Pemerintah Luncurkan Sukuk Tabungan ST006 Secara Daring Akhir Tahun

Jakarta – Pada Kamis (7/11/2019), seorang pekerja di ibu kota terpantau tengah mengakses laman resmi Kementerian Keuangan untuk mencari informasi mengenai

Jul 12, 2026 - 11:28
0 1
Pemerintah Luncurkan Sukuk Tabungan ST006 Secara Daring Akhir Tahun

Jakarta – Pada Kamis (7/11/2019), seorang pekerja di ibu kota terpantau tengah mengakses laman resmi Kementerian Keuangan untuk mencari informasi mengenai Sukuk Tabungan seri ST006. Pemandangan itu menjadi potret awal dari peluncuran instrumen Surat Berharga Negara (SBN) ritel terakhir di tahun 2019 yang dilakukan sepenuhnya secara daring. Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan resmi menerbitkan Sukuk Tabungan seri ST006, sebuah produk investasi syariah yang ditujukan bagi masyarakat luas dengan modal terjangkau.

Langkah ini bukan sekadar rutinitas penerbitan SBN ritel, melainkan tonggak penting dalam strategi pembiayaan APBN 2019. ST006 hadir sebagai penutup rangkaian panjang instrumen ritel yang sepanjang tahun telah dijual ke investor domestik, mulai dari Obligasi Negara Ritel (ORI), Sukuk Ritel (SR), hingga Savings Bond Ritel (SBR) dan Sukuk Tabungan sebelumnya. Dengan penerbitan di penghujung tahun, pemerintah ingin memastikan target pembiayaan terpenuhi sekaligus memberikan alternatif penempatan dana yang aman bagi warga yang mendapatkan penghasilan tambahan akhir tahun, seperti Tunjangan Hari Raya (THR) PNS maupun bonus karyawan swasta.

Instrumen Penutup yang Menjadi Andalan

ST006 menempati posisi istimewa karena merupakan sukuk tabungan kedua yang diterbitkan pada 2019 setelah ST005 pada Mei lalu. Namun, ada penyegaran pada fitur yang membuatnya lebih menarik di tengah tren penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia. Kupon ST006 dirancang floating with floor, mengambang mengikuti BI 7-Day Reverse Repo Rate ditambah spread tertentu, tetapi dengan batas minimal alias floor sebesar 6,75 persen per tahun. Artinya, ketika suku bunga acuan kembali dipangkas, investor tetap menikmati imbal hasil di level tersebut. Ini menjawab keresahan masyarakat yang selama ini melihat bunga deposito perbankan terus merosot ke kisaran 5–6 persen.

Imbal hasil dibayarkan setiap bulan, sehingga cocok bagi mereka yang mencari pendapatan pasif rutin—mulai dari pensiunan, pekerja lepas, hingga ibu rumah tangga. Pemesanan minimum hanya Rp1 juta dan bisa dilipatkan dengan kelipatan yang sama. Bagi yang memiliki dana lebih besar, batas maksimal mencapai Rp3 miliar. Seluruh proses, dari pendaftaran hingga pencairan kupon, dilakukan secara online melalui 22 mitra distribusi yang telah ditunjuk, terdiri dari bank syariah, bank umum, hingga perusahaan fintech berizin. Ini menegaskan arah digitalisasi SBN ritel yang kian matang.

Proteksi Ganda dan Fleksibilitas Pencairan

Salah satu daya tarik utama ST006 dibanding produk pasar uang konvensional adalah jaminan keamanannya. Sebagai surat berharga yang diterbitkan negara, pokok dan imbal hasil dijamin penuh oleh Undang-Undang. Tidak ada risiko gagal bayar. Di samping itu, pajak atas imbal hasil hanya 15 persen, lebih rendah dibanding pajak bunga deposito yang bisa mencapai 20 persen untuk jumlah tertentu.

Fitur early redemption atau pencairan lebih awal juga menjadi pembeda yang disukai. Investor dapat mencairkan sebagian kepemilikannya sebelum jatuh tempo, tepatnya setelah satu tahun berjalan, dengan jumlah maksimal 50 persen dari total yang dimiliki. Fitur ini memberikan kenyamanan psikologis: dana tetap likuid walaupun secara nominal instrumen ini tidak dapat diperdagangkan di pasar sekunder. Masa penawaran ST006 dibuka pada 7 November hingga 28 November 2019, dengan tanggal penetapan 4 Desember 2019 dan tenor selama dua tahun atau jatuh tempo pada 10 Desember 2021.

Menyasar Inklusi Keuangan Syariah

Penerbitan ST006 bukan hanya memperdalam pasar keuangan, tetapi juga menopang inklusi keuangan berbasis syariah. “Pemerintah ingin semakin banyak masyarakat yang mengenal dan memiliki instrumen keuangan syariah. ST006 menjadi jembatan karena pembeliannya mudah dan prinsip akad wakalah-nya sesuai fatwa,” jelas seorang pejabat DJPPR kepada awak media di sela-sela pemantauan penjualan.

“Kami berharap ST006 dapat dimanfaatkan masyarakat sebagai instrumen investasi yang aman dan memberikan imbal hasil kompetitif. Penerbitan ini juga mendukung pendalaman pasar keuangan syariah di tanah air,” ujarnya.

Meningkatnya literasi investasi syariah terkonfirmasi dari data penjualan SBN ritel syariah sebelumnya. Seri ST005 yang terbit Mei 2019 mencatatkan kelebihan permintaan (oversubscribed) hingga lebih dari dua kali target awal. Tren ini diyakini berlanjut pada ST006, sejalan dengan meningkatnya kesadaran warga akan pentingnya diversifikasi aset. Tidak sedikit investor pemula yang “berkenalan” dengan produk negara lewat media sosial dan webinar yang diadakan komunitas keuangan.

Antusiasme dan Target Penjualan

DJPPR tidak menyebutkan target pasti penjualan ST006 secara publik. Namun, melihat pola tahun sebelumnya, total penerbitan SBN ritel sepanjang 2019 menembus lebih dari Rp70 triliun, menjadikan segmen ini kontributor penting pembiayaan APBN. ST006 sebagai seri penutup diproyeksikan menyumbang sekitar Rp3 triliun hingga Rp5 triliun, bergantung pada animo masyarakat. Mitra distribusi melaporkan lonjakan pendaftaran akun SBN ritel di hari pertama, terutama dari kanal mobile banking dan aplikasi fintech.

Bagi calon investor, prosesnya sederhana: mendaftar di salah satu mitra distribusi resmi, mengisi formulir pemesanan, lalu mentransfer dana sesuai jumlah yang dipesan. Konfirmasi akan diberikan setelah tanggal penetapan. Setiap bulan, kupon otomatis masuk ke rekening investor. Di akhir tenor, pokok investasi dikembalikan penuh. Skema ini jauh lebih mudah dibandingkan membeli obligasi korporasi atau saham, menjadikan ST006 sebagai entry point investasi yang ramah dan rendah risiko.

Mengapa ST006 Relevan di Akhir 2019

Secara makro, penerbitan ST006 terjadi di tengah transisi suku bunga global yang cenderung turun. The Fed sudah memangkas suku bunga beberapa kali, diikuti oleh Bank Indonesia. Imbal hasil instrumen pendapatan tetap tradisional ikut terkompresi. Dalam situasi ini, surat berharga pemerintah yang menawarkan batas minimum imbal hasil menjadi safe haven yang dicari. Investor pun tidak perlu khawatir volatilitas harga seperti di pasar sekunder karena Sukuk Tabungan memang tidak diperdagangkan sehingga nilai pokoknya tetap.

Selain itu, momentum akhir tahun biasanya diwarnai oleh realisasi bonus dan THR di berbagai sektor. Pemerintah sepertinya sengaja menjadwalkan penawaran ST006 agar warga yang menerima penghasilan tambahan memiliki opsi investasi yang jelas dan tidak hanya dikonsumsi. Dengan tenor hanya dua tahun, instrumen ini juga lebih pendek dibandingkan ORI atau Sukuk Ritel yang biasanya bertenor tiga hingga lima tahun, sehingga lebih fleksibel untuk perencanaan keuangan jangka menengah seperti persiapan biaya pendidikan atau renovasi rumah.

Di sisi fiskal, serapan SBN ritel yang kuat mengurangi ketergantungan pada investor asing dan menekan risiko nilai tukar. ST006 adalah wujud kemandirian pembiayaan negara yang melibatkan rakyat sebagai pemilik negeri secara langsung. Bagi mereka yang mencari imbal hasil aman dengan sentuhan syariah, langkah pekerja Jakarta yang membuka website Kemenkeu pada Kamis pagi itu bisa menjadi langkah awal menuju portofolio yang lebih sehat.

[SOCIAL_TWEET]: Pemerintah resmi luncurkan Sukuk Tabungan ST006, SBN ritel syariah terakhir 2019! Imbal hasil minimal 6,75% per tahun, aman dijamin negara, pembelian online mulai Rp1 juta. Jangan sampai ketinggalan. #ST006 #SukukTabungan #InvestasiSyariah[SOCIAL_TG]: 📢 *BREAKING: ST006 Resmi Dijual!* Pemerintah luncurkan Sukuk Tabungan seri terbaru dengan kupon minimal 6,75%. 🕒 Tenor 2 tahun 💵 Mulai Rp1 juta 📱 Beli online di 22 mitra distribusi Kejar sebelum 28 November! 🕌💰

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User