Potret Kontras: Manufaktur Tertekan di Indonesia, Vietnam Melaju Jadi Negara Menengah Atas
Jakarta – Satu indikator ekonomi dianggap cukup untuk memotret arah perjalanan Indonesia saat ini: Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur yang terus merosot ke zona kontraksi. Angka di bawah
Jakarta – Satu indikator ekonomi dianggap cukup untuk memotret arah perjalanan Indonesia saat ini: Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur yang terus merosot ke zona kontraksi. Angka di bawah ambang 50 bukan sekadar statistik, melainkan alarm bagi daya saing sektor industri nasional.
Ekonom senior INDEF sekaligus Rektor Universitas Paramadina, Didik J Rachbini, menyampaikan pandangan itu dalam keterangan tertulis yang diterima media kami, Sabtu (4/7/2026). Ia menyoroti paradoks yang tengah berlangsung: produk domestik bruto (PDM) Indonesia mampu tumbuh 5,61 persen pada kuartal sebelumnya, namun denyut nadi industri justru melemah. Menurutnya, pertumbuhan tersebut lebih ditopang oleh dorongan sektor yang digerakkan negara, bukan oleh ekspansi manufaktur yang berkelanjutan.
Rilis terbaru S&P Global menunjukkan PMI manufaktur Indonesia anjlok ke level 46,9 pada Juni 2026. Capaian ini menegaskan bahwa sektor industri sedang berada dalam tekanan berat, kontras dengan narasi pertumbuhan agregat yang masih positif. Didik menegaskan, angka PMI sekaligus menjadi cermin daya tahan struktur ekonomi suatu bangsa.
“Data PMI yang dirilis S&P Global menunjukkan PMI Indonesia berada di 46,9 pada Juni 2026. Berbeda dengan Vietnam yang pertumbuhan ekonominya mencapai 8 persen, faktor pendukungnya tidak lain adalah sektor industri yang dikembangkan 2-3 dekade terakhir ini,” ujar Didik.
Sorotan tajam kemudian diarahkan ke Vietnam. Negara Asia Tenggara itu berhasil mencatatkan pertumbuhan ekonomi menyentuh 8 persen, sebuah loncatan yang membuatnya kini resmi masuk dalam kategori negara berpenghasilan menengah atas. Fondasi capaian itu, tegas Didik, dibangun secara konsisten melalui pengembangan sektor industri selama dua hingga tiga dekade terakhir. Alih-alih bertumpu pada konsumsi atau sektor primer, Vietnam memilih jalur industrialisasi yang terencana dan berorientasi ekspor.
Pelajaran dari Hanoi menjadi relevan bagi Jakarta. Ketika aktivitas manufaktur menyusut, efek domino langsung terasa pada penyerapan tenaga kerja formal, stabilitas neraca perdagangan, dan kecepatan alih teknologi. Vietnam membuktikan bahwa status “negara menengah atas” bukan semata-mata hasil peningkatan pendapatan per kapita instan, melainkan buah dari ekosistem industri yang matang dan kompetitif.
Laporan media kami sebelumnya juga mencatat, indeks manufaktur Indonesia telah bergerak fluktuatif dalam beberapa bulan terakhir, namun belum menunjukkan sinyal pemulihan yang kokoh. Sementara Vietnam terus memikat relokasi pabrik global, Jakarta masih berkutat pada konsumsi domestik dan harga komoditas yang rentan terhadap guncangan global. Perbandingan ini menimbulkan pertanyaan mendasar tentang arah kebijakan industri Indonesia ke depan.
Didik mengingatkan, tanpa revitalisasi sektor riil yang serius, pertumbuhan ekonomi berisiko bersifat semu dan sulit menciptakan lompatan kesejahteraan seperti yang telah dicapai Vietnam. Ia menekankan bahwa pengalaman negara tetangga itu bukan sekadar kisah sukses, melainkan cetak biru yang bisa diadaptasi dengan penyesuaian konteks nasional.
Kini, Indonesia dihadapkan pada pilihan: membiarkan sektor industri terus terpuruk di zona merah, atau mulai membangun ulang fondasi manufaktur yang telah terbukti menjadi mesin penggerak mobilitas sosial dan ekonomi sebagaimana Vietnam tunjukkan di panggung regional.
Comments (0)