Jakarta — Wamendagri Ribka Dorong Pemda Perkuat Kesejahteraan Guru
Gemuruh tepuk tangan ribuan guru memecah hening di Kompleks Parlemen Senayan, Kamis (9/7/2026). Di tengah lautan seragam khaki, seorang guru honorer dari p
Gemuruh tepuk tangan ribuan guru memecah hening di Kompleks Parlemen Senayan, Kamis (9/7/2026). Di tengah lautan seragam khaki, seorang guru honorer dari pelosok Nusa Tenggara Timur menitikkan air mata. Namanya Siti Nurhaliza, 34 tahun, yang telah 11 tahun mengabdi di SD Negeri Oenali, Kabupaten Timor Tengah Utara. Hari itu, ia mendengar langsung pesan Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Ribka Haluk yang menggetarkan hatinya: “Tidak ada cara lain selain kita tuntaskan masalah SDM pendidikan. Baik itu masalah penganggaran, maupun ekosistem pendidikan yang harus kita perbaiki dari hulu sampai hilir.”
Bagi Siti, kata-kata itu bukan sekadar retorika. Selama lebih dari satu dekade, ia menjalani hari-hari dengan honor Rp 500 ribu per bulan, mengajar 27 murid di kelas yang atapnya bocor saat hujan. “Saya sering bertanya, sampai kapan kami hanya dianggap sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Hari ini, saya merasa didengar,” ujarnya lirih, seusai mengikuti Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Guru dan Tenaga Kependidikan. Suara Siti mewakili ribuan guru honorer lain yang hadir, yang selama ini berada di garda terdepan pendidikan namun kerap terabaikan kesejahteraannya.
Dari Hulu ke Hilir: Ekosistem Pendidikan yang Belum Merata
Wamendagri Ribka Haluk dalam arahannya menekankan bahwa penguatan ekosistem pendidikan tak bisa setengah-setengah. Ia meminta seluruh jajaran Pemerintah Daerah (Pemda) untuk memprioritaskan alokasi anggaran pendidikan secara lebih terukur dan tepat sasaran. Menurutnya, kesenjangan kualitas pendidikan antara kota dan desa masih menjadi pekerjaan rumah besar bangsa ini.
“Ekosistem pendidikan bukan hanya ruang kelas. Ia mencakup kesejahteraan guru, fasilitas belajar yang layak, serta kurikulum yang relevan. Semua harus kita sentuh, dari hulu—kualitas pelatihan guru—hingga hilir, yakni hasil belajar anak-anak kita,”tegas Ribka, disambut anggukan hadirin.
Diakui atau tidak, masalah SDM pendidikan acap kali terhambat persoalan klasik: anggaran yang tumpang tindih dan birokrasi yang lamban. Ribka pun menyebut bahwa Pemda perlu segera menuntaskan persoalan penganggaran untuk peningkatan kesejahteraan guru, khususnya guru honorer dan tenaga kontrak. Sejumlah kepala daerah yang hadir dalam Rakornas menyatakan siap menindaklanjuti arahan tersebut.
Harapan yang Kini Membumi
Kisah Siti bukan kasus terisolasi. Berdasarkan data Kemendikbud, lebih dari 60 persen guru honorer di Indonesia masih menerima penghasilan di bawah Upah Minimum Provinsi (UMP). Kondisi ini tak pelak memengaruhi motivasi dan kualitas pengajaran. “Kalau perut lapar, bagaimana bisa mendidik dengan hati?” tanya Siti retoris.
Namun, semangat di Rakornas kali ini berbeda. Beberapa guru dari berbagai daerah saling berbagi cerita tentang program pelatihan gratis yang mulai mereka dapatkan, serta janji peningkatan honor dan status kepegawaian. Salah satunya Yohanes Mboro, guru SMP di Kabupaten Sumba Barat, mengaku optimistis setelah mendengar komitmen pemerintah. “Kami hanya butuh kepastian. Jika kesejahteraan terjamin, kami bisa fokus mencerdaskan anak bangsa tanpa harus mencari sampingan jadi tukang ojek atau buruh tani,” ungkapnya.
Arahan Wamendagri Ribka pun menjadi angin segar bagi para pemangku kepentingan di daerah. Berikut poin-poin utama yang ia sampaikan:
- Peningkatan alokasi APBD untuk tunjangan dan insentif guru daerah terpencil.
- Perbaikan sarana dan prasarana sekolah di tingkat kabupaten/kota secara bertahap.
- Sinergi antar dinas pendidikan untuk membangun ekosistem pelatihan guru berkelanjutan.
- Transparansi pengelolaan dana BOS agar tepat sasaran dan bebas kebocoran.
Seusai acara, Siti berjalan keluar ruang sidang dengan mata yang sedikit bengkak—bukan lagi karena tangis haru, melainkan karena secercah harapan. “Saya pulang membawa janji, bukan sekadar janji politik, tapi semangat bahwa negara ini benar-benar peduli pada kami,” katanya sambil menggenggam erat lembar catatan kecil berwarna kuning.
Pesan Wamendagri Ribka Haluk sederhana namun menusuk: pendidikan tak akan maju jika orang-orang yang berdiri di depan kelas masih bergelut dengan ketidakpastian hidup. Kini, bola berada di tangan setiap Pemda untuk mewujudkan ekosistem pendidikan yang manusiawi—dari hulu sampai hilir.
Comments (0)