Menghibur Duka Lewat Tawa: Kisah Cak Lontong di Rumah Sahabat
Di sudut ruangan rumah sederhana berukuran 6x7 meter di bilangan Ciputat, Tangerang Selatan, suara tawa kecil tiba-tiba pecah di antara isak tangis. Seorang pria berkacamata, berpeci hitam, duduk bers...
Di sudut ruangan rumah sederhana berukuran 6x7 meter di bilangan Ciputat, Tangerang Selatan, suara tawa kecil tiba-tiba pecah di antara isak tangis. Seorang pria berkacamata, berpeci hitam, duduk bersila di samping jenazah. Tangannya sesekali menyentuh peti kayu bercat cokelat muda seraya melontarkan kalimat-kalimat pendek yang membuat sejumlah pelayat tersenyum tipis. Dialah Cak Lontong, komedian cerdas yang malam itu hadir bukan untuk mengocok perut di atas panggung, melainkan untuk mengantar kepergian salah satu sahabat lamanya, Sudirman—seorang penata artistik panggung yang telah mendampinginya lebih dari dua dekade.
Di tengah ruang tamu yang diubah menjadi ruang duka, karangan bunga berjejer dengan tulisan belasungkawa. Di antara anyelir putih dan mawar merah, terdapat satu papan kecil bertuliskan “Selamat jalan, Dirman. Panggung mana pun kini jadi lebih sunyi.” Papan itu dikirim langsung oleh Cak Lontong, yang baru tiba dari Jakarta Pusat setelah mendengar kabar duka itu pagi harinya. Matanya sedikit sembab, tetapi bibirnya tetap tersenyum getir.
Sosok di Balik Panggung
“Bagi saya, Dirman bukan sekadar kru,” ucap Cak Lontong lirih sambil menatap potret almarhum yang tersenyum riang. “Dia adalah perekat pertunjukan. Kalau saya di depan, dia yang memastikan di belakang semuanya siap. Dia yang menata panggung, yang mengatur lampu, yang bahkan hafal kapan saya butuh segelas wedang jahe sebelum show.”
Sudirman Effendi, atau yang akrab disapa Dirman, meninggal dunia pada usia 57 tahun akibat komplikasi penyakit ginjal yang dideritanya dalam diam. Selama bertahun-tahun, ia memilih tak banyak bercerita tentang sakitnya, karena tak ingin merepotkan rekan-rekannya. Cak Lontong mengenang pertama kali bertemu Dirman pada 1997, saat keduanya terlibat dalam sebuah proyek sinetron komedi.
“Waktu itu Dirman masih jadi asisten properti. Dia orangnya teliti, kreatif, tapi nggak banyak omong. Saya ingat dia pernah bikin replika pintu kulkas dari kardus bekas yang bisa bunyi ‘kriikk’ persis aslinya, hanya pakai pegas rusak. Itu detail kecil yang bikin penonton tertawa, dan semua berkat dia,” kenang Cak Lontong, kali ini matanya berkaca-kaca.
Kenangan yang Tak Pernah Usang
Di sela-sela pembacaan doa, Cak Lontong menceritakan satu momen tak terlupakan saat menggelar pertunjukan amal di daerah bencana pada 2006. Malam itu, gempa susulan terjadi tepat ketika ia hendak naik ke panggung darurat. Semua panitia panik, penonton berlarian, tetapi Dirman tetap berdiri di belakang tirai, memegang tripod lampu agar tak roboh menimpa orang.
“Saya teriak suruh dia nyari aman, tapi dia malah balas teriak, ‘Tenang, Cak! Ini panggung kita. Kalau roboh ya kita benerin lagi.’ Kata-kata itu terus saya ingat sampai sekarang. Dia mengajarkan saya arti tanggung jawab, bahkan ketika bumi ikut berguncang,” ujarnya. Para pelayat yang semula hening mulai mendengarkan dengan khusyuk, beberapa mengangguk sambil menyeka air mata.
Dirman memang dikenal sebagai the unsung hero di balik banyak acara komedi besar yang melibatkan Cak Lontong. Mulai dari turnamen Stand Up Comedy nasional, pementasan teater Sukabumi Bergetar, hingga acara lawak tahunan di televisi. Ia tak pernah muncul di layar, tetapi namanya selalu disebut dalam doa-doa kecil Cak Lontong sebelum naik panggung.
Tawa di Tengah Duka
Menjelang pukul sepuluh malam, suasana rumah duka berubah hangat. Atas permintaan pihak keluarga, Cak Lontong diminta berbagi cerita lucu tentang almarhum. Dengan suara bergetar, ia bangkit, mengambil posisi di depan hadirin, dan mulai bercerita tentang kejadian konyol saat Dirman tanpa sengaja menukar naskah Cak Lontong dengan daftar belanjaan istrinya pada sebuah gladi resik.
“Bayangkan, saya baca teks monolog serius, tiba-tiba kalimatnya berubah jadi ‘garam dapur 1 bungkus, telur 2 kilogram’. Saya kaget, penonton diam. Tapi Dirman malah cengar-cengir di balik panggung, tangannya melambai-lambai minta maaf. Akhirnya penonton malah ngakak, dan nomor komedi itu jadi legendaris sampai sekarang,” tuturnya sambil terbahak kecil. Tawa pun meledak di ruang duka, sejenak menggantikan duka yang menggantung.
Anak sulung Dirman, Rizky (26), mengaku terharu melihat sosok Cak Lontong hadir langsung dan menghibur hati keluarga yang kehilangan. “Bapak selalu cerita soal Cak Lontong. Katanya, di antara semua artis yang pernah dilayani, Cak Lontong yang paling manusiawi. Selalu nanya kabar, nggak pernah sungkan duduk bareng di belakang panggung. Kehadiran beliau malam ini jadi obat rindu buat kami,” ujar Rizky dengan mata memerah.
Saat jenazah diberangkatkan ke tempat peristirahatan terakhir, Cak Lontong turut serta menggotong keranda bersama rekan-rekan kru lainnya. Langkahnya mantap, meski langit subuh mulai gerimis. Ia mencium peti itu sekali lagi dan berbisik, “Selamat jalan, sobat. Terima kasih sudah jadi wingman terbaik di panggung mana pun.”
Kisah Cak Lontong di rumah duka malam itu bukan tentang komedi yang kehilangan tawa. Justru sebaliknya, ia menjadi pengingat bahwa di balik setiap senyum yang lahir di atas panggung, ada cinta dan dedikasi tenang dari mereka yang tak pernah menuntut tepuk tangan. Sebuah perjalanan persahabatan yang sederhana, namun menyentuh.
Baca juga:
Comments (0)