Rivaldo Sebut Messi Masih Jadi Penentu Argentina Tak Tergantikan
Stadion Lusail kembali menjadi saksi bisu. Di tengah riuh 88.000 pasang mata, seorang pria kecil bernomor punggung 10 berjalan pelan menuju titik putih. Sk
Stadion Lusail kembali menjadi saksi bisu. Di tengah riuh 88.000 pasang mata, seorang pria kecil bernomor punggung 10 berjalan pelan menuju titik putih. Skor masih tertinggal 1-2 dari Mesir, dan waktu tersisa 12 menit. Ujung jari kaki kirinya menyentuh rumput, lalu ia menarik napas—seolah menghirup seluruh harapan 46 juta penduduk Argentina. Lionel Messi, kapten berusia 39 tahun itu, kemudian mengeksekusi penalti dengan dingin. Gol itu bukan sekadar penyama kedudukan. Ia adalah api yang menyulut kebangkitan dramatis La Albiceleste, menyingkirkan Mesir 4-2 di babak 16 besar Piala Dunia 2026. Di tribune, legenda Brasil Rivaldo Vítor Borba Ferreira berdiri dan bertepuk tangan.
Ketika La Pulga Menolak Menyerah
Hingga menit ke-78, Argentina tampak gamang. Pertahanan disiplin Mesir yang dimotori Ahmed Hegazi berulang kali mematahkan serangan. Messi, yang dijaga tiga pemain setiap kali menerima bola, hanya bisa menggeleng. Namun, pelatih Argentina, Javier Mascherano, mengatakan dalam konferensi pers usai laga, “Saya melihat matanya di jeda cooling break. Tidak ada ketakutan di sana. Hanya ada api yang berkata, ‘Aku belum selesai.’”
“Saya sudah 18 tahun berseragam timnas, dan saya tahu, selama bola masih bergulir, kami punya kesempatan. Dan selama Leo ada di lapangan, peluang itu mengganda.”
Itu bukan sekadar retorika. Setelah penalti, Messi menjelma menjadi konduktor yang memainkan setiap pemain Argentina seperti alat musik. Umpan terobosannya kepada Julián Álvarez di menit ke-85 memaksa kemelut yang berbuah gol kedua. Lalu, di injury time, ia melepaskan tendangan bebas melengkung yang hanya bisa ditepis kiper, memantul ke kaki Thiago Almada untuk gol keempat. Tiga gol Argentina tercipta dalam 14 menit terakhir. Semuanya berawal dari sentuhan pemuda dari Rosario itu.
Pujian dari Negeri Samba
Rivaldo yang hadir langsung di Lusail tak kuasa menyembunyikan kekagumannya. Pria yang membawa Brasil juara dunia 2002 itu berbicara dengan lirih dan penuh respek di mixed zone.
“Sebagai orang Brasil, saya tentu tak mudah memuji pemain Argentina. Tapi apa yang Messi lakukan malam ini bukanlah sepak bola biasa. Ini tentang jiwa. Timnya seperti sekarat, lalu ia bangkitkan sendiri. Di usia nyaris 40 tahun, ia masih jadi penentu—dan bukan lewat kaki, tapi lewat hatinya.”
Rivaldo menambahkan, dengan mata berkaca-kaca, bahwa Messi telah melampaui batas rivalitas klasik Brasil-Argentina. “Ia milik sepak bola, bukan milik satu negara,” ujarnya. Pernyataan itu sontak viral di media sosial, memicu gelombang apresiasi dari para legenda sepak bola dunia.
Ikon yang Tak Lekang oleh Waktu
Di usia yang bagi pemain lain sudah menjadi akhir karier, Messi justru menunjukkan versi paling bijak dari dirinya. Ia tak lagi menggiring bola melewati lima pemain, tapi cukup dua sentuhan: menerima, lalu mengirim visinya. Statistik FIFA mencatat, dari 4 gol Argentina di laga itu, 3 di antaranya melibatkan kontribusi langsung Messi (satu gol, dua assist kunci).
Psikolog olahraga Dr. Santiago Delgado, yang pernah bekerja dengan timnas Argentina U-20, menjelaskan fenomena ini. “Kepemimpinan Messi sekarang lebih bersifat emosional. Para pemain muda tak hanya percaya pada tekniknya, tetapi pada ketenangannya. Saat ia tenang, seluruh tim tenang. Saat ia percaya, tim percaya,” katanya. Itu menjelaskan mengapa stadion bergemuruh bukan hanya saat ia mencetak gol, tapi setiap kali ia mengangkat tangan dan memberi isyarat.
Argentina kini melaju ke perempat final, dan dunia sepak bola kembali bertanya: mungkinkah Messi mengulangi keajaiban Qatar 2022 di usia 39? Satu hal yang pasti: selama detak jantungnya masih seirama dengan denyut Piala Dunia, Argentina tidak akan pernah berjalan sendirian.
Comments (0)