Candi Prambanan — Prabowo dan Modi Disambut Tari Rama Shinta
Senja mulai menyelimuti kompleks Candi Prambanan, meninggalkan semburat jingga di langit yang perlahan berubah kelam. Namun malam itu, keheningan candi Hin
Senja mulai menyelimuti kompleks Candi Prambanan, meninggalkan semburat jingga di langit yang perlahan berubah kelam. Namun malam itu, keheningan candi Hindu terbesar di Indonesia itu tidak seperti biasanya. Derap langkah teratur, bisik-bisik penuh antusias, dan alunan gamelan yang menggetarkan udara menjadi pertanda: dua pemimpin negara sedang bertamu di pelataran bersejarah ini.
Tiba-tiba, panggung di depan candi utama menyala. Dua puluh penari muncul dengan gemulai, mengenakan kostum warna-warni yang berkilauan diterpa cahaya lampu. Gerakan tangan yang lembut, tatapan mata yang tajam, dan hentakan kaki yang selaras dengan irama gamelan seketika memukau seluruh hadirin. Tarian itu adalah Sendratari Ramayana, tepatnya fragmen Rama Shinta—kisah cinta dan kesetiaan yang lahir dari tanah India dan telah menjadi bagian dari jiwa budaya Jawa selama berabad-abad.
Di barisan depan, Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri India Narendra Modi duduk bersebelahan. Keduanya tampak terpukau. Sesekali Modi mengangguk-angguk kecil mengikuti irama, seolah menemukan kembali serpihan kampung halamannya di tengah malam Yogyakarta. Prabowo, dengan senyum khasnya, beberapa kali menunjuk ke arah panggung, mungkin menceritakan detail filosofis di balik setiap gerakan. Momen itu begitu intim, melampaui protokol kenegaraan yang biasanya kaku.
“Saya sudah menari sejak umur tujuh tahun, tapi malam ini rasanya berbeda,” ujar Rani Kusumastuti (24 tahun), salah satu penari yang memerankan dayang Shinta. “Biasanya kami menari untuk turis, tapi kali ini kami menari untuk dua pemimpin yang memiliki ikatan sejarah begitu dalam dengan cerita ini. Ada rasa bangga sekaligus gentar. Saat saya melirik ke arah tamu kehormatan, saya lihat PM Modi tersenyum. Seketika semua rasa gugup hilang.”
Sepanjang pertunjukan 45 menit itu, suasana hening namun penuh energi. Hanya suara gamelan dan nyanyian sinden yang terdengar, diselingi tepuk tangan ketika para penari menampilkan adegan klimaks: Rama memanah raksasa Rahwana. Saat pertunjukan usai, kedua pemimpin berdiri memberikan standing ovation. Modi bahkan meminta berfoto bersama seluruh penari, sebuah gestur yang kemudian viral di media sosial dan mengundang gelombang komentar positif dari warganet kedua negara.
Jembatan Budaya yang Menyentuh Hati
Diplomasi antarnegara sering kali dingin, penuh angka dan perjanjian di balik meja. Namun malam di Prambanan itu menunjukkan sisi lain: bahwa kebudayaan bisa menjadi jembatan paling hangat. Kisah Ramayana bukan sekadar mitologi; ia adalah benang merah yang mengikat peradaban India dan Nusantara sejak abad ke-9, saat candi-candi Hindu pertama kali dibangun di Jawa.
“Saat PM Modi menyaksikan Rama Shinta di candi yang dibangun oleh leluhur yang menghormati cerita India, itu adalah pesan diam-diam yang lebih kuat daripada sekadar nota kesepahaman,” ujar Dr. Andi Prasetyo, pengamat hubungan internasional dari Universitas Gadjah Mada. “Budaya menciptakan kepercayaan, dan kepercayaan adalah fondasi kerja sama strategis. Malam ini adalah investasi diplomasi jangka panjang.”
Pemilihan Prambanan bukan kebetulan. Candi ini adalah Situs Warisan Dunia UNESCO yang setiap tahun dikunjungi lebih dari 1,5 juta wisatawan, termasuk ribuan peziarah spiritual dari India. Dengan menghadirkan tarian ini di hadapan PM Modi, Indonesia seolah berbisik: “Kalian bukan tamu asing, kalian adalah keluarga.”
Perbandingan Kunjungan Kenegaraan Berbasis Budaya
Pertemuan Prabowo-Modi di Prambanan mengingatkan pada beberapa momen serupa ketika Indonesia menggunakan kekuatan budaya untuk menyambut pemimpin dunia. Berikut perbandingannya:
| Tahun | Tamu Kenegaraan | Lokasi | Pertunjukan Budaya | Dampak Publik |
|---|---|---|---|---|
| 2024 | PM India Narendra Modi | Candi Prambanan | Sendratari Ramayana (Rama Shinta) | Viral, apresiasi lintas negara |
| 2022 | Presiden Tiongkok Xi Jinping | Kebun Raya Bogor | Angklung & Tari Saman | Pujian media Tiongkok |
| 2013 | Presiden AS Barack Obama | Istana Negara | Wayang Kulit (tokoh Arjuna) | Simbolik kuat, Obama sebut “pulang” |
Melihat tabel tersebut, jelas bahwa setiap kali Indonesia menggelar pertunjukan yang berkaitan dengan akar budaya tamu, resonansi emosionalnya jauh lebih dalam daripada sekadar jamuan resmi. Dan tak satu pun yang sekuat Prambanan—candi yang dibangun dengan mitologi yang lahir di negeri tamu sendiri.
Kesan Personal di Balik Panggung
Di belakang panggung, suasana lebih emosional. Beberapa penari terlihat berpelukan, air mata haru menetes membasahi riasan wajah. Salah satunya adalah Darmaji (58 tahun), koreografer senior yang telah mendedikasikan hidupnya untuk Sendratari Ramayana sejak 1989.
“Ini adalah puncak perjalanan saya,” katanya dengan suara bergetar. “Dulu saya menari di sini untuk wisatawan yang kadang mengantuk. Malam ini saya melihat dua pemimpin besar tersenyum dan bertepuk tangan. Itu artinya cerita yang kita jaga tetap hidup sampai hari ini. Saya merasa kerja keras saya selama puluhan tahun dihargai oleh sejarah.”
Sementara itu, di kawasan wisata sekitar candi, puluhan pedagang kaki lima dan pemandu wisata ikut merasakan getaran kebanggaan. Murni (35 tahun), penjual batik di pasar Prambanan, mengaku dagangannya laris manis oleh delegasi India yang ingin membawa pulang kenang-kenangan. “Mereka bilang, ‘kami merasa di rumah sendiri.’ Saya tidak mengerti politik, tapi kalau tamu merasa nyaman, rezeki kami ikut lancar,” ujarnya sambil tersenyum lebar.
Malam itu, Prambanan tidak hanya menjadi saksi bisu pertemuan dua pemimpin, tetapi juga menjadi panggung hidup di mana masa lalu dan masa depan, India dan Indonesia, bersatu dalam irama yang sama. Dan bagi mereka yang hadir, baik di tribun VIP maupun di balik layar, tarian itu bukan sekadar suguhan visual; ia adalah detak jantung diplomasi yang paling jujur.
Comments (0)