Ketika The Ting Tings Menghipnotis Jakarta

Gemericik hujan di luar gedung tak menyurutkan langkah Sinta. Dengan hoodie merah menyala dan sepatu kets lusuh, ia setengah berlari menuju pintu masuk, tangan kanan menggenggam erat tiket yang sudah ...

Jul 13, 2026 - 06:12
0 0

Gemericik hujan di luar gedung tak menyurutkan langkah Sinta. Dengan hoodie merah menyala dan sepatu kets lusuh, ia setengah berlari menuju pintu masuk, tangan kanan menggenggam erat tiket yang sudah ia beli sejak tiga bulan lalu. Napasnya memburu, tapi matanya berbinar. Malam ini, ia akan melihat langsung duo asal Manchester yang lagu-lagunya menemani masa remajanya. Malam ini, The Ting Tings akan bermain di Jakarta.

Detak Jantung yang Kembali Bergemuruh

Sinta bukan satu-satunya. Ribuan pasang mata lain sudah memadati area depan panggung. Ada yang datang sendiri seperti dirinya, ada yang berombongan, ada pula pasangan yang saling menggandeng tangan. Semuanya menunggu satu momen: dentuman drum pembuka dari Jules De Martino yang selalu menjadi penanda dimulainya perjalanan liar The Ting Tings di atas panggung.

Begitu lampu meredup, suara teriakan penonton langsung memecah keheningan. Dan benar saja, pukulan drum yang khas itu datang bertubi-tubi. Disusul suara gitar yang renyah. Lalu, Katie White melenggang ringan, menyapa penonton dengan senyum lebar. "Jakarta, apa kabar?" pekiknya dalam bahasa Inggris yang disambut gemuruh. Malam itu, dinginnya Jakarta serasa menguap digantikan energi yang membara.

Di sudut panggung, Sinta yang tadi hanya berdiam diri kini melompat-lompat tanpa beban. Tangannya mengepal di udara, mulutnya komat-kamit menyanyikan lirik "That's Not My Name". Lagu yang dulu ia putar berulang-ulang di kamar kosnya, kini meledak nyata di depan mata. Ada air mata yang diam-diam menggenang di pelupuk matanya—bukan tangis sedih, melainkan ledakan emosi yang sulit dijelaskan.

Di Balik Panggung: Momen yang Tak Terlupakan

Seusai memainkan lagu demi lagu, Katie sempat berhenti sejenak. Ia menempelkan tangan di dada, lalu berkata lirih, "Kalian luar biasa. Aku tidak percaya energi malam ini." Jules menimpali dengan sentuhan bas yang membuat dada bergetar. Duo itu kemudian meminta penonton menyalakan lampu ponsel, menciptakan lautan bintang buatan yang bergoyang mengikuti irama "We Walk". Pemandangan yang sederhana, namun menyentuh hati.

Di saat itulah Sinta merasakan koneksi yang jarang ia dapatkan. Ia melirik ke sekeliling: ada seorang pria berambut gondrong yang menunduk khidmat, sepasang remaja yang saling berpelukan, dan seorang ibu muda yang menggendong anaknya sambil ikut bersenandung. Musik The Ting Tings seolah meruntuhkan batasan usia dan status, menyatukan semua orang dalam satu ingatan kolektif yang hangat.

Sinta teringat kembali masa-masa sulitnya dua tahun lalu. Ia kehilangan pekerjaan, kehilangan arah. Namun lagu-lagu dari album "We Started Nothing" selalu menjadi penyemangat di pagi hari. Kini, melihat Katie dan Jules tampil penuh semangat di atas panggung, ia merasa diingatkan bahwa ia juga bisa bangkit. "Ini lebih dari sekadar konser," bisiknya pelan. "Ini sebuah perayaan bahwa aku masih bisa berjuang."

Harapan yang Tak Pernah Padam

Ketika intro "Shut Up and Let Me Go" dimainkan, seluruh area berguncang. Setiap hentakan dentuman drum seakan menjadi katarsis bagi penonton yang telah lama terkurung rutinitas. Katie melompat-lompat dengan mikrofon di tangan, mengajak semua orang melepaskan beban. Jules, di belakang drum, sesekali tersenyum penuh arti, seperti memahami bahwa Jakarta memberinya lebih dari sekadar tepuk tangan.

Di bagian belakang kerumunan, seorang relawan acara menceritakan bagaimana malam itu ia melihat banyak wajah pulang dengan senyum yang tulus. "Biasanya konser habis penonton langsung bubar. Tapi tadi banyak yang berdiri dulu, kayak enggak rela pergi," katanya sambil membereskan pagar pembatas. Ada sesuatu yang berbeda malam itu. Sesuatu yang sulit diartikulasikan, namun terasa nyata.

Sinta sendiri baru benar-benar meninggalkan lokasi ketika petugas mulai membongkar panggung. Ia berjalan pelan menuju halte, telinganya masih berdenging, tapi hatinya penuh. Inilah keajaiban musik: ia bisa mengubah ruang konser menjadi tempat pelarian, menyulut kembali mimpi yang sempat redup, dan yang terpenting, membuat seseorang merasa tidak sendirian.

Malam itu, The Ting Tings tidak hanya memukau Jakarta. Mereka menghidupkan kembali nyala kecil di dalam diri ribuan orang yang datang. Dan seperti Sinta, banyak yang akan pulang membawa lebih dari sekadar memorabilia—mereka membawa pulang keyakinan bahwa hidup, seperti lagu-lagu itu, akan terus berdetak dan memberi alasan untuk menari.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
galih-pratama

Editor Teknologi. Mantan software engineer. Meliput AI, cloud, dan transformasi digital.

Comments (0)

User