Pecahan Kaca dan Air Mata di Toko Bangunan Purwakarta, Gegana Masih Bekerja
Belum lagi azan subuh berkumandang sempurna, langit di salah satu sudut Purwakarta mendadak dirobek bunyi yang tak biasa. Bukan petir, bukan pula tabrakan kendaraan. Suara itu tumpul tetapi menghentak...
Belum lagi azan subuh berkumandang sempurna, langit di salah satu sudut Purwakarta mendadak dirobek bunyi yang tak biasa. Bukan petir, bukan pula tabrakan kendaraan. Suara itu tumpul tetapi menghentak, membuat warga di sekitar Jalan Veteran terbangun dengan jantung berdebar. Di sebuah toko bangunan sederhana yang sudah menjadi urat nadi para tukang dan perajin setempat, kaca-kaca jendela hancur berserakan, dan sebagian atap seng tergantung lunglai. Di tengah puing itulah, sebuah kisah tentang rasa aman yang terusik perlahan dituliskan.
Ledakan yang Mengguncang Pagi
Halimah, perempuan separuh baya yang tinggal tiga rumah dari toko, langsung meraih selendang dan berlari keluar. Ia mengira pohon besar di pekarangan ambruk. "Tapi yang saya lihat justru kepulan asap tipis dan bau menyengat yang tidak saya kenal," kenangnya, matanya masih menyimpan sisa-sisa panik. Suaminya, Karta, mantan buruh bangunan yang kini membuka warung kopi, menambahkan bahwa getarannya terasa sampai ke fondasi rumah. "Gelas-gelas di etalase beradu. Saya pikir gempa, tapi kok sekilas ada cahaya jingga dari arah toko Pak Jaya."
Toko bangunan milik Jaya Suminta itu memang bukan sekadar tempat jual beli semen dan cat. Bagi warga, toko itu adalah saksi bisu lahirnya puluhan rumah dan lapak usaha. Pagi itu, Jaya yang biasa membuka gerbang sebelum pukul enam, hanya bisa terduduk di bangku batu di seberang jalan. Tangannya gemetar, menatap usahanya yang dibangun lebih dari dua dekade mendadak berantakan. Air mata yang ia tahan akhirnya jatuh juga ketika istrinya, Sari, datang membawa segelas teh hangat. "Barang bisa dicari, Pak. Yang penting kita selamat," bisik Sari sembari memeluk bahu sang suami yang bergetar.
Penantian di Balik Garis Polisi
Tak sampai setengah jam, garis kuning polisi sudah membentang. Mobil patroli, ambulans, dan warga yang berkerumun menjadi satu lukisan muram. Kapolsek setempat segera berkoordinasi dengan jajaran Polres Purwakarta. AKP I Made Purwantara, Kepala Satuan Reskrim yang tiba dengan wajah serius namun tenang, menyampaikan kepada sejumlah wartawan bahwa langkah penyelidikan masih sangat awal. Dengan pilihan kata yang diambilnya hati-hati, ia menekankan bahwa segala kemungkinan masih terbuka, namun ia belum bisa memberikan keterangan pasti.
"Kami dari Reskrim sudah melakukan olah TKP awal, tetapi untuk memastikan jenis bahan atau material yang menjadi pemicu, detilnya ada pada hasil uji laboratorium dari tim Gegana Brimob Polda Jabar," ucapnya dengan nada yang tidak ingin menimbulkan spekulasi. Pernyataan itu menggantung di udara, meninggalkan ruang bagi doa-doa warga yang tak ingin ledakan ini terkait dengan hal-hal yang lebih besar dari sekadar kecelakaan. Sementara itu, Sari terus mengusap punggung suaminya yang sesekali terisak. "Saya tidak mengerti, tidak ada tabung gas yang bocor, tidak ada bahan peledak sedikit pun di toko kami," kata Jaya lirih dengan tatapan kosong ke arah reruntuhan.
Gegana Bekerja, Harapan Mengalir
Menjelang siang, derap sepatu bot petugas Gegana mulai memecah sunyi. Dengan seragam tebal dan peralatan deteksi canggih, mereka memasuki area yang masih beraroma menyengat. Prosesnya tidak tergesa, setiap jengkal lantai toko yang biasanya dipenuhi sak semen dan kaleng cat disisir dengan tekun. Dari kejauhan, tampak petugas mengambil sampel serpihan dan residu abu menggunakan pinset dan kantong khusus. Setiap gerak mereka direkam oleh puluhan pasang mata yang berharap jawaban segera datang.
Di bawah pohon mangga depan toko, Yanto, anak buah Jaya yang sudah sepuluh tahun ikut bekerja, menceritakan bagaimana ia sempat menyimpan galon air di sudut yang kini menjadi lubang menganga. "Untung saya kemarin pulang lebih awal karena ibu sakit. Kalau tidak, mungkin saya ikut jadi korban," ujarnya sambil mengusap wajah. Solidaritas warga pun bermunculan. Ibu-ibu membawa nasi bungkus, pemuda membantu mengamankan barang yang masih bisa diselamatkan di halaman, sementara Ketua RT berusaha menenangkan semua pihak sembari menunggu arahan resmi dari kepolisian.
Hingga petang, tim Gegana masih belum memberikan kesimpulan terbuka. Seorang perwira yang enggan dikutip namanya hanya mengatakan bahwa analisis menyeluruh diperlukan untuk menghindari kesalahan informasi yang dapat meresahkan. "Kami membutuhkan waktu, karena ini menyangkut ketenangan warga," katanya singkat.
Mata Jaya yang memerah terus tertuju pada sisa-sisa bangunan yang dulu setiap pagi menyambutnya dengan bau khas semen dan tumpahan tinner. Namun ketika Sari meraih tangannya dan berbisik, "Toko ini akan kita bangun lagi, Pak," seulas harapan kecil kembali menyalakan laki-laki yang tidak pernah kenal menyerah itu. Di tengah penantian hasil laboratorium yang menegangkan, warga Purwakarta memilih untuk merajut kembali simpul-simpul kebersamaan yang sempat terurai oleh dentuman, sambil terus percaya bahwa ilmu pengetahuan dari tangan dingin tim Gegana akan membawa mereka pada kejelasan yang memerdekakan.
Baca juga:
Comments (0)