Indonesia Belasungkawa, Mengenang Arsitek Qatar Modern Syekh Hamad
Di sebuah senja yang basah oleh embun Teluk Persia, Ibu Kota Doha mendadak hening. Lalu lintas yang biasanya riuh seolah menahan napas. Dari ujung jalan Corniche hingga lorong-lorong Souq Waqif, kabar...
Di sebuah senja yang basah oleh embun Teluk Persia, Ibu Kota Doha mendadak hening. Lalu lintas yang biasanya riuh seolah menahan napas. Dari ujung jalan Corniche hingga lorong-lorong Souq Waqif, kabar itu menyebar bagai api dalam sekam: Syekh Hamad bin Khalifa Al Thani, mantan Emir yang memimpin Qatar selama hampir dua dekade, telah berpulang dalam usia 74 tahun. Indonesia, negeri yang berjarak ribuan kilometer dari jazirah itu, ikut merasakan getir kehilangan sang pemimpin visioner. Melalui Kementerian Luar Negeri, Jakarta menyampaikan ungkapan belasungkawa mendalam seraya mengirim doa untuk mendiang dan keluarga Kerajaan Al Thani.
Bagi banyak negara, kepergian Syekh Hamad bukan sekadar pergantian generasi. Ia adalah arsitek di balik transformasi Qatar dari emirat kecil yang kerap dipandang sebelah mata menjadi salah satu negara paling berpengaruh di panggung global. Dengung duka yang tiba di Jakarta pun terasa personal. Bukan hanya karena hubungan diplomatik yang telah terjalin erat, melainkan juga karena ikatan kemanusiaan yang tersulam lewat ribuan warga Indonesia yang menggantungkan hidup di tanah Qatar. "Kami kehilangan seorang sahabat sejati," ucap seorang diplomat senior Indonesia yang enggan disebut namanya. Suaranya bergetar, seolah tak kuasa menahan kenangan.
Jejak Sang Arsitek: Dari Panggung Istana ke Hati Rakyat
Sulit memisahkan cerita kebangkitan Qatar dari nama Syekh Hamad. Saat mengambil alih tampuk kekuasaan pada 1995, Qatar adalah negeri yang tenang, namun belum menemukan panggungnya. Di bawah tangannya, cadangan gas alam raksasa North Field diolah menjadi mesin kesejahteraan. Kilang-kilang LNG berdiri, dan dalam waktu singkat, Qatar menjelma menjadi salah satu pemasok energi utama dunia. Lebih dari itu, sang Emir paham bahwa diplomasi adalah panggung sesungguhnya. Ia membuka pintu lebar-lebar bagi mediasi konflik, dari Sudan hingga Lebanon, menjadikan Doha sebagai ruang dialog yang netral dan dihormati.
Namun bagi mereka yang pernah berinteraksi, Syekh Hamad adalah figur yang rendah hati. Seorang pengajar dari Indonesia yang pernah diundang ke forum pendidikan di Doha menceritakan momen singkat yang tak terlupakan. "Beliau mendatangi kami, para peserta, bukan untuk berpidato, melainkan duduk dan bertanya: apa yang bisa Qatar pelajari dari Indonesia?" cerita sang pengajar, setengah tak percaya. Kesan personal semacam itulah yang membuat banyak pihak terpukul mendengar kabar wafatnya.
Pilar Diplomasi dan Jembatan Dua Benua
Relasi Indonesia–Qatar di era Syekh Hamad mengalami lonjakan signifikan. Investasi Qatar di sektor properti dan perbankan Tanah Air, penerbangan langsung Garuda Indonesia ke Doha yang dulu sempat berjaya, serta perlindungan pekerja migran adalah beberapa wujud konkret yang tak lepas dari keterlibatan langsung sang Emir. Dalam sejumlah pertemuan bilateral, Syekh Hamad kerap menekankan kekagumannya pada kerukunan bangsa Indonesia. Ia bahkan pernah melontarkan pujian bahwa Indonesia adalah miniatur masa depan dunia Islam yang damai. Kini, saat bendera setengah tiang berkibar di Kedutaan Besar Qatar di Jakarta, pujian itu seperti bergema kembali.
Di tengah kesibukan gedung-gedung kaca di Sudirman, ada kesunyian yang berbeda pagi ini. Selembar karangan bunga putih berdiri di depan pintu kedutaan. Tidak ada nama pada pita yang terikat, hanya tulisan sederhana: "Dari tetangga Anda di Jakarta, dengan cinta."
Pewarisan Takhta dan Pijar yang Takkan Pudar
Langkah Syekh Hamad menyerahkan kekuasaan kepada putranya, Syekh Tamim bin Hamad Al Thani, pada 2013 adalah momen yang mengejutkan dunia. Di kawasan yang para pemimpinnya kerap berkuasa seumur hidup, ia justru memilih menyaksikan regenerasi dari kursi belakang. Keputusan itu bukan cuma soal transisi politik, melainkan ujian visi: bahwa seorang pemimpin besar bukanlah dia yang bertahan paling lama, melainkan yang mampu menyiapkan generasi penerus dengan cermat. Kini, di bawah Syekh Tamim, Qatar melanjutkan pijar-pijar yang telah dinyalakan sang ayah, dan dunia menyaksikan bahwa warisan itu tak akan padam.
Dari Jakarta, doa-doa terlantun dalam perpaduan bahasa Indonesia dan Arab. Di masjid-masjid yang biasa diramaikan komunitas diaspora, ada jeda hening. Kepergian Syekh Hamad adalah pengingat bahwa kehilangan seorang negarawan besar tak mengenal batas negara. Bagi Indonesia, hari-hari ke depan adalah saatnya merenungkan kembali betapa berharganya persahabatan yang telah dibangun dengan susah payah itu. "Semoga Allah menempatkan beliau di surga terbaik," bisik seorang warga Indonesia yang tengah mengurus dokumen kerja di Kedutaan Qatar. Lirih, namun penuh makna.
Baca juga:
Comments (0)