Menolak Pasrah di Usia Senja: Home Care untuk 55 Lansia Bontang

Di sebuah gang sempit yang hanya bisa dilalui satu motor, tepat saat mentari mulai meninggi, Mbah Sukirah—wanita 78 tahun—asyik menyapu lantai bilik bambu yang sudah reyot. Tangannya gemetar, teta...

Jul 14, 2026 - 17:27
0 0

Di sebuah gang sempit yang hanya bisa dilalui satu motor, tepat saat mentari mulai meninggi, Mbah Sukirah—wanita 78 tahun—asyik menyapu lantai bilik bambu yang sudah reyot. Tangannya gemetar, tetapi senyumnya tetap merekah menyambut dua orang berseragam yang membawa tas besar berisi peralatan kesehatan. Kedatangan mereka bukan sekadar kunjungan rutin; ini adalah tali asa yang selama bertahun-tahun nyaris putus.

Rumah Mungil di Ujung Lorong

Bilik berukuran 3x4 meter itu sudah menjadi rumah bagi Mbah Sukirah sejak suaminya meninggal satu dekade silam. Tak ada anak yang bisa merawat, tak ada sanak yang sudi menampung. Dengan kaki yang mulai bengkak karena asam urat dan pandangan yang melemah oleh katarak, dia hanya bisa pasrah jika suatu saat tertatih sendirian di kegelapan. Namun, sejak enam bulan terakhir, satu-dua wajah baru mulai akrab dengan biliknya. Mereka bukan sekadar tamu; mereka adalah perawat home care yang dihadirkan oleh Yayasan Pandu Qolby bekerja sama dengan Pemerintah Kota Bontang.

Begitu tim masuk, Mbah Sukirah merebut tangan perawat muda itu dan menciumnya berkali-kali. "Kalian seperti anak sendiri yang ndak pernah saya punya," bisiknya lirih, air mata menggenang di pelupuk mata tuanya. Di sudut lain, perawat lain sibuk memeriksa tekanan darah, membersihkan luka kecil di telapak kaki, seraya bercerita ringan agar sang nenek tak merasa sendiri.

Sentuhan Layanan dari Hati ke Hati

Yayasan Pandu Qolby merancang layanan ini bukan sekadar menggugurkan kewajiban. Setiap lansia—total 55 orang di seluruh Bontang—didatangi langsung ke rumah. Layanan meliputi pemeriksaan kesehatan dasar, pendampingan psikososial, pemenuhan gizi, hingga memandikan dan menyisir rambut bagi mereka yang tak lagi sanggup melakukannya sendiri. Petugas tak hanya bekerja dengan keahlian medis, tetapi juga dengan hati, menyelami kesepian yang kerap lebih menyakitkan daripada penyakit fisik.

"Banyak lansia yang ketika pertama kali kami datangi hanya diam, menatap dinding. Kini mereka mulai bercerita, bahkan menanti kedatangan kami tiap pekan," ujar seorang petugas, sembari membetulkan letak kursi roda Mbah Tugimin, kakek 84 tahun yang menderita stroke ringan. "Apa yang kami bawa bukan cuma obat, tapi juga telinga yang mau mendengar."

Skema Bantuan yang Menyapa 55 Lansia

Program ini menyasar para lansia terlantar di tiga kecamatan: Bontang Utara, Bontang Selatan, dan Bontang Barat. Setiap wilayah memiliki koordinator yang memetakan kebutuhan spesifik, mulai dari lansia yang hanya butuh pemantauan rutin hingga mereka yang memerlukan perawatan luka berat. Pemkot Bontang mendanai sebagian besar operasional melalui anggaran perlindungan sosial, sementara yayasan menggerakkan relawan dan tenaga kesehatan profesional.

Skema bantuan berlangsung selama sepuluh bulan, dengan frekuensi kunjungan dua hingga tiga kali sepekan, bergantung tingkat ketergantungan. Ada pula sesi "Kamis Ceria", di mana para lansia dalam satu rukun tetangga dikumpulkan—bagi yang masih sanggup berjalan—untuk senam bersama dan bermain permainan ingatan. Tujuannya jelas: menjaga mereka tetap merasa menjadi bagian dari masyarakat, bukan beban yang disingkirkan.

Harapan yang Kembali Bersemi

Di ujung hari, ketika tim home care berpamitan, Mbah Sukirah menatap jalanan dari ambang pintu. "Saya sudah tidak takut lagi," katanya pelan. Dulu ketakutan terbesarnya adalah mati dalam sunyi tanpa seorang pun tahu. Sekarang, dia tahu bahwa setiap Selasa dan Jumat akan ada yang mengetuk pintunya, membawa makanan tambahan, mengukur tensi, dan yang terpenting, memanggilnya dengan lembut: "Mbah, kula rawat panjenengan."

Kisah Mbah Sukirah hanyalah satu dari 55 lembar cerita yang ditulis ulang oleh kepedulian. Di setiap sudut Kota Bontang, para sepuh ini tak lagi harus meratapi senja dengan air mata. Mereka menolak pasrah, dan dunia—lewat tangan-tangan hangat itu—akhirnya berpihak pada mereka.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
eko-saputra

Reporter Gadget. Review smartphone, laptop, dan consumer tech.

Comments (0)

User