Welcome!

Unlock your personalized experience.
Sign Up

Nasional — Link Cek Bansos Rp1,5 Juta Hanyalah Tipuan

Pagi itu, ponsel butut Bu Sari bergetar. Sebuah pesan dari kenalannya di grup Facebook kampung mengirimkan tautan dengan foto logo pemerintah dan kalimat m

Jul 09, 2026 - 12:56
0 1
Nasional — Link Cek Bansos Rp1,5 Juta Hanyalah Tipuan

Pagi itu, ponsel butut Bu Sari bergetar. Sebuah pesan dari kenalannya di grup Facebook kampung mengirimkan tautan dengan foto logo pemerintah dan kalimat menjanjikan: “Cek Penerima Bansos PKH & BPNT Rp1.500.000 – Klik di Sini.” Dengan jantung berdebar, Bu Sari langsung mengekliknya. Sudah tiga bulan suaminya, seorang buruh tani, belum mendapat panggilan kerja tetap. Uang Rp1.500.000 di matanya bukan sekadar angka—itu artinya bisa bayar iuran sekolah dua anaknya, melunasi tunggakan warung, dan membeli beras untuk seminggu ke depan. “Saya sampai gemetar saking senangnya, saya pikir Tuhan akhirnya kasih jalan,” kenang Bu Sari, suaranya bergetar di ujung telepon. Tapi harapan itu buyar begitu saja. Setelah mengisi nama, alamat, nomor NIK, dan kode OTP yang dikirim ke ponselnya, tidak ada dana cair. Yang muncul justru puluhan pesan spam dan saldo rekening tabungannya terkuras Rp200 ribu—uang terakhir yang ia punya. Bu Sari hanyalah satu dari ribuan warga yang tertipu hoaks bansos yang belakangan viral di media sosial.

Cerita Bu Sari bukanlah kasus terisolasi. Di pelosok desa, janji bantuan sosial sering menjadi magnet yang sulit dilawan. Apalagi ketika tekanan hidup kian menghimpit. Liputan6.com sebelumnya telah melakukan penelusuran fakta terhadap klaim tautan pengecekan bansos senilai Rp1,5 juta tersebut. Hasilnya? Tautan itu palsu, bukan berasal dari laman resmi Kementerian Sosial. Laman tersebut hanya modus phishing yang dirancang untuk mencuri data pribadi. Pemerintah tidak pernah membagikan informasi bansos melalui tautan singkat tak resmi di Facebook atau WhatsApp. Semua penyaluran bantuan hanya dilakukan melalui situs resmi cekbansos.kemensos.go.id atau melalui pendamping desa yang terdata. Namun, penjelasan teknis semacam ini sering kali terlambat diterima warga kecil yang tak melek digital.

Membedah Kerentanan Sosial di Balik Hoaks Bansos

Hoaks berseragam bantuan sosial bukan sekadar penipuan digital, melainkan serangan langsung terhadap harapan hidup masyarakat kecil. Menurut Dr. Andini Pratiwi, pengamat kebijakan sosial dari Universitas Padjadjaran, “Hoaks seperti ini sangat berbahaya karena menyasar kelompok rentan yang paling membutuhkan. Mereka bukan hanya kehilangan uang, tetapi juga kepercayaan pada sistem perlindungan sosial.” Ketika informasi bohong menyebar dalam grup keluarga dan arisan, efeknya domino. Warga yang seharusnya mengakses bantuan nyata jadi ragu, sementara yang tidak lolos verifikasi resmi merasa dikhianati. “Ada kekecewaan ganda: ditipu teknologi, tapi juga merasa ditinggalkan pemerintah,” imbuh Andini.

Untuk melihat kontras antara bantuan resmi dan janji palsu yang beredar, berikut perbandingan ringkasnya:

Jenis BantuanBesaran ResmiKlaim Hoaks
PKH (Program Keluarga Harapan)Rp900.000–Rp3.000.000 per tahun, tergantung komponen (ibu hamil, anak, lansia, disabilitas)Rp1.500.000 per satu kali pencairan
BPNT (Sembako)Rp200.000 per bulan per keluargaDiklaim sebagai tambahan tunai tanpa verifikasi
Bansos tunai lain (BLT, dll)Disesuaikan APBN/Daerah, biasanya Rp300.000–Rp600.000 per bulanTidak ada, namun dimasukkan dalam jargon penipuan

Bagi Bu Sari, selisih antara janji dan kenyataan itu kini terasa sebagai luka ekonomi sekaligus batin. “Saya malu pada tetangga karena sudah cerita dapat bansos. Sekarang malah gali lubang tutup lubang,” bisiknya. Peristiwa ini menjadi pengingat betapa rapuhnya daya tahan keluarga prasejahtera di tengah banjir informasi. Pemerintah desa setempat kini gencar menyosialisasikan cara mengenali tautan palsu melalui karang taruna dan pertemuan PKK. Tapi bagi Bu Sari, pelajaran termahal adalah satu klik yang merenggut harapan dan uang makan mingguannya. Ia berpesan pada siapapun yang mendengar, “Jangan mudah percaya, Bapak-Ibu. Kalau ada bansos, cek dulu ke Pak Kades, jangan langsung klik. Saya sudah jadi korban.”

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User