Perpisahan di Ruang Sidang: Kisah Wardatina Mawa dan Insanul Fahmi
Ruangan itu hening, hanya detak jarum jam dinding yang seolah menghitung sisa detik sebuah ikatan. Di sudut Pengadilan Agama Lubuk Pakam, Rabu (8/7), seorang perempuan duduk dengan mata sembap. Tangan...
Ruangan itu hening, hanya detak jarum jam dinding yang seolah menghitung sisa detik sebuah ikatan. Di sudut Pengadilan Agama Lubuk Pakam, Rabu (8/7), seorang perempuan duduk dengan mata sembap. Tangannya menggenggam erat selembar kertas yang sudah kusut. Di bangku seberang, seorang lelaki menunduk, menatap lantai seakan mencari jawaban yang tak kunjung tiba. Hari itu, dua insan bernama Wardatina Mawa dan Insanul Fahmi menyaksikan bagaimana bahtera yang mereka kayuh bersama akhirnya kandas di hadapan majelis hakim.
Gema Ikrar yang Kini Berubah Sunyi
Delapan tahun silam, Wardatina dan Insanul menikah dengan penuh asa. Mereka bukan pasangan publik figur yang setiap langkahnya disorot kamera; mereka adalah potret sepasang suami istri sederhana yang mencoba merajut mimpi di tengah keterbatasan. Insanul, seorang teknisi, dan Wardatina, seorang penjaga toko, memulai lembaran baru dengan janji setia sehidup semati. Namun, seiring waktu, retakan kecil mulai muncul—retakan yang kemudian menjelma jurang yang tak lagi mampu diseberangi.
Menurut keterangan kerabat yang enggan disebut namanya, konflik bermula dari persoalan ekonomi dan perbedaan pandangan mendidik anak. “Mereka saling mencintai, tapi mungkin cinta saja tidak cukup,” bisik seorang saksi di sela-sela persidangan. Ketidakharmonisan yang semula hanya di ruang keluarga perlahan merembes ke pengadilan, ketika Wardatina mantap mengajukan gugatan cerai pada awal tahun ini.
Ketika Palu Hakim Mengetuk Hati
Proses persidangan berjalan tidak mudah. Beberapa kali mediasi digelar, hakim mencoba merajut kembali benang-benang yang terurai. Namun, baik Wardatina maupun Insanul tampaknya sudah mencapai titik nadir perjuangan. “Saya tidak lagi melihat masa depan bersamanya,” ucap Wardatina lirih dalam sebuah momen yang menyentuh hati para hadirin. “Saya hanya ingin semuanya selesai dengan damai.”
Rabu, 8 Juli, menjadi puncak dari perjalanan panjang itu. Majelis Hakim Pengadilan Agama Lubuk Pakam akhirnya mengabulkan gugatan. Tanpa proses yang dramatis, palu diketuk. Suara ketukan itu bergema di ruang sidang, menandai berakhirnya status suami istri. Insanul, yang sejak awal tidak hadir dalam beberapa sidang, menerima putusan itu dengan pasrah. Tidak ada adegan saling lempar kesalahan, tidak ada tangis histeris. Hanya ada keheningan yang penuh makna.
Rangkaian Doa dan Air Mata
Usai pembacaan putusan, Wardatina terlihat menyeka air mata dengan ujung jilbabnya. Ia berdiri perlahan, lalu menyalami satu per satu kerabat yang menemaninya. Di luar gedung pengadilan, ia sempat berhenti, menatap langit, seakan melepaskan beban yang selama ini menghimpit dada. “Ini bukan akhir, ini awal untuk menjadi lebih baik,” katanya setengah berbisik, lebih kepada dirinya sendiri.
Kisah perceraian Wardatina dan Insanul bukan sekadar angka statistik perpisahan yang terus meningkat. Di balik putusan itu tersimpan ribuan malam penuh perenungan, pertengkaran kecil yang menumpuk, dan air mata yang jatuh diam-diam saat anak-anak mereka terlelap. Seorang tetangga yang hadir sebagai saksi mengatakan, “Mereka orang baik, hanya jalannya yang sudah tak searah.”
Kini, keduanya harus menata ulang hidup, merangkai kembali potongan-potongan hati yang terserak, dan belajar untuk berjalan sendiri—tanpa lagi harus menengok ke belakang. Bagi Wardatina, ini tentang bangkit dan menemukan kembali jati diri yang sempat hilang dalam peran sebagai istri. Bagi Insanul, mungkin ini tentang menerima bahwa tidak semua cinta berujung pada pelaminan abadi.
Di tengah perpisahan itu, satu hal yang tetap menjadi harapan: agar anak-anak mereka tetap merasakan kasih sayang utuh, meski dari dua rumah yang berbeda. Sebab, dalam setiap putusan pengadilan, selalu ada sisi manusiawi yang tak bisa dihitung dengan pasal dan ayat. Kisah Wardatina Mawa dan Insanul Fahmi adalah pengingat bahwa di balik berita singkat sebuah cerai, ada perjalanan panjang yang penuh liku, dan ada hati yang memilih untuk melangkah ke depan meski dengan ragu.
Baca juga:
Comments (0)