Debut Ubaidillah, Satu-satunya Ganda Campuran Indonesia di Japan Terbuka
Di sudut sunyi Tokyo Metropolitan Gymnasium, sebelum riuh penonton membanjiri tribun pada 14 Juli nanti, sebuah episode tenang tengah dimulai. Angin dari pendingin ruangan menyapu lantai parkit yang d...
Di sudut sunyi Tokyo Metropolitan Gymnasium, sebelum riuh penonton membanjiri tribun pada 14 Juli nanti, sebuah episode tenang tengah dimulai. Angin dari pendingin ruangan menyapu lantai parkit yang dibentangkan, dan satu per satu atlet dari berbagai negara mulai keluar dari sesi latihan. Di antara mereka, seorang pemuda asal Indonesia tampak duduk di bangku pinggir lapangan, memeluk raket yang masih di dalam sarungnya. Ia adalah Moh Zaki Ubaidillah, dan bagi dirinya, hari itu bukan sekadar rutinitas pemanasan—melainkan jejak pertama ke panggung yang selama ini ia lihat hanya dari layar televisi.
Ubaidillah, wajah baru di nomor ganda campuran, datang ke Negeri Sakura dengan bekal yang jauh dari gemerlap. Lahir dari keluarga sederhana di kota kecil di Jawa Tengah, ia mengayun raket pertamanya di lapangan terbuka yang lantainya penuh retakan. Namun tekad itu tumbuh seperti akar tunas di tanah gersang. Kini, di usianya yang baru menginjak 22 tahun, ia akan mencatatkan debut di salah satu turnamen paling bersejarah di kalender bulu tangkis dunia: Japan Terbuka. Bukan rahasia lagi bahwa panggung ini terkenal menyajikan level kompetisi yang brutal, namun justru di situlah Ubaidillah ingin mengukur dirinya.
"Saya masih ingat, waktu kecil, saya menonton final Japan Terbuka sambil duduk di warung kopi milik paman. Sekarang, saya di sini," tuturnya pelan, lebih seperti berbisik pada diri sendiri. Kalimat itu bukan tanpa alasan. Perjalanan menembus tim nasional penuh liku, termasuk hampir terdepak karena cedera lutut yang sempat membuatnya absen selama enam bulan. Namun kini, ia siap membawa tiga hal yang selalu menjadi pegangan: kerja keras, doa ibu, dan keberanian untuk tidak takut kalah.
Dari Lapangan Retak ke Panggung Tokyo
Kisah Ubaidillah adalah cerita tentang ketulusan yang jarang terdengar di tengah industri olahraga profesional yang gemerlap. Ia berlatih di klub kecil di Purwokerto, di bawah asuhan seorang pelatih yang dulunya hanya pemain daerah. Lapangan tempat ia merintis karier bukanlah gedung megah ber-AC, melainkan arena terbuka dengan tiang bambu dan jaring yang sesekali sobek. Namun, justru di situlah fondasi mentalnya dibangun: ia belajar menerima angin yang tiba-tiba mengubah arah kok, hujan yang membatalkan sesi sore, dan lawan tanding yang lebih tua namun lebih miskin pengalaman.
"Kalau kau bisa mengendalikan emosi di lapangan yang tidak sempurna, maka di arena sesungguhnya kau akan lebih tenang," begitu pesan Warso, pelatih pertamanya, yang hingga kini masih ia ingat. Warso tidak mengajarkan teknik tingkat tinggi; ia mengajarkan ketabahan. Di Japan Terbuka nanti, nilai itulah yang akan menjadi perisai Ubaidillah. Bersama pasangan putri yang juga sedang naik daun, mereka akan turun sebagai satu-satunya wakil Indonesia di ganda campuran—sebuah tanggung jawab yang tak ringan, tetapi dipanggul dengan rasa syukur.
Satu-satunya Harapan di Ganda Campuran
Dalam daftar pemain yang dirilis panitia, Indonesia hanya menempatkan sepasang ganda campuran. Keputusan ini mungkin mengejutkan banyak pihak, mengingat sebelumnya Indonesia kerap mengirimkan lebih dari satu wakil di nomor tersebut. Namun kondisi peringkat dan strategi regenerasi menjadi pertimbangan utama tim pelatih. Celah ini sekaligus menjadi panggung pembuktian bagi Ubaidillah dan rekan barunya. Mereka bukan sekadar penggembira; di mata pelatih kepala, pasangan muda ini adalah investasi jangka panjang.
"Kami ingin melihat sejauh mana mental mereka berkembang. Japan Terbuka adalah ujian sesungguhnya, karena di sini tidak ada lawan yang mudah ," ungkap salah satu asisten pelatih yang enggan disebut namanya. Ubaidillah sendiri tidak gentar. Di matanya, setiap lawan adalah cermin yang akan memantulkan seberapa besar ia telah bertumbuh. Ia tahu benar, ganda campuran papan atas seperti Yuta Watanabe/Arisa Higashino atau Zheng Siwei/Huang Yaqiong akan menanti di fase-fase awal. Namun justru di situlah letak magisnya: bagi seorang debutan, tidak ada yang lebih berharga daripada menantang yang terbaik.
Sesi Latihan yang Menenangkan
Latihan di Tokyo Metropolitan Gymnasium berjalan tenang. Aroma khas lantai karet bercampur dengan wewangian kayu dari tribune yang baru selesai direnovasi. Ubaidillah melepaskan pemanasan dengan lompat tali dan lari kecil di tepi lapangan. Pelatih fisiknya tampak mengawasi dari sudut, sesekali memberikan isyarat tangan. Tidak ada tawa berlebihan, hanya fokus dan kesadaran bahwa setiap detik di sini adalah kemewahan yang harus dimanfaatkan penuh. Satu jam sesi latihan mereka tutup dengan simulasi poin-poin kritis.
Di sisi lain, rekan-rekan setimnya dari nomor lain—seperti tunggal putra dan ganda putra—berbagi lapangan dengan jadwal bergantian. Mereka bertukar sapa dengan atlet tuan rumah yang juga berlatih di tempat yang sama. Atmosfer itu memperjelas satu hal: persaingan akan sangat ketat, tetapi solidaritas antar atlet tetap hangat. Ubaidillah mengaku, melihat langsung bagaimana para pemain Jepang menjaga disiplin dan etos kerja membuatnya semakin menghormati lawan.
Sebuah Debut yang Mengisahkan
Menjelang 14 Juli, kegelisahan pasti menyelinap. Namun Ubaidillah tidak membiarkannya berubah menjadi ketakutan. Ia lebih memilih menyebutnya sebagai getaran—getaran seorang pemain yang peduli, yang memahami bahwa mimpi tidak pernah gratis. Di Tokyo, ia akan menulis baris pertama dari babak baru kariernya. Tidak ada yang bisa menjamin hasil akhir, tetapi satu hal sudah pasti: setiap lompatan smash, setiap tusukan net, dan setiap teriakan penyemangat akan menjadi bagian dari kisah yang kelak ia ceritakan kepada anak-anaknya.
Indonesia hanya mengirim satu wakil di sektor campuran. Angka itu mungkin kecil, tetapi semangat yang dibawa melampaui hitungan kuantitatif. Di balik setiap langkah Ubaidillah, ada ribuan pemimpi lain dari klub-klub kecil yang berharap jalan mereka pun terbuka. Ia tidak hanya bertanding untuk dirinya sendiri; ia berlari untuk mereka yang masih berjuang di lapangan-lapangan tanah.
"Kalau bisa sampai sini, kenapa mereka tidak?" katanya, sembari menatap langit-langit gedung yang menjulang. Sebuah pertanyaan retoris yang penuh keyakinan. Japan Terbuka 2026 bukan hanya soal gelar atau hadiah uang; bagi Ubaidillah, ini adalah pameran dari kesetiaan terhadap impian. Dan pada saat shuttlecock pertama melambung di Tokyo akhir pekan nanti, Indonesia akan menyaksikan salah satu putra bungsunya menari di atas garis—mengenakan seragam kebanggaan, membawa cerita sederhana yang menghangatkan hati.
Baca juga:
Comments (0)