Welcome!

Unlock your personalized experience.
Sign Up

Perhutani Bandung Barat Perkuat Sinergi Cegah Karhutla di Kawasan Cibodas

Pagi baru saja merekah ketika langkah-langkah bersepatu boot menyusuri tanah kering di kawasan hutan Cibodas, Kabupaten Bandung Barat. Suara dahan patah da

Jul 09, 2026 - 02:02
0 0

Pagi baru saja merekah ketika langkah-langkah bersepatu boot menyusuri tanah kering di kawasan hutan Cibodas, Kabupaten Bandung Barat. Suara dahan patah dan gemerisik dedaunan menjadi saksi pergerakan sejumlah petugas yang bersiaga penuh. Di tengah musim kemarau yang mulai menunjukkan tajinya, aroma getah pinus bercampur bau tanah kering seolah menjadi alarm alami—satu percikan api mampu melahap ribuan hektare hijau dalam hitungan jam. Kecemasan itu nyata, namun semangat menjaga tetap lebih besar.

Di jalur setapak yang membelah hutan produksi pinus itu, Kepala Resort Polisi Hutan (KRPH) Cibodas, Nana Bely, berjalan paling depan. Di belakangnya, Komandan Regu Polisi Hutan, Budi Hartono, bersama anggota dan perangkat Pemerintah Desa Suntenjaya. Mereka bukan sekadar berjalan. Setiap jengkal tanah, setiap percik cahaya di antara tajuk pohon, diawasi dengan satu tujuan: memastikan tak ada titik api, tak ada gerak mencurigakan, dan tak ada tangan-tangan yang nekat mencuri getah pinus—emas cair bagi sebagian orang, namun ancaman bagi keberlanjutan hutan.

Langkah Preventif di Tengah Ancaman Kemarau

Patroli gabungan ini bukan acara seremonial. Bagi Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Bandung Utara, langkah ini menjadi benteng paling depan dalam mitigasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), bencana alam, dan gangguan keamanan hutan. Administratur KPH Bandung Utara, Deden Yogi Nugraha, menegaskan bahwa musim kemarau mengubah hutan menjadi rentan.

“Perlindungan hutan memerlukan kolaborasi seluruh pihak. Melalui patroli terpadu, sosialisasi kepada masyarakat, serta pengawasan secara rutin, kami berupaya mencegah potensi kebakaran hutan, menjaga keamanan kawasan, dan memastikan kelestarian fungsi hutan tetap terpelihara,” ujarnya, Rabu (8/6/2026).

Di beberapa titik yang dianggap rawan, petugas tak hanya mengamati. Mereka memasang papan larangan dan imbauan—peringatan keras kepada para penggembala, pencari kayu bakar, hingga pejalan kaki, agar tidak membuang puntung rokok sembarangan atau melakukan aktivitas yang memantik api. Papan itu kini berdiri di antara pepohonan, menjadi pengingat bisu bahwa satu kelalaian bisa merenggut segalanya.

Partisipasi Warga, Kunci Pelestarian Hutan

Di sela-sela langkah, suara Kepala Desa Suntenjaya, Asep Wahyono, menyatu dengan angin. Ia tak canggung berbaur dengan regu polisi hutan, karena komitmennya terhadap hutan bukanlah basa-basi. Asep mewakili warga desa yang selama ini hidup berdampingan dengan kawasan hutan. Baginya, hutan adalah warisan yang mesti dijaga bersama.

“Menjaga hutan merupakan tanggung jawab bersama. Sinergi antara Perhutani, pemerintah desa, dan masyarakat menjadi kunci untuk mencegah karhutla dan gangguan keamanan hutan. Kami siap mendukung penuh setiap langkah perlindungan,” ujarnya singkat namun tegas.

Kehadiran perangkat desa dalam patroli ini menandakan bahwa sekat-sekat birokrasi bisa luruh ketika kepentingan bersama dipertaruhkan. Warga sekitar yang kerap memasuki kawasan untuk menggembala atau menyadap getah pinus secara legal diingatkan kembali akan bahaya yang mengintai. Sosialisasi dilakukan dari hati ke hati, bukan dengan nada menggurui, melainkan dengan untaian fakta bahwa hutan yang lestari adalah jaminan hidup yang lebih baik bagi generasi mendatang.

Kini, semak-semak kering di RPH Cibodas masih menunggu hujan. Namun di antara keheningan, ada suara langkah-langkah patroli yang terus bergema. Mereka bukan hanya berjalan—mereka merawat janji untuk tetap menjaga.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User