Soekarno Pencetus Pancasila Derita Depresi di Masa Tua
Jakarta — Setiap 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila, tetapi tidak banyak yang mengingat bahwa sang penggali dasar negara itu menjala
Jakarta — Setiap 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila, tetapi tidak banyak yang mengingat bahwa sang penggali dasar negara itu menjalani masa tua yang amat memilukan. Soekarno, presiden pertama yang mencetuskan lima sila dalam pidato bersejarahnya di depan Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPK), menghabiskan tahun‑tahun terakhirnya dalam pengasingan, sakit keras, dan depresi mendalam akibat dicampakkan oleh rezim yang dulu ia besarkan.
Dari Panggung Dunia ke Penjara Sunyi
Pidato Soekarno pada 1 Juni 1945 menjadi fondasi ideologis Indonesia. Ia merangkai gagasan kebangsaan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan ketuhanan dalam satu nafas yang kelak disahkan oleh Panitia Sembilan. Namun, tragedi 30 September 1965 menjadi pemutus segalanya. Setelah keluarnya Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) pada 1966, kekuasaan Soekarno secara de facto terenggut. Ia diizinkan tinggal di Istana Bogor, namun sekaligus menjadi tahanan politik di rumahnya sendiri.
“Aku lebih suka mati daripada mengemis pengampunan kepada siapa pun,” tulis Soekarno dalam sepucuk surat yang diselundupkan dari pengasingan.
Kronologi Penderitaan Sang Proklamator
- 20 Februari 1967: Setelah Mahkamah Militer Luar Biasa menolak pembelaannya, Soekarno menyerahkan kekuasaan pemerintahan kepada Soeharto dan dipindahkan ke Istana Bogor. Semua akses komunikasi dibatasi.
- 1968–1970: Kondisi kesehatannya merosot tajam. Ia menderita gagal ginjal, infeksi saluran kemih, dan pembengkakan prostat. Permintaan berobat ke luar negeri tak pernah dikabulkan.
- 15 Juni 1970: Soekarno menulis surat terakhir kepada Presiden Soeharto memohon agar diizinkan berobat ke Algiers. Surat itu tak pernah dijawab.
- 21 Juni 1970: Soekarno wafat di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto pada pukul 07.00 WIB. Jenazahnya dimakamkan di Blitar di tengah pengawalan ketat, jauh dari keramaian simpatisan yang dibatasi.
Surat yang Tak Terjawab dan Depresi yang Menghancurkan
Kesepian menjadi pukulan terberat. Istri‑istrinya, kecuali Ratna Sari Dewi yang pulang ke Jepang, dan anak‑anaknya dilarang sering mengunjungi. Soekarno yang dulu dikelilingi pemimpin dunia kini hanya ditemani beberapa prajurit penjaga. Saksi mata menuturkan bahwa Soekarno kerap berbicara sendiri dan menangis di sudut istana yang dingin. Kondisi itu memperparah tekanan psikologisnya hingga ia benar‑benar kehilangan semangat hidup.
Dalam memoar yang diungkap para sejarawan, Soekarno sempat menulis, “Pancasila yang ku gali dari bumi Indonesia kini dilecehkan oleh mereka yang mengaku penerusku.” Kalimat itu menggambarkan kepedihan seorang bapak bangsa yang melihat ideologinya dibelokkan untuk kepentingan rezim baru.
Warisan yang Terus Hidup
Meskipun wafat dalam kesunyian, pemikiran Soekarno tentang Pancasila tetap menjadi suluh bagi negeri. Setiap kali Pancasila dikumandangkan, terselip kisah manusia yang menggagasnya di tengah perjuangan, lalu pulang ke pangkuan sejarah dengan air mata. Tragedi ini menjadi cermin bagi generasi penerus: bahwa pengkhianatan terhadap pendiri bangsa tak hanya melukai manusia, tetapi juga meretakkan fondasi negara.
[SOCIAL_TWEET]: Bapak Pancasila wafat dalam kesunyian setelah diasingkan di istananya sendiri. Soekarno menderita gagal ginjal, depresi, dan surat permohonan berobatnya tak pernah dijawab. Ironi sejarah yang tak boleh dilupakan. #Soekarno #Pancasila #SejarahIndonesia[SOCIAL_TG]: 😢 Ironi Sejarah: Soekarno, penggagas Pancasila, wafat dalam pengasingan. Depresi, sakit ginjal, dan surat yang tak dijawab menjadi saksi bisu pengkhianatan terhadap bapak bangsa. Baca selengkapnya.
Comments (0)