Snouck Hurgronje Nekat Menyusup ke Makkah dan Pulang Mualaf
Riyadh — Pemerintah Arab Saudi secara tegas melarang non‑Muslim memasuki Kota Makkah. Namun, pada 1885, seorang orientalis Belanda bernama Christiaan Snouc
Riyadh — Pemerintah Arab Saudi secara tegas melarang non‑Muslim memasuki Kota Makkah. Namun, pada 1885, seorang orientalis Belanda bernama Christiaan Snouck Hurgronje berhasil menerobos larangan itu dengan penyamaran sempurna. Kisah nekatnya itu bukan cuma soal spionase intelektual, melainkan juga tentang seorang yang kemudian pulang sebagai mualaf—setidaknya di atas kertas.
Misi Terselubung di Balik Jubah Putih
Snouck Hurgronje, yang lahir di Oosterhout pada 1857, adalah sarjana brilian dari Universitas Leiden. Ia mendalami bahasa Arab dan hukum Islam hingga akhirnya mendapat tugas dari pemerintah kolonial Hindia Belanda untuk menyelidiki jaringan umat Islam di Nusantara yang dianggap menghambat penjajahan. Agar bisa memahami Islam dari sumbernya, ia harus masuk ke jantungnya: Makkah.
Setelah tiba di Jeddah pada 1884, Snouck memulai transformasi radikal. Ia menjalani sunat, mengganti nama menjadi Abdul Ghaffar, menguasai logat Mekkah dengan sempurna, dan hidup layaknya seorang alim. Dengan bekal foto-foto palsu dan jaminan dari ulama setempat yang percaya, ia berhasil memasuki Kota Suci dan menetap selama enam bulan.
Dokumentasi Tersembunyi dari Tanah Haram
Selama di Makkah, Snouck tidak hanya menjalankan ibadah haji dan menuntut ilmu kepada para syekh ternama, tetapi juga mengumpulkan data etnografis yang luar biasa rinci. Ia memotret berbagai sudut kota—sesuatu yang nyaris mustahil pada masa itu—dan mencatat arus jemaah haji dari Jawa, Aceh, dan Asia Tenggara lainnya. Hasilnya adalah buku klasik Mekka (1888–1889), yang hingga kini dianggap sebagai sumber orientalisme paling otoritatif tentang masyarakat Muslim di wilayah itu.
“Snouck Hurgronje bukan sekadar pengamat, ia melebur dalam subjeknya hingga titik di mana identitas menjadi abu‑abu,” tulis sejarawan Leiden, Wim van den Doel.
Kontroversi Keislaman yang Abadi
Pertanyaan yang terus mengemuka: apakah Snouck benar‑benar memeluk Islam? Setelah kembali ke Hindia Belanda, ia menjabat sebagai penasihat urusan pribumi dan justru mendesain kebijakan represif terhadap umat Islam, terutama di Aceh. Sarannya yang paling kontroversial adalah memisahkan praktik agama dari identitas politik dan menghancurkan ulama sebagai pemimpin perlawanan.
Di sisi lain, Snouck tidak pernah secara terbuka menyatakan murtad. Ia tetap menggunakan nama Abdul Ghaffar dalam korespondensi pribadi, mempraktikkan sejumlah ritual, dan menikahi perempuan Muslim Jawa bernama Sangkana yang memberinya dua anak. Bagi sebagian pengamat, ia adalah orientalis oportunis yang menggunakan Islam sebagai topeng. Bagi yang lain, ia adalah pencari kebenaran yang goyah di antara dua dunia.
Warisan Kelabu Sang Penyamar
Kisah Snouck Hurgronje tidak bisa dilepaskan dari jejak kolonialisme. Ia membantu Belanda menaklukkan Aceh dengan memanfaatkan ilmu yang ia dapat dari kedok keislamannya. Namun, metode penyamarannya juga menunjukkan betapa cairnya identitas religius ketika ambisi dan politik bertemu. Hingga kini, foto‑foto potret Snouck dengan jubah dan sorban tersimpan di Perpustakaan Universitas Leiden—menjadi saksi bisu dari seorang non‑Muslim yang berani menyerbu Masjidil Haram dan pulang dengan gelar “mualaf” yang diperdebatkan.
[SOCIAL_TWEET]: Pada 1885, Snouck Hurgronje nekat menyusup ke Makkah dengan jadi Abdul Ghaffar. Ia pulang sebagai mualaf, lalu merancang taktik kolonial untuk menundukkan Aceh. Siasat atau iman? #SnouckHurgronje #SejarahIslam #Mekkah[SOCIAL_TG]: 🕌 Seorang orientalis Belanda menyamar jadi muslim, masuk Makkah, dan pulang bawa buku 'Mekka'. Tapi kemudian ia jadi dalang perang Aceh. Snouck Hurgronje: mualaf atau penyusup? Simak ceritanya.
Comments (0)