Welcome!

Unlock your personalized experience.
Sign Up

Menteri Haji dan Umrah Bahas Nasib Ribuan Jemaah Tertunda di Hadapan DPR

Ruangan rapat Komisi VIII DPR RI siang itu terasa lebih hening dari biasanya. Di hadapan para anggota dewan, Mochamad Irfan Yusuf—Menteri Haji dan Umrah ya

Jul 08, 2026 - 21:48
0 1
Menteri Haji dan Umrah Bahas Nasib Ribuan Jemaah Tertunda di Hadapan DPR

Ruangan rapat Komisi VIII DPR RI siang itu terasa lebih hening dari biasanya. Di hadapan para anggota dewan, Mochamad Irfan Yusuf—Menteri Haji dan Umrah yang baru beberapa bulan dilantik—duduk dengan tumpukan berkas laporan kuota haji. Wajahnya tampak lelah, tetapi sorot matanya tetap tenang. Di belakangnya, terbentang layar besar yang menampilkan angka-angka membisu: sekitar 5,2 juta warga Indonesia masih mengantre keberangkatan haji, dengan masa tunggu rata-rata di beberapa daerah mencapai 47 tahun. “Angka ini bukan sekadar statistik,” ujarnya lirih, memecah sunyi. “Di balik setiap digit, ada nama, ada wajah, ada lansia yang setiap malam berdoa agar usianya cukup untuk sampai ke tanah suci.”

“Saya Hanya Ingin Mencium Kabah Sebelum Mata Ini Tertutup”

Pernyataan menteri itu sontak mengingatkan seisi ruangan pada kisah-kisah yang sering luput dari pemberitaan. Salah satu anggota Komisi VIII, yang enggan disebut namanya, mengaku masih menyimpan pesan suara seorang nenek asal Tasikmalaya yang dikirim kepadanya tahun lalu. Nenek itu menangis, memohon agar namanya bisa dipercepat karena usianya sudah 87 tahun dan kesehatannya menurun drastis. “Saya hanya ingin mencium Kabah sebelum mata ini tertutup, Pak. Tolong bantu saya.” Kalimat itu kini seakan menggantung di langit-langit ruang rapat. Bagi banyak calon jemaah, perjalanan haji bukan sekadar ritual keagamaan—melainkan puncak kerinduan seumur hidup yang sering kali harus berakhir dengan kekecewaan.

Menteri Irfan menghela napas panjang saat menyampaikan data terbaru. Sistem kuota yang sudah ada masih menjadi tantangan besar, meski pemerintah Arab Saudi telah menambah jatah Indonesia menjadi 241.000 jemaah per tahun. Namun, angka itu ibarat setetes air di tengah lautan antrean. “Kami sadar, setiap tahun yang berlalu berarti semakin banyak jemaah yang berpulang sebelum sempat berangkat. Ini bukan sekadar persoalan teknis—ini soal hati, soal keadilan emosional bagi warga yang sudah menabung dan menanti puluhan tahun,” tegasnya.

Usulan Solusi dan Sentuhan Kemanusiaan

Rapat itu kemudian memasuki sesi diskusi yang cukup hangat. Sejumlah anggota dewan mengusulkan percepatan integrasi teknologi antrean digital secara transparan, juga penguatan koordinasi dengan pemerintah daerah untuk memverifikasi jemaah lanjut usia dan sakit kronis agar mendapat prioritas. Seorang wakil rakyat dari dapil Jawa Barat bahkan mengusulkan skema “haji khusus lansia” dengan pendampingan medis penuh. “Kita tidak bisa terus-menerus membiarkan jemaah wafat dalam daftar tunggu. Mereka bukan angka, Pak Menteri, mereka adalah ibu, bapak, kakek, nenek kita sendiri,” serunya dengan suara bergetar.

“Kami ingin memastikan bahwa istitha’ah kesehatan jadi pertimbangan utama, bukan hanya urutan antrean. Ada jemaah yang sudah menunggu 30 tahun tapi tiba-tiba lumpuh. Jika kita hanya berpegang pada nomor urut, keadilan itu terasa kering dan kejam.” — seorang anggota Komisi VIII dalam rapat

Menteri Irfan mengangguk pelan. Ia mengaku sudah menyiapkan tim khusus untuk menyisir data jemaah risiko tinggi di seluruh provinsi. Tim itu akan bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan dan Kementerian Sosial. “Saya tidak mau ada lagi berita tentang kakek-nenek yang meninggal dengan memegang foto Kabah. Itu pukulan batin bagi kita semua,” katanya. Ia juga menekankan bahwa Kementerian Haji dan Umrah sedang melakukan negosiasi intensif dengan pemerintah Arab Saudi untuk mendapatkan slot tambahan bagi jemaah lansia, sekaligus meminta kemudahan akses kursi roda dan jalur khusus di Masjidil Haram.

Beberapa jam kemudian, rapat usai. Namun wajah-wajah yang meninggalkan ruangan tidak benar-benar lega. Di lobi gedung DPR, seorang staf ahli menteri bercerita bahwa di meja kerja menteri, terselip puluhan surat tulisan tangan dari calon jemaah yang memohon kepastian. “Pak Menteri selalu membacanya satu per satu. Kadang beliau terdiam lama sekali. Ini memang beban yang tidak ringan,” bisiknya. Mungkin, di tengah angka dan kuota, yang paling dibutuhkan sekarang adalah keberpihakan hati. Sebab, seperti bisik nenek Tasikmalaya yang pesannya masih menggema, harapan tidak mengenal antrean.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User