Kombes Budi Hermanto Ubah Wajah Humas Polisi dengan Pendekatan Hati
Pagi itu, selasar Gedung Promoter Polda Metro Jaya masih sepi. Tapi di salah satu ruang kerja yang tak pernah benar-benar sunyi, seorang lelaki berseragam
Pagi itu, selasar Gedung Promoter Polda Metro Jaya masih sepi. Tapi di salah satu ruang kerja yang tak pernah benar-benar sunyi, seorang lelaki berseragam cokelat dengan senyum khasnya sudah lebih dulu sibuk. Ia bukan sedang membaca tumpukan berkas kriminal, melainkan memilah satu per satu pemberitaan di ponselnya, mencermati komentar netizen, dan menyesap kopi hitam yang mulai mendingin. Dialah Kombes Pol Budi Hermanto, Kabid Humas Polda Metro Jaya. Bagi awak media, ia lebih dari sekadar corong polisi; ia adalah wajah teduh di tengah riuhnya informasi.
Lebih dari Sekadar Jubir Berseragam
Jabatan Kabid Humas di kepolisian sering kali identik dengan penyampaian siaran pers yang kaku, penuh istilah hukum dan minim rasa. Namun, Budi Hermanto membawa warna berbeda. Sejak dipercaya memegang kendali komunikasi publik di salah satu polda tersibuk se-Indonesia itu, ia justru sering bertanya kepada dirinya sendiri: “Apa yang perlu masyarakat rasakan, bukan sekadar dengar?”
Lulusan Akpol 1999 ini meniti karier dari bawah. Ia pernah bertugas di lapangan sebagai Kanit Reskrim, Kapolsek, hingga bertahun-tahun berkecimpung di dunia reserse yang keras. Barangkali, pengalaman panjang menyelami beragam masalah manusia itulah yang kini membentuk gayanya berkomunikasi: lugas, sabar, dan selalu menyisipkan empati. Rekan-rekan wartawannya kerap bercerita, tak peduli seberapa sibuknya ia, Budi selalu menyempatkan diri untuk menjawab pertanyaan, bahkan sekadar berdiskusi ringan tentang dinamika sosial terkini.
“Humas bukan hanya tentang menyampaikan informasi, tetapi juga tentang bagaimana kita menyentuh hati masyarakat. Di balik setiap berita, ada perasaan orang yang membaca,” ujarnya suatu ketika saat ditemui di sela-sela jeda konferensi pers.
Sentuhan Manusia di Balik Seragam
Budi paham betul, era digital telah mengubah lanskap komunikasi. Bukan lagi zamannya humas polisi hanya bermonolog. Ia mendorong timnya untuk aktif berinteraksi di media sosial, merespons keluhan warga dengan cepat, dan—yang paling penting—mengakui ketika ada kekeliruan. Dalam salah satu kasus viral yang melibatkan anggota kepolisian, Budi tidak menunggu berhari-hari. Ia segera menggelar konferensi pers, menyampaikan permintaan maaf terbuka, sekaligus memaparkan langkah perbaikan secara transparan.
“Masyarakat itu sebenarnya mudah memaafkan, asalkan mereka merasa didengarkan. Humas harus menjadi telinga institusi, bukan sekadar mulut,” katanya.
Kata didengarkan itulah yang menjadi fondasi pendekatannya. Bukan sekadar mendengar dengan telinga, melainkan mendengar dengan hati. Di mata rekan-rekannya, Budi adalah sosok yang jarang terlihat menggelegar. Ia lebih memilih intonasi rendah yang menyejukkan, meski sedang membahas isu paling kontroversial. Sebuah kekuatan yang justru lahir dari ketenangan.
Menjawab Krisis dengan Empati
Tak dapat dimungkiri, Jakarta adalah panggung krisis komunikasi yang setiap hari mengintai. Demonstrasi besar, kecelakaan beruntun, atau kejahatan viral bisa mengubah mood publik dalam hitungan jam. Dalam kondisi seperti inilah peran Budi Hermanto sebagai penjernih informasi sangat dirasakan. Salah satu stafnya bercerita, dalam momen-momen genting, Budi sering mengingatkan: “Sampaikan dengan jujur, jangan ada yang ditutupi. Publik akan lebih respek pada keterbukaan.”
Prinsip itulah yang membuat banyak kalangan menilai pendekatan komunikasi Polda Metro Jaya semakin manusiawi dalam beberapa tahun terakhir. Angka kepercayaan publik terhadap institusi memang bukan sesuatu yang naik dalam semalam. Tapi, lewat keteladanan kecil—seperti membalas komentar netizen dengan sopan atau menyempatkan hadir di acara-acara warga—Budi perlahan membangun jembatan. Jembatan antara gedung megah kepolisian dan gang-gang kecil di seluruh Jakarta. Jembatan antara seragam dan rasa.
Di balik semua tugasnya, ia tetaplah seorang suami dan ayah. Momen yang jarang terekspos kamera adalah saat ia menyempatkan video call dengan anaknya di antara jadwal yang padat. Human touch yang sejati, lahir bukan hanya di atas podium, melainkan juga dari kepingan-kepingan kecil kehidupan yang ia jalani dengan penuh kesadaran: bahwa di ujung hari, semua peran besar akan lebih bermakna jika tetap membumi.
Comments (0)