Resep Kue Lapis Hunkwe Tanpa Santan ala Rumah Makan Tangerang
Suatu Sabtu sore, hujan rintik-rintik mengguyur Tangerang. Di antara deretan ruko baru yang modern, saya menemukan sebuah rumah makan mungil dengan papan nama kayu bertuliskan "Dapur Kami". Dari luar,...
Suatu Sabtu sore, hujan rintik-rintik mengguyur Tangerang. Di antara deretan ruko baru yang modern, saya menemukan sebuah rumah makan mungil dengan papan nama kayu bertuliskan "Dapur Kami". Dari luar, terdengar canda tawa anak-anak dan aroma wangi pandan yang menyelinap di udara. Saya melangkah masuk, dan seketika disambut senyum hangat Bu Sari, sang pemilik. Di mejanya yang sederhana, terhidang aneka masakan rumah: sayur asem, ayam goreng, tempe bacem, dan yang paling menyita perhatian—sepotong kue lapis warna hijau yang berkilau. Itulah perkenalan pertama saya dengan kue lapis hunkwe tanpa santan, yang kemudian menjadi cerita yang ingin saya tuliskan.
Rumah Makan Keluarga yang Menyimpan Cerita
Rumah makan Dapur Kami bukan sekadar tempat makan. Ia adalah perpanjangan dari dapur keluarga Pak Harto dan Bu Sari. Pasangan ini membuka usaha kuliner sejak 2015 setelah pensiun dari pekerjaan kantoran. Awalnya hanya melayani pesanan katering kecil-kecilan, tetapi tetangga dan kerabat yang sering singgah meminta agar mereka membuka rumah makan sederhana. "Kami ingin setiap orang yang datang merasa seperti pulang ke rumah sendiri," kata Pak Harto. Konsep ini terbukti sukses; dalam beberapa bulan, Dapur Kami mulai ramai. Meja-meja dipenuhi keluarga yang menikmati suasana tanpa sekat. Tidak ada daftar menu cetak, karena setiap hari masakan berubah sesuai bahan segar yang didapat Bu Sari di pasar. Namun, ada satu menu yang tetap bertahan: kue lapis hunkwe. "Kue ini adalah primadona," ujar Bu Sari. "Banyak yang ke sini hanya untuk membelinya."
Inovasi Tanpa Santan yang Mengubah Segalanya
Resep asli kue lapis hunkwe menggunakan santan kental. Tetapi Bu Sari melihat kebutuhan pelanggannya—beberapa memiliki kolesterol tinggi, yang lain hanya tidak menyukai rasa santan yang terlalu berat. Dengan tekun, ia bereksperimen di dapur mungilnya. Setelah puluhan kali mencoba, ditemukanlah komposisi tepat: susu cair sebagai pengganti santan, ditambah margarin yang memberikan kelembutan ekstra. "Anak saya yang paling suka karena tidak enek," cerita Bu Sari. Pelanggan pun merespons positif. Kue lapis hunkwe tanpa santan ini terasa lebih ringan, dengan tekstur kenyal dan lembut yang pas. Warna hijaunya alami dari daun pandan yang diblender sendiri, bukan sekadar pasta buatan. "Kami tidak pakai pewarna, karena kami ingin kue ini menjadi warisan sehat untuk anak cucu," tambahnya.
Proses Memasak yang Penuh Kesabaran
Setiap pukul enam pagi, Bu Sari sudah berada di dapur. Tepung hunkwe yang digunakan adalah kualitas terbaik, diayak tiga kali agar tidak ada gumpalan. Gula pasir dipilih yang halus agar mudah larut. Proses melapis dimulai: loyang diolesi tipis minyak, lalu adonan pertama dituang dan dikukus. Lima menit kemudian, lapisan berikutnya, begitu seterusnya hingga dua belas lapis. "Harus sabar, kalau terburu-buru hasilnya tidak cantik," kata Bu Sari sambil menunjukkan kue yang baru matang, dengan lapisan yang rapi dan warna hijau transparan yang memikat. Proses ini memakan waktu hampir dua jam hanya untuk satu loyang. Namun, hasilnya sepadan. Ketika kue dipotong, terlihat garis-garis lapis yang sempurna, bak karya seni. Setelah dingin, kue ini siap disajikan. Biasanya, Bu Sari menambahkan taburan kelapa parut kukus di atasnya, tetapi banyak pelanggan menikmatinya polos.
Resep Kue Lapis Hunkwe Tanpa Santan ala Dapur Kami
Berikut resep lengkap yang bisa Anda coba di rumah, disarikan dari dapur Bu Sari:
- 100 gram tepung hunkwe (merk apa saja, asal berkualitas baik)
- 150 gram gula pasir putih
- 500 ml susu cair (bisa susu sapi segar atau UHT)
- 50 gram margarin, lelehkan
- 1 sendok teh pasta pandan alami (atau air perasan 10 lembar daun pandan)
- Sejumput garam halus
Cara membuat: Campur tepung hunkwe, gula, dan garam dalam wadah. Tuang susu perlahan sambil diaduk hingga larut dan tidak bergerindil. Masukkan margarin leleh dan pasta pandan, aduk rata. Saring adonan menggunakan saringan kawat agar benar-benar halus. Siapkan loyang ukuran 18x18 cm yang sudah diolesi minyak tipis, lalu panaskan kukusan hingga air mendidih. Tuang sekitar 100 ml adonan ke loyang, ratakan, dan kukus selama 5 menit dengan api sedang. Ulangi proses menuang dan mengukus hingga adonan habis (akan terbentuk sekitar 10-12 lapisan). Untuk lapisan terakhir, kukus selama 15 menit agar benar-benar matang. Angkat, biarkan dingin pada suhu ruang, lalu simpan dalam kulkas sebentar agar lebih mudah dipotong. Potong-potong sesuai selera, dan kue siap dinikmati.
Kue yang Menghubungkan Generasi
Bagi keluarga Harto, kue lapis ini bukan sekadar suguhan. Di setiap lapisannya, tersimpan memori tentang nenek yang dulu rajin membuatnya saat mereka masih kecil. "Setiap kali saya melapis adonan, saya teringat nenek yang selalu bilang, 'Sabar, ya, Le. Hasil yang baik butuh waktu,'" kenang Bu Sari dengan mata berkaca-kaca. Kue ini juga menjadi jembatan antara generasi. Cucu-cucunya kini ikut belajar membuat, meski sering tidak sabar menunggu proses mengukus. Di hari-hari besar seperti Idulfitri atau Natal, Dapur Kami sering mendapat pesanan hingga puluhan loyang. Bahkan, ada pelanggan yang sengaja datang dari Jakarta hanya untuk membawa pulang kue ini sebagai oleh-oleh. "Rasanya berbeda," kata seorang pelanggan setia, Ibu Nina. "Seperti ada cinta di dalamnya."
Tempat di Mana Semua Orang Menjadi Keluarga
Saat ini, Dapur Kami tidak hanya menjadi tempat makan, tetapi juga ruang komunitas. Setiap bulan, mereka mengadakan kelas memasak gratis untuk ibu-ibu sekitar, berbagi resep dan cerita. "Kami ingin warisan ini tidak berhenti di kami. Biarlah semakin banyak yang bisa menikmati dan meneruskannya," tutup Pak Harto. Sore itu, saya meninggalkan rumah makan dengan perut kenyang dan hati yang hangat. Di tangan saya, sebungkus kue lapis hunkwe tanpa santan yang lembut siap dibawa pulang. Di luar, hujan sudah reda, dan langit Tangerang tampak lebih cerah. Saya tahu, saya akan kembali lagi ke tempat ini—bukan hanya untuk kuenya, tetapi untuk merasakan kembali kehangatan yang ditawarkannya.
Comments (0)