Erling Haaland Tertunduk Lesu Usai Norwegia Tersingkir Perempat Final Piala Dunia

MIAMI GARDENS — Momen memilukan tersaji di Hard Rock Stadium, Minggu (12/7/2026) malam, ketika megabintang Norwegia Erling Haaland tertunduk lesu di tengah

Jul 14, 2026 - 06:07
0 0
Erling Haaland Tertunduk Lesu Usai Norwegia Tersingkir Perempat Final Piala Dunia

MIAMI GARDENS — Momen memilukan tersaji di Hard Rock Stadium, Minggu (12/7/2026) malam, ketika megabintang Norwegia Erling Haaland tertunduk lesu di tengah lapangan. Kedua tangannya bertumpu di lutut, matanya menerawang kosong ke arah tribun yang mulai sepi. Norwegia baru saja tersingkir secara dramatis dari Inggris di babak perempat final Piala Dunia 2026, mengakhiri perjalanan bersejarah mereka dengan cara yang paling menyakitkan.

Kamera Associated Press melalui lensa Rebecca Blackwell mengabadikan momen tepat ketika Haaland — pencetak gol terbanyak turnamen — tak mampu menyembunyikan kekecewaannya. Air mata menggenang di pelupuk mata pemain berusia 25 tahun itu, sementara rekan-rekannya tersungkur di berbagai sudut lapangan. Skor akhir 2–1 untuk kemenangan Inggris terpampang di papan skor raksasa, namun angka itu tak mampu menggambarkan betapa dramatisnya 120 menit yang baru saja berlalu.

Babak Pertama: Mimpi Norwegia Mulai Terwujud

Norwegia membuka laga dengan kepercayaan diri tinggi. Meski berstatus underdog melawan tim bertabur bintang Inggris, pasukan Ståle Solbakken justru tampil menekan sejak menit awal. Strategi serangan balik cepat yang bertumpu pada kecepatan Haaland dan kreativitas Martin Ødegaard beberapa kali membuat lini belakang Inggris kocar-kacir.

Gol pembuka akhirnya lahir di menit ke-34 lewat skema yang sudah menjadi ciri khas Norwegia sepanjang turnamen. Sebuah umpan terobosan presisi dari Ødegaard berhasil dituntaskan Haaland dengan sontekan kaki kiri yang tak mampu dijangkau kiper Jordan Pickford. Stadion bergemuruh — bukan hanya dari suporter Norwegia, tapi juga dari netral yang jatuh hati pada kisah underdog Skandinavia ini.

Inggris merespons dengan gelombang serangan bertubi-tubi. Jude Bellingham dan Declan Rice mendominasi lini tengah, sementara Bukayo Saka dan Phil Foden terus menusuk dari sisi sayap. Namun pertahanan Norwegia yang digalang kapten Andreas Hanche-Olsen dan kiper Mathias Dyngeland tampil luar biasa sepanjang babak pertama.

Babak Kedua: Inggris Bangkit Lewat Drama Dua Menit

Memasuki babak kedua, Gareth Southgate melakukan perubahan taktis yang terbukti jitu. Masuknya Cole Palmer menggantikan Foden menambah dimensi baru dalam serangan Inggris. Dominasi penguasaan bola The Three Lions meningkat drastis — dari 48% menjadi 67% dalam 30 menit pertama babak kedua.

Titik balik pertandingan terjadi dalam rentang waktu hanya dua menit yang mengguncang. Pada menit ke-71, tendangan jarak jauh Bellingham membentur tiang dan bola muntah disambar Harry Kane dari jarak dekat. Gol tersebut menjadi gol ke-71 Kane untuk tim nasional, menyamakan kedudukan menjadi 1–1. Belum reda selebrasi Inggris, bencana datang bagi Norwegia di menit ke-73. Sebuah kemelut di kotak penalti berujung pada gol bunuh diri Hanche-Olsen yang berusaha menghalau umpan silang Saka namun justru menjebol gawangnya sendiri.

Perjuangan Sia-Sia dan Air Mata Sang Bintang

Norwegia tidak menyerah. Haaland nyaris menyamakan skor di menit ke-83 lewat sundulan yang membentur mistar gawang. Di menit-menit akhir injury time, tendangan voli spektakuler Ødegaard dari luar kotak penalti berhasil ditepis dengan gemilang oleh Pickford — sebuah penyelamatan yang kemudian dinobatkan sebagai momen penyelamatan terbaik turnamen.

Peluit panjang berbunyi. Inggris melaju ke semifinal, sementara mimpi Norwegia — negara yang terakhir kali tampil di Piala Dunia pada 1998 — runtuh sudah. Haaland, yang mengakhiri turnamen dengan torehan 9 gol dari 5 pertandingan sebagai topskor sementara, hanya bisa berdiri mematung. Perjalanan fenomenal Norwegia yang menumbangkan raksasa seperti Spanyol di babak 16 besar harus terhenti di tangan Inggris.

"Saya tidak bisa menggambarkan perasaan ini. Kami begitu dekat, dan rasanya sangat menyakitkan," ujar Haaland dengan suara bergetar di zona wawancara seusai pertandingan. "Tapi saya bangga menjadi bagian dari tim ini. Kami menunjukkan bahwa Norwegia bisa bersaing di level tertinggi."

Narasi Historis yang Berubah

Kekalahan ini, meski menyakitkan, tidak mengubah fakta bahwa Norwegia telah menulis ulang narasi sepak bola mereka sendiri. Sebelum 2026, negara Skandinavia itu lebih dikenal sebagai penghasil pemain individu hebat — mulai dari Ole Gunnar Solskjær, John Arne Riise, hingga generasi emas Haaland dan Ødegaard — namun selalu gagal bersinar di panggung turnamen besar. Kini, dengan generasi emas yang masih muda dan berbakat, masa depan cerah menanti.

Perjalanan Norwegia di Piala Dunia 2026 akan dikenang sebagai salah satu kisah underdog terindah dalam sejarah turnamen. Dari fase grup yang dianggap mustahil — bersaing dengan Brasil dan Maroko — hingga menyingkirkan Spanyol di babak gugur. Erling Haaland mungkin tertunduk malam itu, tapi warisannya bersama tim nasional Norwegia baru saja dimulai.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User