Mimpi Para Katalisator Indonesia Akhirnya Terwujud di Solo
Di sudut ruang kerja sederhana berukuran 3x4 meter di kompleks kampus Universitas Sebelas Maret, seorang pria berambut memutih membuka lemari arsip tua. Tangannya yang mulai dipenuhi bintik usia merai...
Di sudut ruang kerja sederhana berukuran 3x4 meter di kompleks kampus Universitas Sebelas Maret, seorang pria berambut memutih membuka lemari arsip tua. Tangannya yang mulai dipenuhi bintik usia meraih setumpuk proposal yang sudah menguning. Seulas senyum tipis merekah di bibirnya, sementara matanya menerawang jauh ke masa lalu. Proposal-proposal itu adalah jejak perjuangan panjangnya—ajuan demi ajuan untuk menghadirkan konferensi katalisis kelas dunia di Indonesia yang selalu kandas oleh keterbatasan dana dan infrastruktur. Tapi hari itu, di awal tahun 2026, tatapan matanya berubah: ada kilau baru, kilau kemenangan. IndoCat 2026, Konferensi Katalisis Indonesia pertama yang dihadiri pakar dari sepuluh negara, telah resmi membuka tirai. Dan kota yang ia cintai, Solo, menjadi saksi bisu terwujudnya mimpi yang hampir ia kubur.
Perjalanan Panjang Menuju Panggung Dunia
Profesor Haryanto, nama yang kini akrab di telinga komunitas katalisis internasional, mengisahkan bagaimana ia dulu harus berjuang sendiri di laboratorium kecil di Universitas Gadjah Mada pada era 1990-an. "Waktu itu mahasiswa doktoral saya hanya dua orang," kenangnya, suaranya bergetar menahan emosi. "Kami melakukan riset katalis untuk konversi biomassa menjadi bahan bakar hanya bermodalkan peralatan seadanya. Saya bermimpi suatu hari Indonesia bisa menjadi pusat diskusi para ahli dunia, tapi dana selalu menjadi tembok besar."
Ia sempat putus asa. Namun kolaborasi internasional yang ia rintis perlahan membuahkan hasil. Risetnya tentang katalis heterogen untuk energi terbarukan menarik perhatian peneliti di Jerman, Jepang, dan Australia. Jejaring itu yang kemudian menjadi fondasi saat ia menggagas konferensi ini bersama generasi muda. Bersama Dr. Retno Kusumastuti, mantan mahasiswanya yang kini menjadi dosen dan peneliti di UNS, ia menyusun kembali proposal, mencari sponsor, dan meyakinkan pemerintah daerah. IndoCat bukan lagi ilusi.
Solo, Persimpangan Ilmu Lintas Benua
Suasana di Solo Paragon Hotel pada Selasa pagi itu begitu semarak. Bendera sepuluh negara berkibar di pintu masuk—merah putih Indonesia, Hinomaru Jepang, Union Jack Inggris, hingga bendera Brasil dan Arab Saudi. Di dalam ballroom, para peneliti bertukar senyum dan jabat tangan. Profesor Kenji Tanaka dari Tokyo Institute of Technology, yang telah mengenal Haryanto selama 15 tahun, datang membawa hasil riset terbaru tentang katalis berbasis zeolit alam. "Saya tidak bisa menolak undangan ini," katanya dalam bahasa Inggris yang kental aksen Jepang. "Katalisis adalah jembatan yang menyatukan kita semua, dari negara maju hingga negara berkembang. Dan saya bangga melihat Indonesia kini memegang kendali di persimpangan itu."
Di sesi pertama, Dr. Maria Schneider dari Max Planck Institute, Jerman, memukau peserta dengan presentasi tentang katalis molekuler yang bisa menangkap karbon dioksida dari udara—riset yang sangat relevan di tengah krisis iklim. Ia mengaku terkesan dengan semangat kolaboratif yang dibangun oleh panitia. "Biasanya konferensi internasional di Eropa atau Amerika terasa kaku dan kompetitif. Tapi di sini, saya merasakan kehangatan kekeluargaan yang sangat Indonesia," ujarnya, diiringi tepuk tangan meriah.
Tak hanya pakar senior, konferensi ini juga mempertemukan peneliti muda. Ada cerita tentang Ahmad, mahasiswa doktoral dari Universitas Indonesia, yang mempresentasikan poster risetnya di sela-sela sesi utama. Dengan suara gugup, ia menjelaskan tentang katalis dari limbah cangkang telur untuk produksi biodiesel. Seorang profesor dari Korea Selatan berhenti di depan posternya, bertanya panjang lebar, dan akhirnya mengajaknya berkolaborasi dalam proyek bersama. Air mata haru tak bisa ia bendung. "Saya hanya anak dari desa yang ingin membuktikan bahwa riset sederhana bisa berdampak. Momen ini sangat mengharukan bagi saya," katanya, suaranya terbata.
Katalisator Harapan Bagi Bumi Pertiwi
Di balik layar, kisah perjuangan membangun konferensi ini menyimpan kemelut tersendiri. Dr. Retno mengisahkan betapa sulitnya meyakinkan sponsor swasta untuk mendanai acara yang dianggap "terlalu akademis". "Banyak yang bilang, buat apa mengundang peneliti asing ke Solo? Toh hasil riset tidak langsung jadi uang," ujarnya. Tim kecil hanya berjumlah tujuh orang, bekerja tanpa lelah selama dua tahun. Mereka membangun situs web, mengelola abstrak, mencari reviewer internasional, hingga mengatur akomodasi dan transportasi para pembicara kunci. Semuanya dilakukan dengan dana terbatas dan semangat membara.
Ketika akhirnya konferensi ini dihadiri lebih dari 300 peserta dari 10 negara—Jepang, Jerman, Australia, Korea Selatan, Belanda, Inggris, Amerika Serikat, Malaysia, Arab Saudi, dan Indonesia sendiri—Retno tak kuasa menahan tangis di belakang panggung. "Ini bukan sekadar pertemuan ilmiah," katanya dengan suara bergetar. "Ini tentang bagaimana ilmu pengetahuan bisa menyeberang batas dan menyentuh kehidupan masyarakat. Kami memulai dari nol, dari sebuah mimpi yang sederhana. Dan hari ini, dunia melihat bahwa Indonesia mampu."
Sesi penutupan diwarnai dengan pengumuman kolaborasi riset antara UNS dan University of Cambridge untuk pengembangan katalis hijau berbasis sumber daya alam Indonesia. Bagi Profesor Haryanto, ini adalah warisan terindah. "Saya tidak butuh medali atau piagam. Yang saya inginkan hanyalah ilmu ini terus hidup dan memberi manfaat. Konferensi ini bukan tentang saya, tapi tentang ribuan peneliti muda yang akan berkarya untuk negeri," ujarnya, matanya berkaca-kaca di hadapan peserta yang berdiri memberikan tepuk tangan panjang.
Di sudut ruangan yang sama tempat ia menyimpan tumpukan proposal usang, Profesor Haryanto kini menata foto-foto kenangan dari konferensi itu. Solo, kota yang tenang di tepi Bengawan, telah membuktikan bahwa dari kesederhanaan dan kegigihan, panggung dunia bisa dibangun. IndoCat 2026 bukan akhir, melainkan awal dari kebangkitan ilmu katalisis Indonesia—sebuah perjalanan yang kini tak akan berhenti, terus mengalir seperti Bengawan Solo yang abadi.
Baca juga:
Comments (0)