adalah alasan mengapa penonton bisa merasakan teror yang begitu nyata. "Kamera kami hanya merekam apa yang sudah ada di sana. Kami hanya memberikan panggung bagi kesedihan yang tak tersampaikan," kenangnya dengan suara serak.

Dari pengalaman itu, ia belajar bahwa lokasi syuting horor bukan sekadar tempat, melainkan jiwa dari cerita itu sendiri. Maka ketika ia mendengar kisah tentang rumah sakit-rumah sakit tua di Indonesia, seperti Rumah Sakit Pondok Indah yang legendaris dengan penampakan noni Belanda, atau bangunan kolonial di Semarang dan Surabaya yang menyimpan luka sejarah, hatinya tergerak. "Saya ingin mendatangi tempat-tempat itu, bukan untuk mengeksploitasi, tapi untuk mendengarkan bisikan mereka,"katanya.

"Kamera kami hanya merekam apa yang sudah ada di sana. Kami hanya memberikan panggung bagi kesedihan yang tak tersampaikan."

Syarat Istimewa: Bukan Sekadar Dana, tapi Kolaborasi Budaya

Namun, Jeong tidak sekadar ingin datang dan berbekal kamera. Ia menekankan satu syarat penting yang membuat rencana ini berbeda: kolaborasi penuh dengan sineas dan penulis cerita lokal. "Saya tidak ingin membuat film horor tentang Indonesia dari kacamata orang Korea. Itu tidak menghormati hantu-hantu di sana," tuturnya sambil tersenyum getir. Baginya, keterlibatan penduduk lokal dalam proses riset, penulisan naskah, hingga pemilihan pemain adalah bagian dari upaya menghadirkan rasa takut yang jujur.

Sutradara berusia 45 tahun ini bahkan berniat untuk tinggal sementara di Indonesia selama beberapa bulan sebelum syuting dimulai. Ia ingin merasakan langsung denyut kehidupan masyarakat, menyatu dengan cerita-cerita urban yang diwariskan turun-temurun, dan memahami bagaimana rasa takut diproduksi dalam keseharian. "Horor sejati lahir dari trauma kolektif, dan saya harus menjadi bagian dari trauma itu untuk mampu menceritakannya," imbuhnya.

Syarat lainnya adalah dukungan dari pemerintah daerah tempat lokasi syuting dipilih. Jeong bercerita, saat menggarap Gonjiam, ia sempat kesulitan mendapat izin karena pemerintah setempat khawatir citra negatif akan melekat pada wilayah tersebut. "Tapi setelah film sukses, justru banyak wisatawan datang ke Gwangju untuk berburu pengalaman horor. Saya ingin mengisahkan bahwa di balik kengerian, ada potensi yang bisa membangkitkan ekonomi lokal," jelasnya.

Harapan Baru bagi Generasi Sineas Tanah Air

Rencana Jeong ini sontak menjadi angin segar, terutama bagi para pembuat film horor independen di Indonesia yang selama ini berjuang dengan keterbatasan dana dan distribusi. Bayu Nugroho, seorang sutradara film pendek horor asal Yogyakarta, mengaku terharu saat mendengar kabar tersebut. "Ini mimpi yang menyentuh sekali. Kita sering dianggap sebelah mata karena film horor lokal terlalu banyak mengandalkan jumpscare murahan. Kehadiran beliau bisa menjadi mentor yang mengajarkan kami cara membangun teror psikologis yang membekas," ucapnya penuh semangat.

Bagi Bayu dan komunitasnya, film horor adalah medium untuk merawat ingatan akan tempat-tempat yang ditinggalkan. "Setiap gedung tua di kampung saya menyimpan kisah. Ada yang berisi perjuangan, ada yang berisi air mata," katanya lirih. Ia berharap, apabila proyek ini terwujud, akan lahir film yang tidak hanya menakut-nakuti, tetapi juga membuat penonton jatuh cinta pada akar budaya sendiri.

Saat senja mulai menyelimuti langit Seoul, Jeong masih betah di kursinya. Ia mengeluarkan sebuah buku catatan kecil dari saku jaketnya. Di dalamnya, sudah tertulis beberapa sketsa kasar tentang sebuah film horor berlatar Indonesia. "Saya sudah menabung ide ini selama bertahun-tahun," bisiknya sambil menunjuk sebuah gambar bangunan tua dengan jendela-jendela gelap. "Sederhana, hitam putih, tanpa hantu yang jelas wujudnya. Hanya suara-suara dari masa lalu." Rencananya itu barangkali masih panjang, tapi mimpinya sudah menemukan arah. Indonesia menanti, bukan hanya sebagai pasar, tetapi sebagai rumah baru bagi cerita yang ingin didengar dunia.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User