Santri Tuna Rungu Ajarkan Mengaji di Pondok Pesantren Jakarta

Suasana haru menyelimuti Pondok Pesantren Tahfidz Difabel KH Ahmad Lutfi Fathullah di kawasan Jakarta Timur pada Kamis (21/3/2024). Di salah satu sudut rua

Jul 13, 2026 - 12:09
0 0
Santri Tuna Rungu Ajarkan Mengaji di Pondok Pesantren Jakarta

Suasana haru menyelimuti Pondok Pesantren Tahfidz Difabel KH Ahmad Lutfi Fathullah di kawasan Jakarta Timur pada Kamis (21/3/2024). Di salah satu sudut ruang kelas, seorang santri penyandang tuna rungu dengan penuh kesabaran mengajari anak-anak difabel serupa untuk mengaji. Mereka tak mendengar lantunan ayat suci, namun tangan-tangan mungil itu menari-nari menerjemahkan setiap huruf hijaiyah ke dalam bahasa isyarat. Inilah wajah inklusif pendidikan Al-Quran di Indonesia, yang membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukan penghalang untuk mencintai kitab suci.

Pondok Pesantren Tahfidz Difabel KH Ahmad Lutfi Fathullah merupakan pesantren khusus yang fokus pada pembinaan tahfidz Al-Quran bagi penyandang disabilitas. Didirikan oleh almarhum KH Ahmad Lutfi Fathullah, seorang ulama yang juga memiliki keterbatasan penglihatan, pesantren ini menjadi pionir dalam mengajarkan Al-Quran kepada tunanetra, tunarungu, dan difabel lainnya. Kini pesantren tersebut menaungi sekitar 50 santri dengan berbagai jenis disabilitas. Sebanyak 15 di antaranya adalah tuna rungu, yang setiap hari belajar mengaji menggunakan metode isyarat khusus ciptaan para ustaz di sana.

Metode Unik: Isyarat Huruf dan Getaran Suara

Mengajarkan Al-Quran kepada tuna rungu membutuhkan pendekatan berbeda. Di pesantren ini, para pengajar menggunakan metode isyarat Al-Quran yang memadukan gerakan tangan untuk setiap huruf hijaiyah, ekspresi wajah, dan getaran suara. Santri tuna rungu belajar mengenali panjang-pendek bacaan (mad) melalui visualisasi gerakan, serta tajwid melalui sensasi getaran di pita suara ketika ustaz melafalkan ayat. “Mereka bisa merasakan getaran di leher kami, lalu menirukan dengan teknik pernapasan yang benar,” jelas Ustazah Siti Nurjanah, salah seorang pengajar di pondok yang sudah tiga tahun mendampingi santri tuna rungu.

“Anak-anak ini membuktikan bahwa cinta pada Al-Quran tidak butuh pendengaran. Mereka justru lebih fokus karena terbebas dari kebisingan,” tambahnya.

Rangkaian Kegiatan Harian

Berikut adalah kronologi kegiatan belajar mengaji bagi santri tuna rungu di pondok tersebut pada hari Kamis, 21 Maret 2024:

  1. 08.00 WIB – Santri tuna rungu berkumpul di mushala kecil. Seorang santri senior yang juga tuna rungu, Ahmad (21 tahun), memimpin doa dengan gerakan tangan yang fasih.
  2. 08.30 WIB – Kelas dimulai dengan pengenalan huruf hijaiyah isyarat. Setiap huruf memiliki simbol tangan berbeda, misalnya alif dengan telunjuk tegak, ba dengan genggaman tangan kanan yang dibuka perlahan.
  3. 09.30 WIB – Praktik membaca surat pendek. Santri memegang leher ustaz untuk merasakan getaran, lalu menirukan bacaan dengan gerakan tangan dan bibir.
  4. 10.30 WIB – Evaluasi hafalan dengan teknik talaqqi isyarat, yaitu ustaz memberi isyarat bacaan, santri menjawab dengan isyarat yang sama.
  5. 11.00 WIB – Kelas ditutup dengan sesi motivasi. Para santri saling menyemangati bahwa mereka kelak bisa menjadi penghafal Al-Quran dan mengajar teman-teman difabel lain.

Yang menarik, pengajar utama di kelas tuna rungu ini justru berasal dari kalangan santri tuna rungu itu sendiri. Mereka yang sudah lebih mahir, seperti Ahmad dan Rahma (19 tahun), dipercaya menjadi mentor sebaya. Ini menjadi contoh nyata pemberdayaan difabel, di mana mereka saling menguatkan dalam keterbatasan.

Manfaat dan Harapan

Pondok pesantren ini mendapat sambutan positif dari Kementerian Agama dan komunitas difabel. Menurut data Kementerian Sosial tahun 2023, terdapat lebih dari 2,5 juta penyandang disabilitas di Indonesia, dan sekitar 7% di antaranya adalah tuna rungu yang minim akses pendidikan agama. Keberadaan pesantren difabel diharapkan menjadi model untuk mendirikan pusat-pusat pembelajaran Al-Quran inklusif di daerah lain.

Pihak pesantren kini tengah mengembangkan aplikasi pembelajaran Al-Quran isyarat berbasis ponsel, bekerja sama dengan startup teknologi pendidikan. Direktur pesantren, KH Abdullah Syukri, menyatakan, “Kami ingin hasil inovasi ini bisa dinikmati oleh seluruh saudara kita yang tuna rungu di pelosok negeri, bukan hanya yang bisa datang ke Jakarta.”

Pada peringatan Hari Down Syndrome 2024 yang jatuh pada hari yang sama, kegiatan mengaji ini juga menjadi simbol perjuangan difabel untuk mendapatkan pendidikan setara. Pesan yang ingin disampaikan sederhana: di hadapan Sang Pencipta, semua manusia sama—yang membedakan hanyalah ketakwaan.

[SOCIAL_TWEET]: Menyentuh hati! Santri tuna rungu di Jakarta ajarkan mengaji pakai bahasa isyarat. Bukti cinta Al-Quran tak kenal batasan. #DifabelBisa #MengajiIsyarat #PondokPesantrenInklusif[SOCIAL_TG]: 🕌 Santri Tuna Rungu Ajarkan Mengaji di Pesantren Jakarta. Tangan-tangan kecil menari menerjemahkan Al-Quran. Cinta kitab suci tanpa batas pendengaran. 🙏

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User