Arif Satria Bahas Inovasi Satelit di APSAT 2026 Jakarta
Jakarta – Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria tampil sebagai pembicara kunci pada Asia Pacific Satellite International Conference (A
Jakarta – Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria tampil sebagai pembicara kunci pada Asia Pacific Satellite International Conference (APSAT) 2026 yang berlangsung di Jakarta, Selasa (12/5/2026). Dalam pidatonya, ia menekankan pentingnya kemandirian teknologi satelit bagi Indonesia.
Konferensi tahunan yang mempertemukan para pakar, peneliti, dan industri satelit se-Asia Pasifik ini menjadi panggung strategis bagi Indonesia untuk memamerkan perkembangan riset luar angkasa. Arif Satria mengungkap data terbaru bahwa Indonesia telah mengoperasikan 8 satelit aktif di orbit, terdiri dari satelit komunikasi, penginderaan jauh, dan sains.
Inovasi Satelit BRIN untuk Konektivitas dan Mitigasi Bencana
Arif menjelaskan bahwa BRIN melalui Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa (ORPA) sedang mengembangkan satelit eksperimental LAPAN-A5 yang diproyeksikan meluncur pada 2027. “Satelit ini akan dilengkapi sensor multimoda untuk pemantauan kebencanaan dan ketahanan pangan,” ujarnya. Selain itu, BRIN juga menggandeng sejumlah startup dalam negeri untuk membangun konstelasi satelit nano guna menyediakan internet murah di wilayah 3T (terdepan, terpencil, tertinggal).
“Kami tidak hanya mengejar kuantitas, tetapi juga kualitas data dan dampak langsung bagi masyarakat. Setiap satelit harus memberikan manfaat nyata, dari pemetaan lahan hingga peringatan dini bencana,” kata Arif Satria di hadapan 500 peserta dari 15 negara.
Konferensi APSAT tahun ini mengangkat tema “Uniting the Sky for a Sustainable Future”. Indonesia menjadi tuan rumah setelah sebelumnya diadakan di Tokyo dan Canberra. Arif menambahkan bahwa BRIN telah mengalokasikan anggaran riset satelit sebesar Rp 1,2 triliun pada tahun 2026, naik 15% dari tahun sebelumnya.
Kolaborasi Regional dan Transfer Teknologi
Dalam sesi panel, Arif Satria menyoroti pentingnya kolaborasi dengan negara maju seperti Jepang, Korea Selatan, dan India untuk transfer teknologi propulsi dan sistem kendali satelit. Ia mengumumkan penandatanganan nota kesepahaman antara BRIN dan Japan Aerospace Exploration Agency (JAXA) terkait pertukaran data satelit penginderaan jauh untuk pemantauan lahan gambut dan hutan tropis.
Berikut perbandingan jumlah satelit aktif negara Asia Pasifik yang disajikan dalam konferensi:
| Negara | Jumlah Satelit Aktif | Fokus Utama |
|---|---|---|
| Indonesia | 8 | Komunikasi, penginderaan jauh |
| India | 58 | Navigasi, penginderaan, sains |
| Australia | 14 | Komunikasi, cuaca |
| Jepang | 28 | Eksplorasi, telekomunikasi |
Meski tertinggal jumlah, Arif optimistis Indonesia mampu mengejar ketertinggalan dengan strategi hilirisasi riset dan kemitraan swasta. “Kita harus membangun ekosistem antariksa yang berkelanjutan,” tegasnya.
Dampak Ekonomi dan Sosial
Para ekonomi memproyeksikan industri satelit Indonesia dapat menyumbang Rp 45 triliun pada 2030, terutama dari layanan data dan komunikasi. BRIN juga mendorong agar satelit riset dapat dimanfaatkan untuk memonitor area perikanan hingga memetakan pulau-pulau terluar. “Dengan data satelit, kita bisa mengoptimalkan jalur pelayaran dan menjaga kedaulatan NKRI,” ucap Arif, disambut tepuk tangan peserta.
[SOCIAL_TWEET]: Arif Satria di APSAT 2026: RI kini punya 8 satelit aktif & kucurkan Rp1,2T untuk riset antariksa. LAPAN-A5 siap meluncur 2027! #BRIN #APSAT2026 #TeknologiSatelit[SOCIAL_TG]: 🛰️ BRIN gencar kembangkan satelit! Anggaran 2026 naik 15% jadi Rp1,2T. Kolaborasi dengan JAXA dan startup lokal makin erat. Target: internet murah hingga pelosok. #infoBRIN
Comments (0)