Ledakan di Dadaha: Mantan JAD Mengguncang Pagi, Warga Berjuang Bangkit

Asap tipis masih mengepul di antara deretan gerobak pedagang kaki lima yang berderet rapi di kawasan Dadaha, Tasikmalaya. Sebuah pagi yang biasanya disambut dengan tawa renyah penjual bubur dan celote...

Jul 14, 2026 - 21:04
0 0

Asap tipis masih mengepul di antara deretan gerobak pedagang kaki lima yang berderet rapi di kawasan Dadaha, Tasikmalaya. Sebuah pagi yang biasanya disambut dengan tawa renyah penjual bubur dan celoteh anak-anak yang hendak berangkat sekolah, mendadak berubah menjadi ratapan ketakutan. Suara ledakan keras memecah udara sekitar pukul tujuh pagi itu, menyisakan serpihan logam dan kepanikan yang sulit dihapus dari ingatan para saksi.

Di balik peristiwa yang mengguncang itu, terkuak sebuah kisah yang tak kalah memilukan: pelaku berinisial AAS, seorang mantan anggota jaringan teroris Jamaah Ansharut Daulah (JAD), nekat merakit bom dan meledakkannya di tengah keramaian. Penangkapan oleh Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror beberapa jam setelah insiden pun menjadi awal dari pengungkapan panjang tentang perjalanan seorang yang pernah tersesat dalam pusaran ekstremisme.

Detik-Detik yang Mengubah Pagi

Suasana di sentra pedagang kaki lima Dadaha pagi itu sebenarnya biasa saja. Uap panas dari panci bakso menari di udara dingin, para pedagang sibuk menata dagangan, dan beberapa pembeli setia sudah mengantre. Tak ada yang menduga bahwa sebuah benda mencurigakan yang diletakkan di dekat tumpukan kardus akan mengubah segalanya dalam hitungan detik. “Saya kira suara ban meledak, tapi kok ada asap dan benda beterbangan. Langsung saya sembunyi di balik gerobak,” kenang Ibu Sumarni, penjual gorengan yang tangannya masih gemetar saat menceritakan ulang kejadian itu.

Ledakan bom rakitan itu tidak memakan korban jiwa, namun tiga orang mengalami luka ringan akibat serpihan dan satu orang mengalami syok berat. Para pedagang yang menjadi saksi mata berhamburan menyelamatkan diri. Kepanikan kian menjadi saat asap putih mulai menipis dan memperlihatkan lubang kecil di aspal serta potongan-potongan pipa dan paku yang berserakan. “Mimpi buruk itu benar-benar datang tanpa permisi,” imbuh Sumarni lirih, sembari mengusap sudut matanya.

Sosok di Balik Pemicu Ketakutan

AAS, pria paruh baya yang pernah berikrar setia pada jaringan teror, rupanya memilih jalur kelam yang diyakininya sebagai perjuangan suci. Ia adalah mantan anggota JAD, kelompok yang telah dinyatakan terlarang oleh pemerintah atas serangkaian aksi kekerasan di Indonesia. Meski telah lama keluar dari jaringan itu, sisa-sisa doktrin radikal agaknya masih bersarang kuat dalam benaknya. AAS merakit bom dengan bahan sederhana yang didapat dari komponen-komponen yang ia kumpulkan perlahan, lalu memilih kawasan padat pedagang sebagai target. Mengapa ia memilih tempat itu? Pertanyaan itu masih menggantung, menunggu hasil pemeriksaan lebih lanjut dari pihak berwenang.

Penangkapan AAS oleh tim Densus 88 berlangsung tanpa perlawanan berarti di kediamannya, tak jauh dari lokasi ledakan. Tetangga-tetangganya mengaku terkejut, karena selama ini AAS dikenal sebagai pribadi pendiam yang jarang berinteraksi, namun tak pernah menunjukkan gelagat mencurigakan. “Dia orang biasa-biasa saja, suka menyapa. Siapa sangka di balik senyumnya ada niat sekejam itu,” ujar Robi, seorang warga yang rumahnya hanya berselang dua pintu. Kini, rumah sederhana itu menjadi saksi bisu perjalanan gelap seseorang yang memendam amarah dan ideologi yang membelokkan nurani.

Bangkit dari Serpihan Trauma

Meski rasa takut masih menyelimuti, warga Dadaha dan para pedagang memilih untuk tidak berlama-lama terpuruk. Keesokan harinya, lapak-lapak kembali dibuka, gerobak didorong ke posisi semula, dan aroma masakan kembali menguar. Ada pemandangan yang begitu menyentuh: para pedagang saling membantu membersihkan sisa-sisa ledakan, bergotong-royong menyingkirkan puing, dan saling menguatkan dengan pelukan hangat. Sebuah spanduk kecil bertuliskan “Kami Tidak Takut” terpajang di salah satu tiang listrik, seolah menjadi deklarasi kebangkitan kolektif.

Momen mengharukan terjadi saat Rina, seorang penjual cilok yang gerobaknya paling dekat dengan pusat ledakan, kembali berjualan. Dengan mata masih sembab, ia melayani pembeli satu per satu. “Mau bagaimana lagi? Hidup harus terus berjalan. Kami di sini bukan hanya mencari rezeki, tapi juga saling menjaga,” tuturnya, sambil menyodorkan sepiring cilok pada seorang pembeli kecil yang datang bersama ibunya. Senyum getir yang ia ukir mengisahkan perjuangan yang jauh lebih besar: melawan trauma dengan keteguhan hati yang sederhana.

Kejadian ini membuka kembali diskusi tentang pentingnya deradikalisasi dan pengawasan berkelanjutan terhadap mantan pelaku teror. Kisah AAS adalah pengingat pahit bahwa ideologi kekerasan bisa bersembunyi di balik keseharian yang tampak tenang. Namun, di sisi lain, respons warga Dadaha menjadi bukti bahwa kebersamaan dan semangat untuk bangkit jauh lebih kuat daripada ketakutan. Di antara serpihan bom yang telah disapu bersih, tumbuh tunas harapan: bahwa setiap luka, seberapa pun dalamnya, bisa menjadi awal dari cerita yang lebih baik.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
salsa-bintari

Reporter Startup. Meliput ekosistem startup Indonesia, venture capital, dan unicorn.

Comments (0)

User