Welcome!

Unlock your personalized experience.
Sign Up

Tri Tito Karnavian Dorong Kerajinan Berbasis Pewarna Alami di Toraja

Pasar Seni Makale di Tana Toraja biasanya hanya ramai oleh tawar-menawar cendera mata. Namun Senin (6/7/2026) pagi, sudut pasar itu berubah menjadi ruang b

Jul 08, 2026 - 20:40
0 2
Tri Tito Karnavian Dorong Kerajinan Berbasis Pewarna Alami di Toraja

Pasar Seni Makale di Tana Toraja biasanya hanya ramai oleh tawar-menawar cendera mata. Namun Senin (6/7/2026) pagi, sudut pasar itu berubah menjadi ruang belajar yang hangat. Puluhan pengrajin—mayoritas perempuan paruh baya dengan tangan yang sudah puluhan tahun menenun—duduk melingkar di bawah tenda darurat. Mereka menyimak dengan saksama saat Ketua Harian Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) Tri Tito Karnavian meresmikan “Pelatihan Pembuatan dan Pemanfaatan Pewarna Alami” yang digagas Dekranasda Tana Toraja.

Di antara peserta, mata Marta Rante (52) berkaca-kaca. Perempuan yang sudah 30 tahun menenun kain Toraja itu mengaku hampir menyerah. “Harga pewarna kimia makin mahal, sementara pembeli dari luar negeri sekarang banyak tanya soal bahan alami. Saya bingung,” ujarnya lirih, menatap selembar kain tenun yang masih setengah jadi. Bagi Marta, kehadiran pelatihan ini seperti jawaban atas kegelisahan yang ia pendam bertahun-tahun: bagaimana caranya tetap bertahan tanpa kehilangan ciri khas tenun Toraja yang sarat makna.

Tri Tito Karnavian dalam sambutannya menekankan bahwa pewarna alami bukan sekadar tren, melainkan jalan pulang menuju akar budaya. “Pewarna alami adalah warisan pengetahuan leluhur. Ketika kita kembali ke sana, kita tidak hanya menyelamatkan lingkungan, tetapi juga menghidupkan cerita di balik setiap helai benang,” katanya. Pelatihan yang berlangsung tiga hari ini melibatkan 23 instruktur lokal dan menargetkan 150 pengrajin dari lima kecamatan di Tana Toraja.

Dari Dapur ke Pasar Global: Kekuatan Ekonomi Pewarna Alami

Di balik kehangatan pelatihan itu, tersimpan agenda ekonomi yang sunyi namun masif. Selama ini, pengrajin di Toraja sangat bergantung pada pewarna sintetis impor yang harganya bisa mencapai Rp 85.000 per botol kecil. Sementara itu, bahan baku pewarna alami—seperti akar mengkudu, daun tarum, kulit kayu jambal, dan lumpur sawah—berlimpah di pekarangan rumah mereka, hampir tanpa biaya. Simon Lembang, salah satu instruktur pelatihan yang juga mantan penyuluh pertanian, menjelaskan bahwa dari 1 kg daun tarum segar, pengrajin bisa menghasilkan pasta pewarna biru alami untuk 3–4 helai kain sepanjang dua meter.

“Petani di sini biasanya membuang daun tarum karena dianggap gulma. Sekarang kami tunjukkan bahwa ‘gulma’ itu bisa jadi emas biru,” kata Simon, disambut anggukan antusias para peserta.

Perbandingan sederhana antara penggunaan pewarna kimia dan alami menunjukkan pergeseran yang dramatis dalam struktur biaya dan dampak lingkungan.

Komponen Pewarna Kimia Sintetis Pewarna Alami
Biaya per kain (2 meter) ± Rp 95.000 ± Rp 12.000 (bahan lokal)
Limbah cair Tinggi, mengandung logam berat Ramah lingkungan, dapat diurai
Ketersediaan bahan Impor, rentan kelangkaan Lokal, melimpah
Harga jual produk Standar lokal Premium (naik 30–50% di pasar ekspor)

Data awal dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan setempat menunjukkan bahwa kerajinan berbasis pewarna alami di Sulawesi Selatan telah mencatat kenaikan permintaan ekspor sebesar 18% pada kuartal pertama 2026 dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Eropa dan Jepang menjadi pasar yang paling agresif mencari produk “botanical-dyed” dari Indonesia.

Kembali ke Pasar Seni Makale, sore mulai turun ketika para peserta dengan hati-hati membuka kain hasil celupan pertama mereka. Warna-warna tanah—cokelat tua dari kulit mahoni, kuning lembut dari kunyit, biru kelam dari daun tarum—terhampar di atas meja. Marta menyentuh kainnya sendiri, tersenyum tipis. “Ini warna yang dulu dipakai nenek saya. Sekarang saya mengerti kenapa kainnya bisa bertahan 50 tahun tanpa luntur,” bisiknya. Pelatihan ini mungkin hanya berlangsung tiga hari, tetapi bagi pengrajin seperti Marta, ia baru saja menemukan kembali benang yang menghubungkan masa lalu dan masa depan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User