Menyesap Kenangan: Jejak 10 Kopi Terbaik Asia
Di sudut kedai mungil di bilangan Menteng, Jakarta, Rama menangkupkan kedua telapak di sekitar cangkir tanah liat. Uap yang mengepul membawa aroma tanah basah dan cokelat tua—Gayo. Tegukan pertama m...
Di sudut kedai mungil di bilangan Menteng, Jakarta, Rama menangkupkan kedua telapak di sekitar cangkir tanah liat. Uap yang mengepul membawa aroma tanah basah dan cokelat tua—Gayo. Tegukan pertama menyapa langit-langitnya, dan seketika itu juga ia kembali ke pagi berkabut di dataran tinggi Aceh, tiga tahun silam. Saat itulah perjalanannya mencari 10 biji kopi terbaik Asia dimulai, tanpa ia sadari akan mengubah cara ia memandang hidup.
Pertemuan Pertama di Lembah Mocha
Semua berangkat dari rasa penasaran. Sebagai penulis lepas yang gemar mengisahkan perjalanan, Rama mendapati daftar 10 biji kopi terbaik Asia versi TasteAtlas tergeletak di meja kafe langganannya. Daftar itu menjadi peta yang tak direncanakan. "Awalnya saya hanya ingin mencicipi, bukan menghayati," kenangnya. Perjalanan pertamanya membawanya ke Yaman, negeri yang melahirkan kata mocha.
Di pasar Al-Milh yang berdebu, ia bertemu seorang penjual tua bernama Salim. Dari ceret tembaga yang menghitam, Salim menuangkan kopi bercampur kapulaga ke cangkir kecil. "Ini Mocha Sanani," katanya. "Biji yang kau minum adalah hasil panen yang sama dengan yang diminum kakekku 80 tahun lalu." Di sanalah Rama belajar bahwa kopi bukan sekadar minuman, melainkan pusaka rasa yang diwariskan.
Menelusuri 10 Cita Rasa, Menuai Kisah Manusiawi
Dari Semenanjung Arab, Rama terbang ke Asia Selatan. Di pesisir Malabar, India, ia disambut hujan monsun yang legendaris—hujan yang sengaja digunakan untuk mengubah biji kopi menjadi Monsooned Malabar. Proses pelapukan alami di gudang-gudang terbuka menghasilkan rasa rendah asam yang unik. Seorang petani bernama Anil berkata, "Kopi ini adalah bukti bahwa alam bisa menjadi mitra, bukan lawan." Kalimat itu mendorong Rama untuk terus menggali lebih dalam.
Lompatan berikutnya membawanya ke Filipina. Di perkebunan Batangas, kopi Liberica (Barako) tumbuh di pohon-pohon setinggi 20 meter. Bukan sekadar memanen, para petani harus memanjat batang licin dengan alat seadanya. "Banyak yang bilang kopi ini sulit ditemukan, tapi bagi kami, ia adalah nadi kehidupan," ujar Rosa, perempuan petani yang sendirian membesarkan tiga anak dari hasil panen Barako. Air mata Rosa menetes saat ia bercerita tentang sulitnya akses pasar, namun senyumnya merekah ketika Rama menyebut kopinya masuk daftar biji terbaik Asia. "Setidaknya dunia tahu kami ada," bisiknya.
Setelah bertemu Rosa, saya tidak bisa lagi memandang secangkir kopi hanya sebagai kenikmatan. Ada perjuangan yang tersimpan di setiap butirnya.
Di Indonesia, selain Gayo yang menjadi pembuka cerita, Rama singgah di Tana Toraja. Menyeduh Kopi Toraja Sulawesi di rumah adat Tongkonan, ditemani upacara Rambu Solo'. Asap dupa bercampur aroma kopi menciptakan lanskap spiritual yang sulit dilupakan. Kemudian di Kintamani, Bali, ia mendapati perpaduan harmonis antara jeruk dan kopi—sistem tumpang sari Kopi Bali Kintamani yang diajarkan turun-temurun. Sepuluh biji kopi terbaik itu, termasuk Kopi Luwak yang kontroversial dan Kopi Java yang klasik, mulai membentuk mosaik rasa yang tak terpisahkan dari cerita manusia di baliknya.
Momen Mengharukan di Antara Tumbuhan Kopi
Puncak perjalanan justru terjadi di dataran tinggi Vietnam, di mana kopi Robusta menjadi denyut nadi ekonomi. Di kedai kopi telur legendaris, Rama menyesap kenikmatan kental yang manis, tetapi hatinya tertinggal di rumah Mbah Surti, petani kopi di lereng Gunung Lawu. Perempuan 72 tahun itu tidak tahu daftar TasteAtlas, tidak paham istilah cupping score. Yang ia tahu hanyalah merawat pohon kopi warisan suaminya, agar tetap berbuah untuk menghidupi enam cucu yatim piatu.
"Kalau musim panen, saya suka memandangi biji-biji merah ini. Bagaikan permata yang dikirim suami saya dari langit," tutur Mbah Surti pelan. Di teras bambunya yang sederhana, Rama menyadari bahwa perjalanan mencari 10 biji kopi terbaik Asia bukan soal peringkat atau pengakuan global. Ini tentang menemukan kembali kemanusiaan yang kerap terlupakan dalam hiruk pikuk modernitas—tentang cinta, harapan, dan mimpi yang diseduh bersama setiap pagi.
Kini, setiap kali mencium aroma kopi Gayo di kedai kecilnya, Rama teringat wajah-wajah itu. Dan daftar sepuluh biji kopi terbaik Asia yang semula hanya barisan nama, telah menjelma menjadi album kenangan yang menghangatkan hati.
Baca juga:
Comments (0)