Gus Salam Tekankan Adab dan Literasi Digital untuk Santri Jombang
JOMBANG — Pengasuh Pondok Pesantren (PP) Mamba’ul Ma’arif Denanyar, Jombang, Jawa Timur, KH Abdussalam Shohib yang akrab disapa Gus Salam menggelar pengaji
JOMBANG — Pengasuh Pondok Pesantren (PP) Mamba’ul Ma’arif Denanyar, Jombang, Jawa Timur, KH Abdussalam Shohib yang akrab disapa Gus Salam menggelar pengajian akbar, Sabtu (22/3) malam. Di hadapan ribuan santri dan masyarakat sekitar, ia mengangkat tema pentingnya menjaga adab di tengah derasnya arus informasi digital.
Kronologi Acara: Dari Pembukaan Hingga Tausiyah Inti
Kegiatan dimulai pukul 19.30 WIB setelah salat Isya berjamaah di Masjid Al-Ma’arif kompleks pesantren. Diawali dengan pembacaan surat Yasin dan tahlil, dilanjutkan dengan sambutan singkat dari pengurus pondok. Gus Salam tampil ke mimbar sekitar pukul 20.30 WIB, didampingi oleh para kiai senior dari pesantren di wilayah Jombang dan sekitarnya.
Dalam ceramahnya yang berdurasi hampir dua jam, Gus Salam menyampaikan tiga poin utama yang dipaparkan secara runtut: pertama, pentingnya sanad keilmuan dan adab terhadap guru; kedua, tantangan media sosial bagi santri; dan ketiga, strategi literasi digital ala pesantren.
"Jangan sampai santri hari ini lebih percaya pada konten satu menit di TikTok daripada dawuh kiai yang sudah jelas sanad keilmuannya. Ini bukan soal anti-teknologi, tapi soal mana yang diutamakan," tegas Gus Salam disambut gemuruh tepuk tangan hadirin.
Pesan Literasi Digital dan Adab dalam Bermedia Sosial
Gus Salam menyoroti fenomena santri yang kerap menjadikan media sosial sebagai rujukan tunggal tanpa proses tabayun (klarifikasi). Ia menekankan bahwa pesantren harus mampu mentransformasi ancaman digital menjadi peluang dakwah yang lebih luas.
Beberapa poin penting yang ia sampaikan antara lain:
- Adab sebelum ilmu: Santri wajib memiliki adab terhadap guru dan kitab sebelum menyerap informasi dari internet.
- Filter digital ala pesantren: Mengamalkan prinsip taswir (memastikan kebenaran informasi) dan tandzim (mengatur waktu bermedia sosial).
- Konten positif: Mendorong santri untuk aktif membuat konten keislaman yang sejuk dan menyejukkan sebagai bentuk dakwah bil hikmah.
- Pentingnya musyawarah: Setiap informasi yang meragukan harus dikonsultasikan dengan ustadz atau kiai, bukan disebarluaskan begitu saja.
Gus Salam juga mengenang jasa para pendiri pesantren, termasuk KH Bisri Mustofa dan KH Cholil Bisri, yang telah meletakkan dasar pendidikan berbasis akhlak. Ia berharap generasi milenial dan Gen Z di pesantren tidak tercerabut dari akar tradisi para muassis.
Respon Santri dan Harapan Ke Depan
Salah satu santri senior, Ahmad Zainuddin, mengaku tercerahkan dengan pengajian tersebut. "Saya jadi paham bahwa main Instagram atau TikTok itu tidak dilarang, asal tetap ingat waktu dan niat. Gus Salam memberikan solusi, bukan sekadar larangan," ujarnya usai acara.
Pengajian yang berakhir sekitar pukul 22.15 WIB itu ditutup dengan doa bersama yang dipimpin langsung oleh Gus Salam. Para hadirin tampak khusyuk, dan banyak yang menahan diri untuk tidak berswafoto terlebih dahulu sebelum benar-benar keluar dari area masjid, sebagai bentuk penghormatan terhadap pesan adab yang baru saja disampaikan.
PP Mamba’ul Ma’arif sendiri merupakan salah satu pesantren tertua di Jombang yang konsisten mencetak generasi santri berintelektual tinggi dan berakhlak mulia. Dengan adanya pengajian seperti ini, diharapkan para santri mampu menjadi agen perubahan di era digital tanpa meninggalkan jati diri pesantren yang sesungguhnya.
Comments (0)