Kebayoran Baru — Belanda Gusur Ribuan Rumah Warga Betawi demi Pemukiman Elite
Di bawah langit Jakarta yang mulai berubah, Mpok Sarah (72) masih ingat betul suara ketukan pintu itu. Bukan tamu biasa yang datang pada suatu pagi di tahu
Di bawah langit Jakarta yang mulai berubah, Mpok Sarah (72) masih ingat betul suara ketukan pintu itu. Bukan tamu biasa yang datang pada suatu pagi di tahun 1948, melainkan petugas NICA berseragam rapi dengan secarik kertas perintah penggusuran di tangan. "Katanya, tanah kami mau dibangun rumah-rumah bagus untuk orang-orang penting," kenangnya lirih, matanya menerawang ke masa yang telah lama berlalu. "Padahal kami sudah di situ sejak buyut kami masih hidup."
Kebayoran Baru, kawasan yang kini dikenal sebagai permukiman elite di selatan Jakarta, menyimpan kisah pilu yang jarang diceritakan. Di balik gemerlapnya, tersembunyi sejarah penggusuran massal ribuan keluarga Betawi asli yang telah mengakar di tanah itu sejak abad ke-18. Pada masa Netherlands Indies Civil Administration (NICA) kembali menguasai Indonesia pasca-Perang Dunia II, pemerintah kolonial Belanda merancang sebuah proyek ambisius: membangun kawasan hunian modern untuk pejabat dan warga Eropa berpenghasilan tinggi.
Sembako Manis, Penggusuran Pahit
Menariknya, strategi Belanda tidak melulu soal kekerasan. Sejarawan mencatat bahwa NICA secara rutin membagikan sembako kepada penduduk lokal sebagai bagian dari upaya merebut hati mereka. Warga yang dianggap berpenghasilan tinggi—berdasarkan catatan pembayaran pajak—mendapatkan prioritas. Namun ironisnya, warga Betawi yang justru telah turun-temurun menggarap tanah tersebut tidak masuk dalam kategori yang "diuntungkan". Mereka hanya dianggap sebagai penghuni liar di atas tanah yang kini diklaim negara.
"Bapak saya pernah cerita, mereka dikasih beras, gula, sama kain. Rasanya senang, dikira Belanda baik. Eh, seminggu kemudian rumah kami disuruh bongkar sendiri," kata Ahmad Fadli (58), generasi ketiga dari keluarga Betawi yang terusir.
Proyek Kebayoran Baru dimulai pada 1948 dengan skala masif. Pemerintah kolonial mengincar lahan seluas lebih dari 700 hektare—membentang dari kawasan yang kini kita kenal sebagai Blok M hingga ke area sekitar Cipete. Ribuan rumah panggung khas Betawi, lengkap dengan pohon-pohon buah yang telah berbuah untuk beberapa generasi, rata dengan tanah hanya dalam hitungan bulan.
Janji Ganti Rugi yang Tak Kunjung Terealisasi
Belanda memang menjanjikan kompensasi berupa ganti rugi lahan dan relokasi ke wilayah baru. Namun dalam praktiknya, janji itu seringkali hanya tinggal janji. Sebagian kecil warga yang memiliki dokumen kepemilikan—sesuatu yang langka di masyarakat agraris saat itu—menerima sejumlah kecil uang. Tetapi mayoritas besar hanya menerima surat perintah pengosongan.
Warga Betawi yang terusir kemudian menyebar ke pinggiran Jakarta: ke arah Pasar Minggu, Lenteng Agung, Ciputat, hingga Pondok Cabe. Mereka membangun ulang kehidupan dari nol, meninggalkan tanah leluhur yang kini berdiri megah rumah-rumah bergaya kolonial modern dengan halaman luas.
"Yang paling sakit bukan kehilangan rumahnya. Tapi kehilangan babad—sejarah keluarga kami. Makam kakek buyut sampai sekarang entah di mana, mungkin sudah jadi garasi mobil mewah," ujar Nasir (65), seorang sesepuh komunitas Betawi di Pondok Cabe.
Warisan Urban yang Terus Berlanjut
Ironi sejarah ini terus bergema hingga era modern. Kebayoran Baru kini menjadi salah satu kawasan paling prestisius di Jakarta, dengan harga tanah yang mencapai puluhan juta per meter persegi. Sementara itu, keturunan warga Betawi yang digusur banyak yang masih berjuang dengan akses perumahan layak di pinggiran kota. Mereka menjadi "orang asing" di tanah sendiri, terpinggirkan oleh arus urbanisasi dan gentrifikasi yang seolah tak pernah berhenti.
Kisah Kebayoran Baru adalah pengingat bahwa di balik tata kota yang rapi dan real estate yang berkilau, selalu ada cerita tentang manusia-manusia yang harus menyingkir. Bagi Mpok Sarah dan generasinya, rumah bukan sekadar bangunan—melainkan akar, identitas, dan warisan yang kini hanya bisa dikenang dalam cerita-cerita sebelum tidur kepada cucu-cucu mereka.
"Saya sudah tidak marah lagi, sudah tua. Tapi saya cuma pengin anak-anak muda Betawi tahu sejarah ini. Biar mereka ngerti kenapa banyak orang Betawi yang sekarang rasanya kayak tidak punya kampung," pungkas Mpok Sarah.
Comments (0)