Kemeriahan Parade Budaya di CFD HI, Warga Terpukau oleh Tari Syrtos hingga Bandrong
Jakarta - Suasana hari bebas kendaraan bermotor (HBKB) di kawasan Bundaran Hotel Indonesia pada Minggu pagi ini terasa sangat berbeda. Car free day (CFD) yang biasanya hanya diisi oleh kegiatan olahr
Jakarta - Suasana hari bebas kendaraan bermotor (HBKB) di kawasan Bundaran Hotel Indonesia pada Minggu pagi ini terasa sangat berbeda. Car free day (CFD) yang biasanya hanya diisi oleh kegiatan olahraga dan rekreasi warga, kali ini dimeriahkan dengan parade budaya yang memukau dari ajang Jakarta World Folklore Festival (JWFF). Ribuan warga yang memadati Jalan MH Thamrin hingga Sudirman langsung berbondong-bondong menyaksikan iring-iringan peserta yang menampilkan tarian tradisional dari berbagai negara.
Iring-iringan Dimulai dari Patung Sudirman
Berdasarkan laporan tim media kami di lapangan, parade budaya ini dimulai dari kawasan Patung Sudirman dan bergerak perlahan menuju pusat keramaian di Bundaran HI. Para peserta yang berasal dari tujuh negara berjalan dengan penuh semangat sembari memperagakan gerakan-gerakan tarian khas negeri asal mereka. Sepanjang perjalanan, warga yang sedang berolahraga atau sekadar beristirahat di pinggir jalan langsung menghentikan aktivitasnya untuk mengabadikan momen langka ini dengan ponsel mereka.
Rute parade melewati beberapa titik strategis, termasuk kawasan Halte Tosari yang menjadi saksi bisu perpaduan budaya modern transportasi massal dengan warisan tradisi leluhur dari berbagai bangsa. Cuaca Jakarta yang cerah di musim kemarau menambah semarak acara internasional ini, membuat anak-anak hingga orang dewasa betah berlama-lama menyaksikan setiap penampilan.
Penampilan Memukau dari Wakil Yunani dan Indonesia
Salah satu penampil yang paling mencuri perhatian adalah delegasi dari Yunani yang membawakan Tari Syrtos. Tarian rakyat Yunani ini dibawakan dengan formasi berbaris dan gerakan kaki yang khas, membuat penonton yang menyaksikan langsung di depan Bundaran HI memberikan tepuk tangan meriah. Kostum tradisional berwarna cerah yang dikenakan penari semakin menambah daya tarik visual dari tarian tersebut.
Tidak mau kalah, perwakilan Indonesia yang berasal dari Cilegon, Banten, turut menghipnotis warga dengan Tari Bandrong. Tarian tradisional khas Banten ini sarat akan nilai filosofis dan dibawakan dengan gerakan yang dinamis, mencerminkan semangat masyarakat pesisir. Selain dua negara tersebut, iring-iringan juga menampilkan duta budaya dari Filipina, Rusia, Romania, Polandia, hingga Korea Selatan, menjadikan kawasan Sudirman-Thamrin bagaikan panggung diplomasi budaya internasional.
Antusiasme warga terlihat jelas dari padatnya kerumunan yang terbentuk di beberapa titik, terutama saat para penari mulai menyatu dengan irama musik dan mengajak penonton untuk ikut bergoyang bersama.
Acara ini tidak hanya menjadi hiburan gratis bagi warga ibu kota di akhir pekan, tetapi juga menjadi bukti bahwa ruang publik seperti CFD mampu menjadi ruang interaksi budaya yang inklusif. Senyum sumringah terpancar dari wajah para penonton, menandakan bahwa festival folklore ini berhasil menyentuh hati masyarakat lintas usia dan latar belakang.
Comments (0)