Nicholas Saputra Jadi Wajah Baru Tolak Angin, Sido Muncul Bidik Pasar Dunia
Di sebuah studio ikonik di kawasan Senayan, Jakarta, Senin (18/5/2026), lampu sorot tertuju pada Nicholas Saputra. Aktor yang selama ini identik dengan gay
Di sebuah studio ikonik di kawasan Senayan, Jakarta, Senin (18/5/2026), lampu sorot tertuju pada Nicholas Saputra. Aktor yang selama ini identik dengan gaya hidup tenang dan citra sehat itu resmi diperkenalkan sebagai wajah baru Tolak Angin, produk jamu legendaris dari PT Sido Muncul Tbk. Tema besar yang diusung, “Dari Indonesia untuk Dunia”, bukan hanya sekadar slogan, melainkan pernyataan sikap bahwa industri herbal Indonesia siap melangkah ke pentas global dengan bekal riset dan otentisitas.
Panggung yang Penuh Makna
Peluncuran iklan terbaru ini terasa berbeda dari biasanya. Sido Muncul tidak hanya memperkenalkan duta merek, tetapi juga memamerkan perjalanan panjang Tolak Angin—ramuan yang konon lahir dari racikan nenek moyang pada 1930 dan kini telah terstandardisasi secara ilmiah. Di layar raksasa, potongan adegan menampilkan Nicholas Saputra menyesap sachet Tolak Angin di tengah hamparan sawah organik milik petani binaan Sido Muncul, lalu bertransformasi ke laboratorium modern, dan akhirnya berdiri di bandara dengan latar bandara internasional. Narasi visual itu ingin menyampaikan: jamu ini tumbuh dari tanah, disempurnakan sains, dan siap terbang tinggi.
Irwan Hidayat, Direktur Utama Sido Muncul, dalam sambutannya mengatakan, “Kami ingin mengubah persepsi bahwa jamu sekadar minuman rumahan. Ini saatnya produk herbal Indonesia diperhitungkan di pasar kesehatan global. Kehadiran Nicholas memperkuat pesan bahwa Tolak Angin relevan untuk generasi masa kini dan masa depan.”
Mengapa Nicholas Saputra?
Pemilihan Nicholas bukan tanpa perhitungan. Aktor 42 tahun itu selama dua dekade kariernya dikenal selektif, jarang tampil di iklan komersial, dan memiliki persona yang merefleksikan ketenangan, keseimbangan, serta gaya hidup sadar kesehatan. Citra itu sejalan dengan nilai-nilai Tolak Angin yang ingin lepas dari kesan “obat masuk angin” semata, menuju produk pencegahan dan kebugaran harian (wellness).
“Saya tumbuh bersama Tolak Angin. Dari kecil, kalau merasa tidak enak badan, ibu selalu sediakan ini. Sekarang, bekerja sama dengan Sido Muncul, saya belajar bahwa jamu sudah melewati riset bertahun-tahun, sampai uji klinis. Saya bangga bisa menjadi bagian dari narasi ini,” ungkap Nicholas di sela konferensi pers.
Ia juga menekankan bahwa keterlibatannya bukan semata proyek iklan, melainkan komitmen jangka panjang untuk mengedukasi publik tentang pentingnya kembali ke alam dengan pendekatan ilmiah. “Ini tentang identitas kita yang bisa mendunia,” tambahnya.
Riset sebagai Fondasi Lompatan Global
Di balik layar, Sido Muncul telah menggelontorkan investasi lebih dari Rp150 miliar dalam lima tahun terakhir untuk memperkuat riset dan pengembangan produk herbal. Fasilitas laboratorium di Kabupaten Semarang kini telah terakreditasi internasional, dan perusahaan aktif menggandeng sejumlah universitas ternama di Indonesia, Jerman, dan Jepang untuk menguji efikasi dan keamanan Tolak Angin.
- Standardisasi bahan baku: Semua tanaman obat berasal dari petani binaan yang menerapkan praktik organik bersertifikat.
- Uji preklinis dan klinis: Tolak Angin Cair dan Tolak Angin Anak telah lolos uji toksisitas dan efektivitas pada manusia, dengan hasil yang dipublikasikan di jurnal ilmiah nasional maupun internasional.
- Dukungan teknologi: Penerapan kecerdasan buatan untuk memastikan konsistensi kadar zat aktif di setiap sediaan.
Direktur R&D Sido Muncul, Dr. Retno Wulandari, menjelaskan, “Dulu jamu identik dengan ‘kata orang’. Sekarang, kami punya data: Tolak Angin mampu mempersingkat durasi masuk angin hingga 30% dibandingkan plasebo, berdasarkan uji klinis acak tersamar ganda. Ini bukti bahwa warisan leluhur bisa berdiri sejajar dengan suplemen modern global.”
Peta Jalan Pasar Dunia
Dengan bendera “Dari Indonesia untuk Dunia”, Sido Muncul menargetkan ekspansi ke 20 negara baru pada 2028, menjadikan total kehadiran Tolak Angin di lebih dari 40 negara. Pasar Asia Tenggara seperti Vietnam dan Thailand menjadi prioritas, diikuti Australia, Timur Tengah, dan Eropa Timur. Untuk pasar Eropa, perusahaan tengah mengurus sertifikasi Novel Food dan Traditional Herbal Registration (THR) agar bisa dipasarkan sebagai obat herbal tradisional.
Kendati demikian, jalan ke pasar global tidak mulus. Persaingan dengan produk serupa dari Tiongkok dan India, serta regulasi ketat di Uni Eropa, menjadi batu ujian. Namun Irwan Hidayat optimistis. “Kunci kami adalah autentisitas. Ini resep asli Indonesia yang sudah bertahan hampir satu abad. Tidak ada yang bisa menciptakan kembali, karena ini bagian dari budaya kita,” tegasnya.
Jamu Sebagai Diplomasi Kesehatan
Menariknya, peluncuran ini juga dihadiri oleh perwakilan Kementerian Kesehatan dan Kementerian Perdagangan. Pemerintah melihat produk herbal seperti Tolak Angin sebagai bagian dari diplomasi lunak (soft diplomacy) Indonesia. “Kalau Korea Selatan punya K-pop dan kimchi, Indonesia bisa menawarkan jamu sebagai produk kesehatan yang unik dan bernilai budaya,” ujar Satrio Wibowo, Staf Khusus Menteri Perdagangan Bidang Promosi Ekspor.
Data dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menunjukkan nilai ekspor jamu dan obat herbal Indonesia pada tahun 2025 telah menembus angka Rp8,3 triliun, naik 18% dibandingkan tahun sebelumnya. Angka ini diyakini akan terus bertumbuh seiring dengan tren gaya hidup sehat dan meningkatnya kepercayaan terhadap bahan alami pasca-pandemi.
Harapan dari Satu Sachet
Bagi banyak orang Indonesia, Tolak Angin lebih dari sekadar produk. Ia adalah kenangan masa kecil, penolong saat tubuh mulai meriang, dan simbol kehangatan keluarga. Kini, melalui wajah baru dan semangat baru, produk ini membawa pesan yang lebih besar: bahwa hal sederhana dari dapur Nusantara bisa menjadi duta bangsa di kancah internasional.
“Saya berharap suatu hari nanti, di apotek di London atau Berlin, orang akan bertanya, ‘Tolak Angin’, dan mereka tahu itu dari Indonesia, dan itu berfungsi secara nyata,” tutup Nicholas dengan senyum khasnya.
Senin sore itu, satu sachet kecil Tolak Angin telah menjelma menjadi jembatan antara tradisi dan masa depan, antara laboratorium dan ruang keluarga, antara Indonesia dan dunia.
[TAGS]: Nicholas Saputra, Tolak Angin, Sido Muncul, jamu herbal, pasar global [SOCIAL_TWEET]: Aktor Nicholas Saputra resmi jadi wajah baru Tolak Angin! Sido Muncul gandeng aktor yang identik gaya hidup sehat ini untuk bawa jamu legendaris ke pasar dunia lewat iklan “Dari Indonesia untuk Dunia”. Jamu kita mendunia! #TolakAngin #NicholasSaputra #JamuGoesGlobal [SOCIAL_FB]: Rasanya semua dari kita pernah diselamatkan Tolak Angin saat masuk angin. Kini, minuman herbal warisan leluhur ini siap mendunia dengan wajah baru, Nicholas Saputra. Apa kata dia tentang perjalanan jamu Indonesia menuju pentas global? Simak liputan lengkapnya! [SOCIAL_TG]: 🍃 Siapa sangka sachet Tolak Angin yang dekat dengan keseharian kita kini punya misi besar: dari Indonesia untuk dunia. Nicholas Saputra turut andil dalam perjalanan ini. Beritanya sudah kami rangkum, baca yuk! [SOCIAL_THREADS]: vibe-nya beda banget! Tolak Angin sekarang dibawa Nicholas Saputra, bukan cuma buat masuk angin, tapi bagian dari gaya hidup sehat. Jamu kita emang pantas mendunia sih 🌏✨
Comments (0)