Jokowi Memulai Kembali Safari Politiknya, Berlabuh di Dermaga Lampung
Lampung — Di sebuah ruangan yang dipenuhi kader Partai Solidaritas Indonesia (PSI), suara itu kembali bergema. Bukan suara lantang seorang presiden yang du
Lampung — Di sebuah ruangan yang dipenuhi kader Partai Solidaritas Indonesia (PSI), suara itu kembali bergema. Bukan suara lantang seorang presiden yang dulu pernah memimpin negeri, melainkan suara rendah yang justru menciptakan keheningan. "Aku masih seperti yang dulu, masih orang kampung." Kalimat itu meluncur dari bibir Joko Widodo, bukan sebagai seorang negarawan yang telah dua periode menduduki kursi tertinggi, tetapi sebagai seorang pria yang seolah sedang bercermin pada awal perjalanannya. Bagi sebagian orang yang hadir, kalimat itu mungkin hanya retorika. Namun bagi yang mendengarkan lebih dalam, itu adalah pengingat halus bahwa dalam politik, tidak ada yang benar-benar berakhir.
Ini bukan sekadar kunjungan biasa. Lampung dipilihnya sebagai titik mula, seolah menjadi dermaga pertama tempat kapal yang telah lama berlabuh kembali menurunkan jangkarnya. Pilihan ini bukan tanpa arti. Di tanah Sumatra bagian selatan itu, jejak pembangunan era kepemimpinannya terlihat nyata, dari infrastruktur jalan trans-Sumatera hingga bendungan yang mengairi sawah-sawah warga. "Kami tidak melihat Pak Jokowi sebagai mantan presiden. Kami melihatnya sebagai bapak yang dulu datang ke sini ketika sawah kami masih kekeringan, lalu bendungan itu berdiri," ujar Margono (52), seorang petani yang setia mengikuti kabar idolanya. Margono mengaku tidak peduli dengan partai mana yang kini merangkul Jokowi. Baginya, yang penting adalah kehadiran fisik itu sendiri.
"Di desa kami, politik itu soal siapa yang masih mau mampir ketika Anda sudah tidak punya apa-apa lagi. Pak Jokowi masih mau mampir."
Kalimat "aku masih orang kampung" sejatinya adalah pisau bermata dua yang diayunkan dengan lihai oleh Jokowi. Di satu sisi, ia tengah membangun kembali persona lama yang begitu dicintai rakyat: sang pemimpin sederhana yang dekat dengan wong cilik. Di sisi lain, ini adalah deklarasi diplomatis bahwa meski baju dinas sudah tak lagi dikenakan, kemeja putih lengan panjang itu masih bisa dilipat dan dimasukkan ke dalam koper safari. Ia tak ingin dianggap pensiun dari gelanggang, karena politik memang tak pernah mengenal kata pensiun.
Safari ini akan berlanjut ke Nusa Tenggara Timur dan Jawa Barat. Dua daerah yang juga menjadi saksi bisu manis-pahit kepemimpinannya. NTT, dengan segala luka infrastruktur yang coba diobatinya lewat bendungan dan jalan lingkar. Jawa Barat, lumbung suara yang selalu menjadi medan pertempuran sengit bagi siapa pun yang ingin bertahan di orbit kekuasaan. Memilih PSI sebagai kendaraan pertama safari ini juga bukan langkah tanpa kalkulasi. Partai berlambang mawar itu, meski belum pernah sepenuhnya mekar di parlemen nasional, adalah rumah bagi pendukung fanatik Jokowi yang selama ini merasa kehilangan patron.
Politik adalah seni tentang keabadian. Seperti lagu lawas "Tak Ingin Sendiri" milik Dian Piesesha yang tiba-tiba relevan kembali, Jokowi sepertinya juga tak ingin sendiri. Tak ingin dilupakan. Tak ingin didorong ke pinggir panggung. Ia datang bukan hanya untuk merangkul PSI, tetapi untuk mengirim pesan pada para elite di Jakarta bahwa meski tak lagi berseragam partai tertentu, ia masih punya capital politik bernama rakyat. "Ini bukan tentang Pemilu yang akan datang. Ini tentang memastikan bahwa warisan saya tidak dibongkar begitu saja," ujar seorang sumber yang dekat dengan lingkaran Jokowi, berbicara dengan syarat anonimitas. "Safari ini adalah cara beliau menjaga marwah."
Di tengah sorotan PDIP yang menanggapinya dengan sinis dan permintaan agar sang mantan presiden membawa ijazah, serta PSI yang balik menyindir dengan nada nyaring, denyut nadi politik justru berdetak di tempat yang lebih sederhana. Di kedai-kedai kopi pinggir jalan Lampung, di mana warga biasa seperti Margono tidak peduli pada ijazah atau status keanggotaan partai. Mereka hanya peduli bahwa orang yang pernah mereka percayakan negeri ini masih menyebut dirinya "orang kampung". Sebuah kalimat sederhana yang, di tangan seorang pemain politik senior, bisa berarti awal dari perjalanan yang belum berakhir.
Comments (0)