Menag Nasaruddin Pimpin Peringatan Tahun Baru Islam 1448 H

JAKARTA — Menteri Agama Republik Indonesia, Nasaruddin Umar, secara resmi memimpin peringatan malam pergantian Tahun Baru Islam 1 Muharam 1448 Hijriah di M

Jul 13, 2026 - 12:02
0 0
Menag Nasaruddin Pimpin Peringatan Tahun Baru Islam 1448 H

JAKARTA — Menteri Agama Republik Indonesia, Nasaruddin Umar, secara resmi memimpin peringatan malam pergantian Tahun Baru Islam 1 Muharam 1448 Hijriah di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, pada Senin malam (15/6/2026). Ribuan jemaah dari berbagai penjuru ibukota dan daerah penyangga memadati ruang utama masjid terbesar di Asia Tenggara itu untuk mengikuti rangkaian doa, zikir, dan tausiyah kebangsaan yang disampaikan langsung oleh sang menteri.

Dalam suasana khusyuk yang diiringi lantunan ayat suci Al-Qur'an, Menag hadir tidak sekadar sebagai pejabat negara, tetapi sebagai tokoh spiritual yang mengajak seluruh elemen bangsa untuk memaknai Tahun Baru Islam sebagai momentum transformasi diri. Peringatan ini menjadi yang pertama digelar secara hibrida pasca-reformasi birokrasi di Kementerian Agama, menggabungkan kehadiran fisik di Masjid Istiqlal dengan siaran langsung yang menjangkau lebih dari 2,3 juta penonton daring di berbagai platform digital.

Awal Malam: Prosesi Penyambutan dan Pembacaan Doa Akhir Tahun

Rangkaian acara dimulai tepat pukul 19.00 WIB. Jemaah yang telah memadati saf-saf utama sejak waktu Magrib disuguhkan lantunan selawat badar oleh tim hadrah dari Pondok Pesantren Al-Hamid Jakarta. Tepat pukul 19.30 WIB, Menag Nasaruddin Umar tiba di lokasi dan disambut oleh Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof. Dr. K.H. Nasaruddin Umar (yang kebetulan memiliki nama sama namun berbeda figur) serta jajaran pengurus Badan Pengelola Masjid Istiqlal (BPMI).

Prosesi diawali dengan pembacaan Doa Akhir Tahun 1447 Hijriah yang dipimpin oleh Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Doa tersebut berisi permohonan ampunan atas dosa selama setahun terakhir dan harapan keberkahan di tahun mendatang. "Kita tutup tahun 1447 H dengan evaluasi spiritual, bukan sekadar selebrasi," ujar Menag dalam sambutan pembukanya.

Puncak Acara: Sambutan Kenegaraan Bergaya Tausiyah

Momen yang paling ditunggu terjadi saat Menag menyampaikan sambutan kenegaraan yang dikemas dalam gaya tausiyah reflektif. Dengan mengenakan setelan jas hitam dan peci nasional, Nasaruddin Umar berdiri di mimbar utama dan menyampaikan pesan mendalam tentang relevansi hijrah dalam konteks pembangunan nasional. Ia menegaskan bahwa hijrah bukan hanya perpindahan fisik dari Makkah ke Madinah, melainkan perubahan pola pikir dari keterbelakangan menuju kemajuan.

"Hijrah adalah revolusi mental. Jika dulu hijrah berarti meninggalkan sistem jahiliyah, kini hijrah berarti meninggalkan mental korupsi, malas, dan pesimis. Tahun 1448 Hijriah harus menjadi tahun di mana kita semua berhijrah menuju Indonesia yang lebih bermartabat,"

Dalam analisisnya mengenai kondisi sosial-keagamaan Indonesia, Menag memaparkan beberapa tantangan signifikan yang perlu dijawab melalui semangat hijrah. Beliau menyoroti peningkatan kasus perundungan di institusi pendidikan agama yang naik 12% dibandingkan tahun sebelumnya, serta maraknya praktik judi daring yang turut menjerat segmen masyarakat Muslim perkotaan. Menurutnya, hijrah spiritual harus bersifat holistik—mencakup dimensi etika sosial, ekonomi, dan digital.

Lontar Gagasan: Moderasi Beragama dan Toleransi Aktif

Menag kembali menegaskan komitmen Kementerian Agama dalam mengarusutamakan program Moderasi Beragama yang telah menjadi program prioritas nasional. Di hadapan jemaah yang heterogen, ia menekankan bahwa menjadi Muslim yang taat tidak berarti harus intoleran terhadap perbedaan. Data riset internal Kementerian Agama menunjukkan bahwa indeks kerukunan umat beragama nasional mengalami stagnasi di angka 73,4 dari skala 100, sehingga perlu ada intervensi kultural yang lebih masif.

"Islam itu moderat, bukan ekstrem. Jangan sampai masjid-masjid megah seperti Istiqlal ini hanya menjadi monumen, tetapi sepi dari narasi perdamaian," tegasnya. Sebagai bentuk simbolis, di akhir acara Menag bersama pemimpin lintas agama yang hadir melakukan penandatanganan prasasti digital bertajuk "Komitmen Kebangsaan 1448 H" yang berisi ikrar menjaga persatuan pasca-Pemilu.

Respon Jemaah dan Prosesi Penutupan

Antusiasme jemaah terlihat jelas sepanjang acara. Salah seorang jemaah asal Bekasi, Rahmawati (43), mengaku sengaja datang bersama keluarganya. "Saya kira ceramahnya akan formal seperti pejabat biasanya, ternyata isinya menyentuh soal problem anak muda zaman sekarang. Pesan anti-judol-nya itu penting sekali," tuturnya kepada awak media.

Acara ditutup pada pukul 22.15 WIB dengan pembacaan Doa Awal Tahun 1448 Hijriah yang dipimpin oleh Menag sendiri diiringi isak tangis haru dari para jemaah. Usai berdoa, tanpa dikomando, para jemaah saling bersalaman dan berpelukan sebagai simbol penyucian diri memasuki lembaran baru. Tahun 1448 Hijriah diharapkan menjadi saksi kebangkitan spiritual bangsa yang lebih inklusif dan berakhlak mulia.

[SOCIAL_TWEET]: Hijrah bukan sekadar ritual, melainkan revolusi mental. Menag @nasaruddinumar resmi buka Tahun Baru Islam 1448 H di Masjid Istiqlal dengan pesan anti-korupsi & toleransi. 2,3 juta umat saksikan daring! #TahunBaruIslam #Hijrah1448H #ModerasiBeragama[SOCIAL_TG]: 🕌✨ Malam penuh haru di Masjid Istiqlal! Menag @nasaruddinumar pimpin doa & tausiyah sambut 1 Muharam 1448 H. Pesannya tegas: Hijrah itu tinggalkan malas & korupsi, bukan sekadar selebrasi. Yuk, baca detailnya!

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User