Mongol Terbang dari Bali demi Melayat Temon

JAKARTA — Komedian Mongol Stress langsung bertolak dari Bali begitu mendengar kabar duka kepergian sahabat sekaligus mentornya, Temon. Tanpa berpikir panja

Jul 14, 2026 - 18:46
0 0
Mongol Terbang dari Bali demi Melayat Temon

JAKARTA — Komedian Mongol Stress langsung bertolak dari Bali begitu mendengar kabar duka kepergian sahabat sekaligus mentornya, Temon. Tanpa berpikir panjang, Mongol membatalkan sejumlah jadwal di Pulau Dewata dan terbang menuju Jakarta untuk memberikan penghormatan terakhir.

“Gue lagi di Bali, ada acara. Begitu dengar Bang Temon meninggal, gue langsung cari tiket paling cepat. Nggak peduli harga berapa pun,” ujar Mongol dengan suara bergetar saat ditemui di rumah duka, kawasan Bintaro, Tangerang Selatan, Senin (13/7/2026).

Kronologi Kepergian Temon

Temon, yang bernama asli Temon Ario Bimo, mengembuskan napas terakhir pada Minggu malam (12/7/2026) di usia 42 tahun. Beliau mengalami serangan jantung mendadak setelah sebelumnya sempat mengeluh kelelahan usai syuting seharian. Tim medis yang tiba di lokasi tidak dapat menyelamatkannya.

Jenazah disemayamkan di rumah duka pada Senin pagi, dan sejumlah rekan artis mulai berdatangan sejak pukul 08.00 WIB. Mongol menjadi salah satu yang paling awal hadir, hanya berselang 3,5 jam setelah mendarat di Bandara Soekarno-Hatta dari Bali.

Mentor dalam Sunyi Tawa

Bagi Mongol, Temon bukan sekadar rekan seprofesi. Di awal karier Mongol—yang kala itu masih bernama asli Rony Immanuel—Temon lah yang memberikan berbagai masukan tentang komedi tunggal hingga cara membaca panggung.

“Dia itu abang yang nggak pernah pelit ilmu. Waktu gue masih jualan gorengan sebelum masuk TV, Bang Temon yang pertama kali bilang ‘Elo bisa, terus aja’. Kalimat itu yang gue pegang sampai sekarang,”

kenang Mongol sambil menahan tangis.

Pengamat hiburan Didi Kurniawan menilai hubungan Mongol dan Temon sebagai salah satu jalinan mentor-mentee yang tulus di industri hiburan Tanah Air. “Ini bukan sekadar basa-basi selebritas. Temon betul-betul membuka jalan bagi beberapa komika muda, termasuk Mongol. Mereka punya ikatan emosional yang kuat,” ujarnya.

Penerbangan Mendadak dari Bali

Mongol saat itu sedang menjalani syuting program televisi di Ubud, Bali. Begitu telepon dari manajer Temon masuk pukul 22.30 WITA, Mongol langsung menghubungi asistennya untuk mencarikan tiket penerbangan pagi. Ia memperoleh kursi di penerbangan Garuda Indonesia GA-401 rute Denpasar–Jakarta yang lepas landas pukul 05.45 WITA.

“Maskapai lain sudah penuh, akhirnya dapat tiket bisnis. Biasanya gue irit, tapi kali ini nggak mikir duit. Yang penting sampai sebelum jenazah dibawa ke pemakaman,” tuturnya.

Mongol tiba di Jakarta sekitar pukul 07.30 WIB dan langsung menuju rumah duka. Di sana ia ikut membantu keluarga menyiapkan prosesi persemayaman dan menyalami para pelayat yang terus berdatangan.

Isak Tangis di Persemayaman

Suasana rumah duka dipenuhi isak tangis. Istri Temon, Rianti, tampak tegar menerima ucapan belasungkawa dari rekan-rekan artis seperti Sule, Andre Taulany, Nunung, hingga Cak Lontong. Karangan bunga duka dari berbagai kalangan memadati halaman rumah.

Mongol yang mengenakan kemeja hitam berdiri di samping peti jenazah, sesekali mengusap air mata. Ia bertahan di sana hingga jenazah diberangkatkan ke TPU Tanah Kusir sekitar pukul 13.00 WIB.

Warisan Komedi Sang Bang

Temon dikenal luas sebagai salah satu ikon komedi televisi era 2000-an lewat grup lawak Temon & Co. Kariernya bertahan lebih dari dua dekade, menjadikannya panutan bagi generasi komika baru seperti Mongol, Babe Cabiita, dan Dicky Difie.

“Bang Temon selalu ajarkan kalau bercanda itu boleh nyerempet, tapi jangan menyakiti. Itu prinsip yang terus saya bawa,” ujar Mongol.

Kepergian Temon menyisakan duka mendalam, tetapi warisannya tetap hidup dalam gelak tawa yang pernah ia ciptakan dan dalam diri para murid yang pernah ia bimbing.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User