Senyap Tangis di GPIB Effata, Temon Berpulang ke Peristirahatan Terakhir

Senin siang itu, langit di sekitar kawasan Tangerang tampak lebih teduh dari biasanya. Di dalam gedung Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) Effata, suasana syahdu berpadu dengan aroma lil...

Jul 13, 2026 - 16:05
0 0
Senyap Tangis di GPIB Effata, Temon Berpulang ke Peristirahatan Terakhir

Senin siang itu, langit di sekitar kawasan Tangerang tampak lebih teduh dari biasanya. Di dalam gedung Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) Effata, suasana syahdu berpadu dengan aroma lilin dan bunga yang tertata rapi di dekat altar. Puluhan orang hadir, mengenakan pakaian serba hitam dan putih, sebagian menggenggam sapu tangan yang mulai lembap oleh air mata. Mereka bukan sekadar jemaat atau tamu undangan—mereka adalah keluarga, sahabat, dan rekan seperjalanan yang telah lama mengenal sosok yang terbujur kaku di dalam peti kayu berwarna cokelat muda itu. Temon, panggilan akrab almarhum, seolah hanya tertidur di dalam kotak persegi panjang yang kini menjadi pusat perhatian.

Prosesi ibadah pelepasan berlangsung khusyuk. Seorang pendeta berdiri di mimbar, memimpin doa dengan suara bergetar. Di barisan depan, keluarga inti duduk berdekatan, saling menggenggam erat seakan tak ingin kehilangan pegangan. Lantunan kidung pujian mengalun lembut dari keyboard dan suara jemaat yang bernyanyi tanpa semangat, lebih mirip bisikan doa yang memohon kekuatan. Tibalah momen ketika peti jenazah ditutup untuk terakhir kalinya—sebuah ritual yang menandai bahwa tubuh fana ini telah selesai menjalani tugasnya di dunia. Tangis histeris seorang perempuan paruh baya memecah keheningan. Dia adalah kakak kandung almarhum, yang sejak pagi terus duduk di samping peti, sesekali mengelus permukaan kayu yang dingin.

Ibadah Tutup Peti: Lebih dari Sekadar Ritual

Di GPIB Effata, ibadah tutup peti bukan sekadar seremoni keagamaan biasa. Setiap detailnya sarat makna—mulai dari pemilihan bacaan Alkitab, khotbah singkat yang menguatkan, hingga doa penyerahan yang syahdu. Pendeta menyampaikan refleksi tentang kehidupan yang fana dan harapan akan kebangkitan. “Hari ini kita melepas seorang saudara yang telah menyelesaikan pertandingan imannya dengan setia,” ujar pendeta, suaranya bergema di antara dinding-dinding ruangan yang hening. Beberapa jemaat terisak, sementara yang lain hanya menunduk dalam-dalam, mungkin sedang mengenang pertemuan terakhir mereka dengan almarhum.

Bagi keluarga, momen ini adalah perpisahan paling berat. Mereka harus merelakan raga yang dulu penuh tawa dan cerita untuk selamanya bersemayam dalam tanah. “Dia itu selalu ceria, bahkan saat sakit pun dia masih bisa bikin kami tertawa. Sekarang dia pergi dengan damai,” ucap seorang kerabat dengan suara parau, matanya masih sembap. Kutipan sederhana itu seperti mewakili perasaan semua orang yang hadir. Temon bukanlah figur publik atau tokoh terkenal, melainkan seorang warga biasa yang jejak kebaikannya terasa begitu dekat di hati orang-orang yang mencintainya.

Ketika peti resmi ditutup, suasana berubah menjadi campuran antara duka dan penerimaan. Anak-anak kecil yang mungkin belum sepenuhnya mengerti arti kematian, hanya bisa melihat orang dewasa di sekitar mereka menangis. Lilin-lilin di sudut ruangan tetap menyala, simbol bahwa cahaya kehidupan almarhum tak akan pernah padam dalam ingatan.

Menuju Tanah Kusir: Iringan Doa di Sepanjang Jalan

Setelah ibadah selesai, peti jenazah diangkat perlahan oleh enam orang yang sebagian besar adalah kerabat dekat. Mereka berjalan hati-hati menuju kendaraan jenazah yang sudah menanti di pelataran parkir. Langkah kaki yang pelan itu seolah berbicara: “Kami tak ingin buru-buru melepasmu.” Di atas aspal yang mulai memanas oleh matahari siang, iring-iringan doa mengalun. Beberapa orang melantunkan Amazing Grace dengan tempo yang lebih lambat dari biasanya, menciptakan lanskap audio yang begitu menyentuh.

Rombongan kemudian bergerak perlahan meninggalkan halaman gereja. Mobil jenazah berwarna silver melaju di depan, diikuti oleh belasan kendaraan pribadi yang membawa keluarga dan pelayat. Tujuan mereka adalah Tempat Pemakaman Umum (TPU) Tanah Kusir, Jakarta Selatan—sebuah kompleks pemakaman yang menjadi rumah terakhir bagi ribuan orang dari berbagai latar belakang. Rute yang mereka tempuh agak panjang, melewati jalan-jalan protokol yang siang itu tidak terlalu padat. Di dalam mobil, seorang sepupu almarhum mengenang momen-momen terakhir sebelum Temon mengembuskan napas terakhir. “Dia sempat bilang, ‘Jangan lama-lama nangis, ya. Nanti aku malah susah jalannya.’ Dia memang selalu begitu, memikirkan perasaan orang lain meski dirinya sendiri sedang berjuang,” kenangnya lirih.

Di TPU Tanah Kusir, liang lahat sudah disiapkan sebelumnya. Para penggali kubur berdiri di pinggir lubang yang rapi, menunggu dengan sabar. Lokasinya cukup teduh, diapit oleh pohon kamboja yang sedang berbunga. Tanahnya masih basah, mungkin sempat diguyur hujan ringan pada malam sebelumnya. Begitu mobil jenazah memasuki area pemakaman, suara azan dari masjid sekitar terdengar sayup-sayup, seolah menjadi latar yang menyejukkan bagi seluruh prosesi.

Sekop Tanah dan Segenggam Kenangan

Prosesi pemakaman berlangsung sederhana namun khidmat. Peti diturunkan dari mobil, lalu diarak ke sisi liang lahat. Pendeta kembali memimpin doa singkat, mengucapkan kalimat-kalimat penghiburan dari Kitab Suci. Tidak ada pidato panjang, tidak ada seremoni berlebihan—hanya ada doa, isak tangis, dan pelukan antar kerabat yang saling menguatkan. Setiap orang yang hadir, tanpa diminta, bergantian melemparkan bunga tabur atau segenggam tanah ke atas peti yang mulai turun ke dasar liang. Suara tanah yang menghantam kayu peti menciptakan dentuman kecil yang entah kenapa terasa begitu berat di dada.

Di tengah kepedihan, ada pemandangan yang menghangatkan hati. Seorang anak laki-laki berusia sekitar enam tahun, yang diduga cucu almarhum, ikut menaburkan bunga. Wajah polosnya tidak menunjukkan kesedihan mendalam, melainkan rasa ingin tahu. Ibunya, yang berdiri di samping, kemudian berbisik, “Kakek sudah pulang ke surga, Nak. Nanti kita ketemu lagi.” Kalimat itu seperti obat bagi luka yang menganga. Harapan akan perjumpaan kembali menjadi jangkar yang menahan keluarga agar tidak tenggelam dalam duka.

Setelah peti sepenuhnya tertutup tanah, para pelayat perlahan membubarkan diri. Sebagian masih berdiri di sekitar makam, menatap gundukan tanah yang kini menjadi penanda terakhir. Nama Temon mungkin tidak akan terpahat di monumen besar atau tercatat di buku sejarah, tetapi bagi orang-orang yang mengenalnya, ia adalah seorang guru kehidupan yang mengajarkan arti ketulusan. Perjalanannya dari GPIB Effata hingga Tanah Kusir bukanlah perjalanan menuju akhir, melainkan sebuah transisi menuju keabadian yang diyakini oleh iman mereka.

Senja mulai merambat di langit Jakarta ketika keluarga terakhir meninggalkan TPU Tanah Kusir. Di belakang mereka, lampu-lampu pemakaman mulai menyala satu per satu, menjaga agar malam tidak terlalu gelap bagi para peziarah yang mungkin datang esok hari. Dan di atas makam yang masih basah, sebuah salib kayu sederhana ditancapkan, menunggu untuk dihiasi kenangan dan doa-doa yang tak akan pernah usai.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
galih-pratama

Editor Teknologi. Mantan software engineer. Meliput AI, cloud, dan transformasi digital.

Comments (0)

User