Pameran Koperasi Jateng: Menguatkan Ekonomi Rakyat dan Jejaring Usaha

Stadion Manahan, Surakarta, menjadi saksi bisu bergairahnya kembali denyut ekonomi rakyat Jawa Tengah. Deretan tenda putih berjajar rapi di halaman utama kompleks olahraga kebanggaan warga Solo itu, m...

Jul 12, 2026 - 20:58
0 0

Stadion Manahan, Surakarta, menjadi saksi bisu bergairahnya kembali denyut ekonomi rakyat Jawa Tengah. Deretan tenda putih berjajar rapi di halaman utama kompleks olahraga kebanggaan warga Solo itu, menaungi puluhan stan yang memamerkan aneka produk koperasi. Aroma kopi dari lereng Gunung Muria bercampur dengan wangi batik tulis yang baru selesai dicelup, menciptakan suasana khas pasar rakyat yang penuh semangat dan cita rasa lokal. Senyum para pengelola koperasi merekah menyambut setiap pengunjung yang mampir, menawarkan cerita di balik setiap produk yang mereka bawa. Inilah wajah Pameran Produk Koperasi Jawa Tengah, yang dihelat oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah untuk merayakan dan memperkuat fondasi ekonomi kerakyatan.

Gelaran yang berlangsung selama sepekan ini bukan sekadar ajang jual beli. Lebih dari itu, pameran yang digelar di jantung kota budaya ini menjadi ruang temu bagi ratusan koperasi dari 35 kabupaten/kota se-Jawa Tengah untuk saling berkenalan, berbagi ilmu, dan menjalin kemitraan. “Pameran ini adalah jembatan yang menghubungkan koperasi kecil di desa dengan pasar yang lebih luas, sekaligus mempertemukan sesama koperasi agar bisa saling mengisi dalam rantai pasok,” ujar Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Provinsi Jawa Tengah, yang turut membuka acara tersebut. Ia menambahkan, langkah ini sejalan dengan visi pemerintah untuk menjadikan koperasi sebagai pilar utama ekonomi daerah yang tangguh dan berdaya saing.

Merajut Jejaring, Menebar Manfaat

Salah satu tujuan utama pameran ini adalah membuka simpul-simpul jejaring usaha antarkoperasi yang selama ini berjalan sendiri-sendiri. Di salah satu sudut stan, seorang pengurus Koperasi Wanita dari Kabupaten Klaten tengah serius berdiskusi dengan perwakilan koperasi produsen gula semut asal Banyumas. Mereka membahas peluang kerja sama distribusi, di mana produk gula semut organik bisa menambah variasi di toko oleh-oleh milik koperasi Klaten yang selama ini hanya menjual batik dan kerajinan tangan. Perbincangan sederhana itu, jika berlanjut ke nota kesepahaman, bisa menjadi awal dari rantai ekonomi yang lebih panjang dan saling menguntungkan.

Tak hanya itu, pameran ini juga menghadirkan forum diskusi singkat antar peserta di setiap sore harinya. Dalam forum itu, berbagai topik diangkat, mulai dari strategi pemasaran digital, pengemasan produk yang menarik, hingga cara mengakses pembiayaan dari Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB). Seorang peserta dari koperasi produsen emping jagung di Grobogan mengaku baru pertama kali mendengar cara memotret produk dengan teknik sederhana menggunakan ponsel agar layak unggah di marketplace. “Tadi saya langsung praktik foto produk saya dengan latar kain putih, hasilnya jauh lebih menarik. Saya jadi tahu, ternyata untuk menjual online tidak perlu alat mahal,” ujarnya dengan mata berbinar. Bagi koperasi-koperasi kecil, pengetahuan semacam ini sangat berharga untuk membuka gerbang pasar modern yang selama ini terasa jauh.

Dari Kerajinan Desa hingga Pasar Global

Ragam produk yang dipamerkan mencerminkan kekayaan potensi daerah di Jawa Tengah. Ada stan yang menampilkan batik tulis dari Lasem dengan motif klasik yang semakin langka, berdampingan dengan stan yang menjual keripik singkong aneka rasa inovasi anak muda dari Wonosobo. Di sudut lain, koperasi binaan pesantren dari Jepara menawarkan perabotan kayu ukir mini yang cocok untuk suvenir hotel, sementara koperasi petani organik di lereng Gunung Sumbing memajang aneka sayuran segar yang dipanen pagi hari. Semua produk memiliki cerita dan nilai tambah yang siap bersaing, baik di pasar lokal maupun global.

Salah satu koperasi yang menarik perhatian adalah Koperasi Batik Sekar Arum dari Pekalongan. Mereka membawa koleksi kain batik yang seluruhnya dikerjakan dengan pewarna alami dari kulit mangga, daun jati, dan lumpur. “Kami ingin menunjukkan bahwa koperasi bisa menghasilkan produk premium yang ramah lingkungan. Pameran ini membuka mata banyak pembeli bahwa batik dengan proses alami itu punya pasar tersendiri, bahkan banyak peminat dari luar negeri,” tutur ketua koperasi tersebut. Beberapa pengunjung dari kalangan eksportir pun terlihat serius menanyai proses produksi dan kapasitas suplai, sinyal bahwa jalur menuju ekspor terbuka lebar.

Menggerakkan Geliat Ekonomi Pascapandemi

Pameran ini menjadi titik balik bagi banyak koperasi yang sempat meredup selama masa pandemi. Dua tahun lebih mereka bergulat dengan penurunan omzet, sulitnya distribusi, dan lesunya permintaan. Kini, dengan adanya pameran yang dihadiri langsung oleh masyarakat, para pengelola koperasi bisa kembali merasakan interaksi langsung dengan konsumen. Tepuk tangan kecil terdengar dari stan koperasi produsen abon ikan dari Rembang, saat seorang pengunjung memborong puluhan kemasan untuk dijual kembali di kota asalnya. “Ini transaksi kecil, tapi memberi kami kepercayaan diri bahwa produk kami masih diminati. Dari sini kami akan menata ulang strategi pemasaran,” ujar pengurus koperasi itu dengan suara bergetar.

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menargetkan pameran semacam ini bisa menjadi agenda rutin yang berkelanjutan. Tidak hanya di Solo, tapi juga di berbagai kota lain sebagai gerai promosi bergilir. Hal ini diharapkan tidak hanya mendongkrak penjualan sesaat, tetapi juga memupuk ekosistem koperasi yang saling terhubung dan kuat. Diskusi-diskusi ringan yang terjadi antar stan, kartu nama yang saling bertukar, hingga kesepakatan kerja sama yang lahir di sela-sela acara, adalah modal sosial yang tak ternilai.

Menjelang sore, saat matahari mulai condong ke barat dan bayangan tiang Stadion Manahan memanjang di antara stan, hiruk pikuk pameran masih terasa. Para pengunjung hilir mudik membawa tas belanja berisi produk lokal, sementara para pengelola koperasi memulas senyum lelah namun penuh harap. Mereka bukan sekadar penjual yang menghitung laba hari itu, melainkan pelaku ekonomi rakyat yang tengah membangun fondasi baru, berjejaring, dan bermimpi. Pameran ini adalah bukti bahwa di tengah gempuran produk impor dan ekonomi digital, koperasi tetap bisa berdiri tegak, menjadi tuan rumah di negeri sendiri, asalkan diberi panggung yang tepat dan kesempatan untuk bersinergi.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
salsa-bintari

Reporter Startup. Meliput ekosistem startup Indonesia, venture capital, dan unicorn.

Comments (0)

User