Welcome!

Unlock your personalized experience.
Sign Up

Pedagang Pasar Tertipu Video Hoaks Bantuan Sandiaga Uno

Pagi itu, gerobak sayur Ibu Sri masih tertutup terpal plastik yang mulai kusam ketika ponsel bututnya bergetar di saku rok batik lusuh. Sebuah pesan berant

Jul 09, 2026 - 12:59
0 1
Pedagang Pasar Tertipu Video Hoaks Bantuan Sandiaga Uno

Pagi itu, gerobak sayur Ibu Sri masih tertutup terpal plastik yang mulai kusam ketika ponsel bututnya bergetar di saku rok batik lusuh. Sebuah pesan berantai masuk dari tetangga satu gang, berisi video Sandaga Uno berdiri di depan tumpukan kardus sembako, menengadahkan tangan seraya berujar akan membagikan modal usaha hingga puluhan juta rupiah. Matanya yang sudah lelah memandangi tumpukan kangkung dan sawi mendadak basah. “Saya langsung baca pesan itu tiga kali, takut salah. Masak iya ada yang mau bantu penjual sayur kecil kayak saya?” bisiknya saat kami temui di sudut los Pasar Minggu.

Perempuan 45 tahun itu bukan satu-satunya. Di grup WhatsApp Kampung Cipinang, video yang sama telah diputar puluhan kali, memantik gelombang harapan di antara para pedagang kecil, buruh harian, dan ibu rumah tangga yang sehari-hari bergulat dengan harga beras yang terus merangkak naik. Mereka tak pernah menyangka bahwa di balik deretan gambar yang tampak begitu meyakinkan itu, tersimpan jejak rekayasa digital yang siap mematahkan sekeping asa mereka.

Harapan yang Terbangun dari Video Viral

Video berdurasi 2 menit 13 detik itu memang dibuat sangat mirip dengan acara resmi. Ada logo partai, ada sambutan hangat dari sosok yang wajahnya nyaris tak bisa dibedakan dari Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif itu. Suaranya pun direkayasa dengan teknologi deepfake audio, menawarkan bantuan langsung tunai Rp5 juta, modal usaha hingga Rp25 juta, serta paket sembako lengkap yang disebut-sebut berasal dari program “Gerakan Ekonomi Rakyat”.

“Saya sampai minta tolong anak saya buat daftarin, soalnya katanya harus klik tautan dan isi data pribadi,” kenang Ibu Sri. “Anak saya yang baru lulus SMA langsung curiga, katanya banyak yang aneh di link itu.” Wajahnya berubah sendu. Ia sempat membayangkan bisa menambah stok dagangan dan membelikan seragam baru buat bungsunya.

“Kalau bukan karena si Ucup, mungkin sekarang tabungan saya yang cuma Rp800 ribu itu sudah lenyap. Saya sudah pasrah, yang penting anak-anak bisa makan besok,” ucapnya dengan suara bergetar.

Kenyataan Pahit di Balik Layar

Tim Cek Fakta Liputan6.com menelusuri jejak video itu dan menemukan bahwa potongan gambar Sandiaga Uno diambil dari acara kunjungan kerja tahun lalu, lalu disisipi narasi suara buatan. Tak ada satu pun program resmi dari tokoh tersebut yang meminta masyarakat mengisi data pribadi secara online untuk mendapatkan bantuan. Faktanya, video tersebut hanyalah umpan phishing yang banyak beredar di Facebook dan grup-grup WhatsApp sepanjang bulan ini.

Kombes Pol. Hendra Kusuma, ahli forensik digital yang kami mintai keterangan, menjelaskan bahwa modus ini sudah memakan ratusan korban. “Pelaku biasanya menyasar kelompok rentan secara ekonomi dan rendah literasi digital. Data pribadi yang diambil bisa digunakan untuk pinjaman online ilegal, penipuan perbankan, atau dijual ke pasar gelap,” tegasnya.

“Saya menangani satu kasus di mana seorang janda tiga anak kehilangan sertifikat rumahnya setelah mengisi tautan hoaks semacam ini. Harapannya untuk mendapat bantuan berubah menjadi mimpi buruk,” tambahnya.

Melawan Hoaks dengan Literasi Digital

Bagi Ibu Sri, kejadian ini menjadi pukulan telak sekaligus pelajaran berharga. Kini ia rajin memeriksa setiap informasi yang masuk ke ponselnya, meski ia mengaku tak sepenuhnya paham cara kerja internet. “Yang penting kalau ada yang minta uang atau data pribadi, langsung saya hapus,” katanya sambil tersenyum tipis.

Aktivis literasi digital, Mira Anindita, mengajak masyarakat untuk menerapkan metode “Saring Sebelum Sharing” secara sederhana. “Cek sumber, cek gambar, dan jangan terburu-buru percaya hanya karena ada wajah tokoh terkenal. Teknologi deepfake membuat apa pun bisa dipalsukan,” ujarnya. Mira juga mendorong agar pemerintah dan platform media sosial lebih proaktif menandai konten mencurigakan.

Sore mulai turun di Pasar Minggu. Ibu Sri kembali membenahi dagangannya yang masih tersisa. Meski bantuan itu tak pernah datang, ia tetap bersyukur karena satu hal: kali ini, ia tak kehilangan apa pun kecuali sedikit harapan semu yang terbakar oleh kejujuran digital. Di tengah gonjang-ganjing hoaks yang kian canggih, mungkin itulah kemenangan kecil yang patut dirayakan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User