Kisah di Balik Album Kedua White Shoes & The Couples Company

Di sudut ruang latihan berukuran 4x5 meter di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Aprilia Apsari duduk bersila di atas karpet bermotif batik yang sudah mulai lusuh. Tangannya sesekali mengetuk-ngetuk lanta...

Jul 13, 2026 - 06:10
0 0

Di sudut ruang latihan berukuran 4x5 meter di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Aprilia Apsari duduk bersila di atas karpet bermotif batik yang sudah mulai lusuh. Tangannya sesekali mengetuk-ngetuk lantai kayu, mengikuti irama yang baru saja dimainkan oleh rekan-rekannya. Malam itu, Maret terasa lebih hangat dari biasanya. Bukan karena suhu udara, melainkan karena sesuatu yang telah lama dinanti akhirnya tiba: album kedua mereka siap diperdengarkan kepada dunia.

White Shoes & The Couples Company, band yang dulu hanyalah kumpulan mahasiswa seni dengan mimpi besar, kini berdiri di ambang babak baru perjalanan musik mereka. Setelah album pertama yang dirilis pada 2005 melambungkan nama mereka hingga ke panggung internasional, ekspektasi tentu saja membumbung tinggi. Namun di ruang latihan sederhana itu, tak ada aroma tekanan. Yang ada hanyalah tawa renyah dan denting gelas kopi yang menemani sesi latihan hingga larut.

Dari Panggung Kampus ke Mata Dunia

Perjalanan White Shoes & The Couples Company adalah kisah tentang bagaimana mimpi yang dirawat dengan ketulusan bisa menembus batas-batas yang semula terasa mustahil. Dibentuk pada awal 2000-an, band ini lahir dari pertemuan ide-ide segar di koridor kampus. Aprilia Apsari, dengan suara khasnya yang kadang lembut seperti bisikan dan kadang meledak penuh energi, menjadi pusat dari orkestrasi retro yang mereka usung.

Album pertama mereka bukan sekadar debut biasa. Ketika sebagian besar band indie saat itu masih berjuang mendapatkan tempat di panggung-panggung kecil Jakarta, White Shoes justru sudah menarik perhatian label internasional. Musik mereka yang memadukan jazz, pop klasik Indonesia, dan sentuhan sinematik tahun 1970-an berbicara dalam bahasa universal yang melampaui sekat-sekat geografis.

"Kami tidak pernah menyangka akan sampai sejauh ini," kenang Apri, sapaan akrab Aprilia Apsari, dalam suatu kesempatan berbincang santai. Matanya menerawang sejenak, seolah ada ratusan memori yang berputar di kepalanya. "Saat pertama kali manggung, penonton kami cuma belasan orang. Teman-teman kampus yang datang karena diajak."

Maret yang Mendebarkan: Album Kedua Lahir

Maret mendatang menjadi penanda penting dalam lini masa White Shoes & The Couples Company. Album kedua mereka, yang digarap dengan penuh perhitungan sekaligus kebebasan artistik, akan segera diperkenalkan kepada publik. Proses kreatifnya memakan waktu lebih lama dari yang diperkirakan. Bukan karena mereka kehilangan arah, melainkan karena setiap nada dan setiap lirik ingin dipastikan punya nyawa.

Ricky Virgana, salah satu personel band, seringkali menjadi orang terakhir yang meninggalkan studio. Di tangannya, gitar bukan sekadar alat musik, melainkan jembatan untuk menerjemahkan perasaan-perasaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Begitu pula dengan Saleh Husein dan John Navid, yang masing-masing membawa warna unik ke dalam komposisi-komposisi baru mereka.

"Ada satu lagu di album ini yang membuat saya menangis saat pertama kali mendengarnya secara utuh," bisik Apri, setengah enggan mengakui kerentanannya. "Bukan karena sedih. Tapi karena saya merasa lagu itu benar-benar merekam momen paling jujur dalam hidup saya."

Menemukan Keseimbangan dalam Ketidakpastian

Industri musik telah berubah drastis sejak album pertama mereka dirilis. Platform streaming, media sosial, dan algoritma kini menjadi penentu seberapa jauh sebuah karya bisa menjangkau pendengarnya. Namun White Shoes memilih untuk tidak terjebak dalam perlombaan itu. Bagi mereka, autentisitas adalah kompas yang tidak bisa dinegosiasikan.

Dalam sesi rekaman yang berlangsung selama berbulan-bulan, mereka bereksperimen dengan aransemen yang lebih matang. Jika album pertama adalah potret semangat muda yang meledak-ledak, album kedua ini adalah cermin dari proses pendewasaan. Setiap personel membawa pengalaman hidup yang berbeda—kehilangan, cinta, pertemanan yang diuji waktu, hingga pencarian makna di tengah rutinitas.

"Kami bukan lagi anak-anak kuliahan yang baru belajar bikin lagu," ujar salah satu personel sambil tersenyum. "Sekarang kami tahu apa yang ingin kami katakan, dan kami tahu bagaimana mengatakannya dengan cara yang paling tepat."

Di balik layar, keluarga dan sahabat menjadi saksi perjalanan yang penuh liku ini. Ada malam-malam ketika keraguan menyelinap masuk, bertanya-tanya apakah pilihan untuk terus bermusik adalah keputusan yang tepat. Namun setiap kali mereka naik panggung, setiap kali melihat mata penonton yang berbinar, jawaban itu selalu sama: ini adalah jalan yang harus ditempuh.

Maret nanti, ketika album kedua itu akhirnya menyapa dunia, White Shoes & The Couples Company tidak hanya menawarkan kumpulan lagu baru. Mereka menawarkan sebuah perjalanan emosional yang dirajut dari benang-benang kenangan, perjuangan, dan harapan. Dari ruang latihan kecil di Cikini hingga panggung-panggung internasional, kisah mereka adalah bukti bahwa musik yang lahir dari hati akan selalu menemukan jalannya pulang ke telinga yang tepat.

Dan bagi Apri serta kawan-kawannya, Maret itu bukan sekadar bulan. Ia adalah perayaan dari keberanian untuk terus bermimpi, meski waktu terus berlari dan dunia tak henti berubah.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
rina-wulandari

Product Reviewer. Mengulas software, aplikasi, dan tools produktivitas.

Comments (0)

User