Irjen Pol. Pipit Rismanto: Profil dan Kinerja Kapolda Kalimantan Barat

Irjen Pol. Pipit Rismanto: Profil dan Kinerja Kapolda Kalimantan Barat

Jul 12, 2026 - 10:42
Updated: 2 hours ago
0 0
Irjen Pol. Pipit Rismanto: Profil dan Kinerja Kapolda Kalimantan Barat

Subuh di Pontianak belum sepenuhnya terang ketika sebuah perahu ketek menyusuri Sungai Kapuas. Di atasnya, seorang lelaki berbaju safari duduk di antara tumpukan sembako dan beberapa dus buku tulis. Matanya menerawang ke tepian, mengamati rumah-rumah panggung yang bertengger di atas air. Ia bukan pedagang, bukan pula pegawai sosial biasa. Dialah Inspektur Jenderal Polisi Pipit Rismanto, Kepala Kepolisian Daerah Kalimantan Barat, yang memilih memulai hari dengan menyapa warga di jantung sungai terpanjang di Indonesia itu.

"Kalau cuma duduk di ruangan, saya tidak akan pernah mengerti apa yang sebenarnya dirasakan masyarakat di sini," ujarnya suatu kali, dengan intonasi rendah namun tegas. Kalimat itu bukan sekadar basa-basi pejabat. Ia mewakili sebuah filosofi kepemimpinan yang ingin dibangun oleh jenderal bintang dua kelahiran Klaten, Jawa Tengah, ini: hadir, mendengar, dan bertindak langsung.

Perjalanan Seorang "Polisi Ladang"

Pria yang kini memegang tampuk pimpinan Polda Kalbar sejak akhir 2024 ini membawa narasi berbeda dalam tubuh Polri. Alumnus Akademi Kepolisian 1991 ini tidak melesat dari zona nyaman kota-kota besar. Catatan dinasnya justru diwarnai petualangan di daerah-daerah yang oleh banyak orang dianggap "daerah hukuman": Poso, Papua, hingga perbatasan Kalimantan. Ia adalah tipikal perwira lapangan yang ditempa oleh realitas konflik sosial, terorisme, dan problematika kultural.

Sebelum dipercaya memimpin Polda Kalbar, Pipit menempati pos strategis sebagai Widyaiswara Kepolisian Utama TK II Sespim Lemdiklat Polri. Artinya, ia juga seorang pendidik yang paham betul bagaimana mencetak polisi-polisi masa depan. Kombinasi pengalaman operasional dan akademis ini yang membentuk gaya kepemimpinannya yang tenang tapi penuh kalkulasi. Di Korbrimob, ia menghabiskan bertahun-tahun menangani penanganan konflik dan terorisme, termasuk saat menjabat sebagai Dansatgas Tinombala, operasi besar memburu kelompok teroris di pegunungan Poso.

Jejak kariernya panjang dan berliku. Dari komandan lapangan di brimob, Kapolres di beberapa wilayah rawan, hingga analis kebijakan di bidang keamanan. Salah satu penugasan yang membentuk karakternya adalah saat bertugas di Papua. Di sana ia belajar bahwa pendekatan represif harus menjadi opsi pamungkas. Makan sirih bersama tetua adat dan berdiskusi di honai justru lebih efektif meredakan ketegangan daripada moncong senjata.

Ngopi di Gardu, Mendengar di Gang Sempit

Kepemimpinan Pipit di Kalimantan Barat bergerak dalam senyap. Tidak banyak jargon berapi-api. Program unggulannya bersahaja: memperkuat Polisi RW hingga ke tingkat yang paling granular, serta menggencarkan patroli malam berbasis komunitas yang diberi nama "Sambang Kamtibmas Berkah". Konsep ini sederhana namun berakar: setiap hari, anggota kepolisian dari level polsek hingga polres wajib berkeliling, mampir ke gardu ronda, warung kopi, atau sekadar duduk di emperan rumah warga. Bukan untuk mencari laporan kejahatan, melainkan untuk membangun kepercayaan.

Kenakalan remaja, peredaran narkoba, dan isu pekerja migran ilegal menjadi fokus Pipit di tahun pertamanya. Secara khusus, ia memberi perhatian pada akar masalah: kemiskinan dan rasa ketidakadilan. Maka lahirlah inisiatif "Markas Bahagia", sebuah program di mana polres-polres menyulap sebagian ruangannya menjadi ruang belajar dan bermain bagi anak-anak yang putus sekolah atau terancam menjadi kurir narkoba oleh sindikat.

"Jika kita tidak merebut hati anak-anak ini, maka di situlah mereka akan direbut oleh kejahatan. Ini soal masa depan Kalbar, bukan sekadar soal statistik kriminal," kata Pipit dalam salah satu kunjungannya ke Markas Bahagia di wilayah Pontianak Utara.

Di sektor perbatasan, pendekatan humanis ini juga ia bawa. Kalimantan Barat memiliki garis perbatasan yang panjang dengan Malaysia, yang sering kali menjadi jalur penyelundupan. Namun bagi Pipit, aparat di perbatasan tidak bisa hanya berperan sebagai penjaga gerbang. Mereka harus menjadi duta bangsa yang membawa solusi ekonomi. Di bawah komandonya, Polda Kalbar aktif menggandeng instansi kehukuman dan perdagangan untuk memfasilitasi legalisasi dokumen para pekerja migran yang selama ini terkatung-katung di negeri orang.

Senyap tapi Pasti: Angka dan Pengakuan

Di luar sorotan media nasional, kinerja Polda Kalbar di bawah Pipit Rismanto menunjukkan tren yang konsisten. Survei kepuasan masyarakat terhadap Polri di wilayah Kalbar menunjukkan peningkatan, terutama dalam indikator kemudahan pelayanan dan rasa aman di ruang publik. Tingkat kejahatan konvensional mengalami penurunan yang stabil, sementara pengungkapan kasus narkoba justru meningkat signifikan — sebuah paradoks yang sehat: polisi lebih aktif memberantas, bukan berarti kejahatan lebih banyak.

Salah satu keberhasilan yang paling dibanggakan adalah pengamanan aktivitas ilegal di kawasan Taman Nasional dan wilayah konservasi. Kalimantan Barat adalah paru-paru dunia, dan Pipit memandang kejahatan lingkungan sebagai kejahatan luar biasa. Satuan tugas terpadu yang ia bentuk berhasil menggagalkan beberapa upaya penyelundupan kayu ilegal dan satwa dilindungi melalui jalur sungai. Bagi Pipit, menjaga alam Kalimantan adalah bagian dari ibadah profesi seorang polisi.

Matahari di Atas Khatulistiwa

Menjelang akhir pekan, seorang warga di pelosok Kapuas Hulu mungkin akan melihat lagi perahu sang Kapolda merapat. Tidak ada sirine, tidak ada pengawalan ketat. Hanya seorang lelaki paruh baya dengan senyum khasnya, turun membawa obat-obatan dan satu dua cerita dari kota. Di titik nol derajat khatulistiwa, di tengah belantara yang menjadi rumah bagi Dayak dan Melayu, Pipit Rismanto menemukan panggung kepemimpinannya yang paling otentik. Bukan di atas podium, melainkan di atas sampan kayu, di antara riak air Sungai Kapuas yang tenang. Dan dari sanalah ia berharap bisa meninggalkan warisan yang lebih kekal dari sekadar pangkat dan jabatan: sebuah rasa percaya bahwa polisi adalah bagian dari warga, bukan sekadar penjaganya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User