Welcome!

Unlock your personalized experience.
Sign Up

TANGERANG — Petugas Gabungan Perangi Bara dan Asap TPA Jatiwaringin pada Hari Kesembilan

Memasuki hari kesembilan, kobaran api yang bersembunyi di balik tumpukan sampah setinggi bukit masih terus mengeluarkan asap tebal yang menyelimuti langit

Jul 08, 2026 - 21:45
0 0
TANGERANG — Petugas Gabungan Perangi Bara dan Asap TPA Jatiwaringin pada Hari Kesembilan

Memasuki hari kesembilan, kobaran api yang bersembunyi di balik tumpukan sampah setinggi bukit masih terus mengeluarkan asap tebal yang menyelimuti langit TPA Jatiwaringin, Tangerang. Ratusan petugas gabungan dari Dinas Pemadam Kebakaran, BPBD, TNI, dan relawan tak kenal lelah berjibaku. Bukan hanya melawan bara yang tak kasat mata, tetapi juga melawan kelelahan fisik dan ancaman racun yang mengintai di setiap hirupan napas mereka. Cahaya jingga redup yang sesekali muncul dari sela-sela gunungan sampah menjadi saksi bisu betapa gigihnya upaya mereka memutus rantai bencana yang telah mengganggu hidup ribuan warga ini.

Nafas yang Tertahan, Kehidupan yang Terhenti Sejenak

Di permukiman padat tak jauh dari TPA, kehidupan tak lagi berjalan normal. Kegiatan belajar mengajar di tiga sekolah dasar terpaksa diliburkan untuk hari keempat berturut-turut. Para ibu muda memilih mengungsi ke rumah kerabat, sementara para ayah bertahan dengan masker basah yang kini menjadi aksesoris wajib. Asap pekat bukan hanya menusuk mata dan tenggorokan, ia merayap masuk ke celah-celah rumah, menempel di pakaian, dan menyisakan debu halus di setiap sudut ruangan.

"Setiap pagi saya bangun dengan dada sesak. Anak saya yang masih balita sudah tiga hari ini batuk terus-menerus. Kami tidak tahu harus mengadu ke mana lagi, rasanya seperti dikepung tanpa bisa melarikan diri,"

ungkap Rina (34), warga Perumahan Alam Asri yang jaraknya hanya 500 meter dari pusat titik api, dengan suara serak saat ditemui di posko kesehatan darurat.

Strategi Perang Melawan 'Musuh Tak Kasat Mata'

Komandan Satgas Penanganan Darurat, AKBP Hendra Wijaya, menjelaskan bahwa pola kebakaran kali ini berbeda. Mayoritas api menjalar secara underground, menyusup jauh ke kedalaman tumpukan sampah hingga 15 meter. Metana yang terperangkap di lapisan bawah terus-menerus menyulut bara, menjadikan teknik penyemprotan air biasa nyaris sia-sia. Strategi yang kini diandalkan adalah:

  • Penyuntikan air bertekanan tinggi langsung ke dalam tanah menggunakan pipa-pipa khusus berdiameter kecil yang ditusukkan ke titik-titik hotspot.
  • Pembuatan sekat bakar (fire break) dengan pengerahan 12 ekskavator yang bekerja nonstop sejak hari ketiga, membelah bukit sampah menjadi beberapa blok isolasi.
  • Water bombing via drone yang mampu menjangkau area terdalam yang tak bisa diakses manusia untuk menetralisir gas metana di permukaan.

Namun, upaya ini bukannya tanpa kendala. Keterbatasan sumber air bersih menjadi momok utama. Armada tangki merah harus bolak-balik menempuh jarak 12 kilometer ke sumber air terdekat, sementara tekanan pompa yang terus bekerja selama sembilan hari mulai menunjukkan tanda-tanda penurunan performa.

"Ini benar-benar pertempuran yang melelahkan. Kami padamkan di titik A, besoknya asap muncul lagi di titik B yang baru. Tapi kami tidak boleh menyerah, karena di luar sana ada puluhan ribu warga yang menggantungkan harapan pada kami,"

kata Komandan Regu B, Sertu Dedi Irawan, dengan wajah lelah yang tak bisa disembunyikan oleh lapisan jelaga tebal di pipinya.

Detik-detik Para 'Pahlawan Abu-abu' di Tengah Kepungan

Pemandangan di zona inti pemadaman sungguh memilukan sekaligus membanggakan. Para petugas bergerak lamban, langkah kaki mereka berat karena sepatu boots yang terus terhisap lumpur abu. Hembusan angin yang tiba-tiba berubah arah kerap membuat mereka harus berlari menyelamatkan diri dari kepulan asap beracun yang bisa menjatuhkan seseorang dalam hitungan menit. Di tenda istirahat darurat, tabung-tabung oksigen berjajar sejajar dengan botol air mineral—sebuah ironi pahit di balik dedikasi.

Dr. Amalia dari Tim Medis Lapangan mengungkapkan, setidaknya 23 petugas telah mengalami gejala keracunan ringan berupa mual, pusing, dan iritasi saluran pernapasan akut selama operasi berlangsung. Meski begitu, belum satu pun yang memilih mundur dari garis depan. Mereka adalah warga sipil biasa yang mendadak menjadi pahlawan, berbekal semangat gotong royong yang terus menyala di tengah pekatnya asap.

Apa yang Bisa Dipetik dari Bencana Ini?

Kebakaran TPA bukan sekadar soal api yang harus dipadamkan. Ini adalah kisah tentang ketahanan sosial dan bagaimana sebuah komunitas bersatu menghadapi ancaman lingkungan yang mengerikan. Di balik gundukan sampah yang masih membara, ada pekerjaan rumah besar yang menanti: manajemen sampah yang lebih berkelanjutan, mitigasi risiko sejak dini, dan tentu saja, apresiasi yang layak bagi para lelaki dan perempuan yang mempertaruhkan paru-paru mereka demi langit biru yang seharusnya menjadi hak setiap warga.

Operasi pemadaman diperkirakan masih akan berlangsung setidaknya lima hari ke depan, dengan fokus utama saat ini adalah mengeliminasi sisa titik api dalam dan mengurangi intensitas asap yang selama ini menjadi sumber penderitaan warga.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User