Makkah — 1.988 Jemaah Dirujuk ke RS, 56 Masih Dirawat
Di kepulan debu dan keringat siang hari Arafah, Pak Hamdani (71) tiba-tiba merintih. Kedua tangannya mencengkeram dada. Istrinya, Bu Halimah, yang setia me
Di kepulan debu dan keringat siang hari Arafah, Pak Hamdani (71) tiba-tiba merintih. Kedua tangannya mencengkeram dada. Istrinya, Bu Halimah, yang setia menuntun sang suami sejak keberangkatan dari Banyuwangi, hanya bisa menangis. “Saya panik bukan main. Dia tiba-tiba bilang sesak, lalu jatuh lemas. Di tengah lautan manusia itu, rasanya saya sendirian,” kenang Bu Halimah lewat sambungan telepon, suaranya bergetar. Pak Hamdani adalah satu dari 1.988 jemaah haji Indonesia yang harus dirujuk ke rumah sakit pemerintah Arab Saudi sepanjang musim haji tahun ini. Hingga kemarin, 56 orang di antaranya masih terbaring di ruang perawatan intensif sejumlah rumah sakit di Makkah dan Madinah.
Kisah Pak Hamdani bukan sekadar angka. Di balik setiap rujukan ada doa yang menggantung, ada ketakutan yang tak terucap dari keluarga di Tanah Air, dan ada perjuangan tenaga medis yang bekerja tanpa kenal waktu. “Setiap kali mendengar ada ambulans melintas di Mina, jantung saya copot. Takutnya itu suami saya,” ujar Bu Halimah, yang kini menunggui sang suami di RS An-Noor, Makkah. Pak Hamdani didiagnosis serangan jantung ringan dan masih menjalani observasi. Ia termasuk dalam 56 pasien yang belum stabil untuk dipulangkan ke pemondokan.
Menteri Haji dan Umrah (Menhaj), dalam keterangan resminya, mengungkapkan bahwa mayoritas jemaah haji Indonesia pada tahun 2026 memiliki profil risiko tinggi. “Kami mencatat, dari sekitar 221 ribu jemaah yang berangkat, lebih dari 60 persen di antaranya membawa penyakit bawaan seperti hipertensi, diabetes, dan jantung,” ujar Menhaj. Kondisi iklim tanah suci yang bisa mencapai 48 derajat Celsius menjadi pemicu serius bagi jemaah dengan komorbid. Inilah yang membuat sistem rujukan rumah sakit menjadi penentu hidup dan mati.
Peta Rujukan dan Tantangan Kesehatan Jemaah
Data Kementerian Haji dan Umrah menunjukkan bahwa 1.988 rujukan terjadi dalam rentang waktu kurang dari 40 hari. Sebagian besar rujukan, sekitar 1.340 kasus, terjadi pada puncak ibadah di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna), ketika kelelahan puncak bertemu suhu ekstrem. Dari total yang dirujuk, 1.932 orang sudah kembali ke pemondokan atau menyelesaikan ibadah dengan bantuan kursi roda dan pendampingan. “Ini pelajaran berharga. Tahun depan kami harus lebih ketat dalam seleksi kesehatan, karena ibadah haji memang berat,” tegas Menhaj.
Namun, di balik data itu, ada semangat yang tak bisa dipatahkan. Pak Hamdani, meski terbaring, masih meminta didoakan agar bisa menyempurnakan tawaf wada. “Saya sudah menabung 10 tahun. Masa iya pulang tanpa salam perpisahan di Ka’bah?” ujarnya dengan suara parau. Bu Halimah pun tersenyum mendengarnya. “Kalau sudah bicara Ka’bah, dia selalu kuat,” bisiknya.
| Indikator | 2025 | 2026 |
|---|---|---|
| Total jemaah yang dirujuk | 1.679 kasus | 1.988 kasus |
| Jemaah masih dirawat (pasca-Armuzna) | 42 orang | 56 orang |
| Persentase jemaah dengan risiko tinggi | 55,2% | 61,3% |
| Kasus kardiovaskular | 401 kasus | 532 kasus |
“Lonjakan kasus kardiovaskular tahun ini sangat mengkhawatirkan. Cuaca ekstrem dan padatnya aktivitas fisik mempercepat komplikasi pada jemaah yang sebelumnya sudah punya hipertensi atau jantung,” ujar dr. Sari Andini, ahli epidemiologi dari Universitas Airlangga yang memantau data kesehatan haji nasional. Ia menekankan pentingnya program pra-manasik yang fokus pada kesiapan fisik, bukan hanya ritual.
Sementara itu, bagi keluarga Pak Hamdani, angka-angka itu tidak banyak berarti. Mereka hanya ingin segera pulang dengan selamat. Di sudut kamar perawatan RS An-Noor yang sederhana, Bu Halimah menyimpan sandal jepit suaminya yang sudah aus. “Ini sandal yang dia pakai saat tawaf qudum. Saya jaga baik-baik. Dia pasti akan pakai lagi,” katanya, menatap sandal itu dengan mata berkaca-kaca.
Cerita ini hanyalah satu dari ribuan helai yang terajut di tanah suci. Setiap rujukan adalah pengingat bahwa di balik ibadah yang sakral, ada kerentanan manusia yang butuh dukungan, kehangatan, dan pelayanan kesehatan yang cepat dan manusiawi.
Comments (0)