Kisah Adik Dokter Icha Diperiksa Polda NTT: Perjuangan dan Doa
Di sudut ruang tamu sederhana bercat putih, dua perempuan muda duduk berdampingan. Tangan yang satu menggenggam erat tangan lainnya, seolah saling menyalurkan kekuatan yang kian menipis. Mata mereka s...
Di sudut ruang tamu sederhana bercat putih, dua perempuan muda duduk berdampingan. Tangan yang satu menggenggam erat tangan lainnya, seolah saling menyalurkan kekuatan yang kian menipis. Mata mereka sembab, namun sorotnya menyimpan tekad yang tak mudah padam. Hari itu, mereka melangkahkan kaki ke gedung Polda Nusa Tenggara Timur bukan sebagai tamu, melainkan sebagai dua bersaudara yang sedang mengais secercah kejelasan tentang kematian kakak tercinta.
Keduanya adalah adik dari almarhumah dokter Eliza Princila Utami Pakaenoni—yang lebih akrab disapa dokter Icha. Nama itu kini tinggal kenangan: seorang dokter muda yang dikenal penuh dedikasi, yang rela menempuh perjalanan panjang ke pelosok demi memeriksa pasien yang tak mampu datang ke puskesmas. Kepergiannya yang mendadak meninggalkan duka sekaligus tanda tanya besar yang tak kunjung usai, bahkan setelah berminggu-minggu berlalu.
Jejak yang Tak Boleh Hilang
Masyarakat setempat masih menyimpan cerita tentang dokter Icha. Ia bukan sekadar tenaga medis, melainkan sahabat bagi warga yang kerap terabaikan akses kesehatannya. Setiap pagi, ia akan menyusuri jalanan berbatu dengan tas ransel berisi obat dan alat kesehatan sederhana. Anak-anak mengenalnya sebagai "Dokter Senyum" karena setiap pemeriksaan selalu diakhiri dengan permen dan kalimat penyemangat. Semua kenangan itu kini menjelma menjadi luka yang perih: mengapa seseorang yang begitu tulus merawat kehidupan justru harus pergi dengan cara yang menyisakan misteri?
Keluarga dokter Icha, khususnya kedua adiknya, tidak pernah menduga bahwa mereka akan berada di posisi ini. Duduk di hadapan penyidik, menjawab puluhan pertanyaan yang mengulik setiap detail hari-hari terakhir sang kakak. Ini bukan tentang mencari siapa yang salah, melainkan tentang meluruskan cerita yang berserakan. "Kami hanya ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada kakak kami," ujar salah satu adik dengan suara bergetar, tatkala jeda pemeriksaan memberi ruang untuk menghela napas.
Di Balik Pemeriksaan, Doa dan Air Mata
Proses pemeriksaan yang berlangsung berjam-jam itu bukan sekadar prosedur hukum. Bagi keluarga, setiap detik di ruangan itu adalah perpanjangan dari malam-malam panjang yang dihabiskan dengan doa dan air mata. Polda NTT memanggil keduanya untuk dimintai keterangan sebagai bagian dari upaya mengurai tabir peristiwa yang menimpa dokter Icha. Panggilan itu datang di saat keluarga masih bergelut dengan kehilangan yang belum sepenuhnya bisa diterima.
"Rasanya seperti luka lama yang disobek lagi," bisik salah satu adik, menggambarkan betapa beratnya mengingat kembali momen-momen yang ingin mereka lupakan. Namun, ada kekuatan yang lahir dari kegetiran: keyakinan bahwa keadilan adalah hak setiap jiwa yang telah tiada. Mereka datang dengan membawa bundel foto, beberapa pesan singkat terakhir dari dokter Icha, dan kepingan kenangan yang barangkali bisa menjadi petunjuk bagi penyidik.
Perjuangan yang Belum Selesai
Kasus yang menimpa dokter Icha bukan sekadar berita kriminal di halaman surat kabar. Ini adalah kisah tentang keluarga sederhana yang mendadak harus berhadapan dengan sistem, tentang dua adik yang berubah menjadi pejuang bagi kakaknya. Di tengah keterbatasan, mereka belajar memahami bahasa hukum, mengatur emosi, dan tetap berdiri meski badan terasa remuk.
Dukungan mengalir dari berbagai pihak. Rekan sejawat dokter Icha, pasien yang pernah ia rawat, hingga masyarakat umum turut menyuarakan harapan agar kasus ini menemui titik terang. Di media sosial, tagar #KeadilanUntukDokterIcha sesekali muncul, menjadi pengingat bahwa di balik setiap profesi, ada manusia dengan keluarga yang mencintainya. Kedua adik itu tahu, perjalanan mereka masih panjang. Pemeriksaan ini mungkin hanya satu dari sekian langkah, tapi mereka memaknainya sebagai jalan untuk menuntaskan ikhtiar.
Sambil menatap langit Kupang yang kemerahan di senja hari, salah satu adik berujar lirih, "Kakak selalu bilang, jangan pernah berhenti berbuat baik, sekecil apa pun. Mungkin ini cara kami meneruskan kebaikannya: memastikan bahwa kebenaran tidak ikut terkubur." Kalimat itu menggantung di udara, mengisahkan betapa cinta dan kehilangan bisa menjelma menjadi kekuatan yang tak terduga. Pemeriksaan telah usai untuk hari itu, tapi perjuangan mereka belum berhenti.
Baca juga:
Comments (0)